Ketika Hidup Terasa Hambar

Ibu Ali setiap hari memasak sup ayam. Ia tahu anaknya, Ali, sangat menyukai sup ayam buatan ibunya. Ali selalu makan sup ayam buatan ibunya sampai habis, bahkan kadang sampai menambah dua sampai tiga kali. Sehari, dua hari, sebulan, dua bulan berlalu. Ali berkata,

“Supnya hambar, Bu. Aku bosan!” Ia merengut

“Betulkah begitu, Ali? Ibu selalu memasaknya dengan takaran garam dan bumbu yang sama” Jawab ibunya cemas.

Mulai hari itu, Ali jadi tak bersemangat untuk memakan sup ayam buatan ibunya. Sup Ayam sang Ibu kini tak pernah habis, selalu tersisa di meja makan. Terkadang sampai basi dan rasanya asam.

Cerita Ali memberi kita informasi bahwa tabiat manusia memang seperti itu. Cepat bosan dan cepat lupa terhadap nikmat. Bukan garam dan bumbunya yang membuat sup itu hambar, tapi kita-lah yang membuat sup ayam itu menjadi hambar, menjadi membosankan.

“They are grateful…”

Hanya itu kunci untuk menjadikan hidup kita tak menjadi hambar lagi seperti sup ayam yang dirasakan Ali. Bukan ‘a thing’nya yang harus diperbaiki tapi kita-nya yang harus berefleski kembali. Seperti yang pernah saya tulis di sebuah tulisan, kita sering lupa terhadap nikmat yang Allah berikan mengenai kesehatan kita, apa yang ada di sekitar kita. Kita lupa bersyukur atas nikmat ketika matahari terus berputar pada porosnya dan kita masih bisa merasakan hangatnya mentari karena sudah ‘bosan’ dan cepat lupa terhadap nikmat-Nya. Kita lupa mengucapkan a single word setiap harinya –> “Thank You, Allah” atau “I am so grateful” atau “Alhamdulillah”.

Bagaimana solusinya agar tidak cepat bosan dan cepat lupa terhadap nikmat? Hanya satu : Pandai bersyukur, Ran.

Bersyukur atas hadirnya Ibu setiap pagi yang menyuguhkan makanan dan minuman hangat. Bagaimana kalau kita tak bisa merasakan itu lagi? Masih bisa tersenyumkah?
Bersyukur atas hadirnya orang-orang yang kita cintai dan selalu ada untuk kita. Tatap dan perhatikanlah.
Bersyukur atas kehadiran Ayah yang selalu bekerja keras untuk menghidupi kita. Hargai setiap jerih payahnya. Berterimakasihlah.
Bersyukur atas matahari yang selalu terbit, tidak membakar dan tidak pula redup. Tatap dan perhatikanlah.
Bersyukur masih diberikan kesempatan berdoa kepada-Nya. Kadang syukur pula harus dikomunikasikan, ucap ‘terimakasih’ walau sudah beribu kali harus diulang. Melalui itu, kita-nya yang bisa jadi pandai bersyukur.

Bukan “the thing”-nya yang berubah atau berbeda tapi kita… Kita yang harus pandai mensyukurinya.. Kita yang harus pandai mengingatnya, mengingat nikmat dan segala kebaikan ataupun musibah yang menimpa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s