Tahun Peralihan (1)

Dalam hidup, pasti ada banyak titik-titik yang menjadi batu loncatan seorang manusia. Titik-titik ini kadang memang direncanakan, tersusun sesuai rencana, ada yang tak terduga-duga datangnya darimana, ada pula yang direncanakan pihak lain. Semua titik-titik itu pastinya sudah tertulis terlebih dahulu di lauhul mahfuuz. Tempat dimana setiap musibah dan kesenangan, rezeki, jodoh dan takdir Allah yang lain dituliskan.

2015. Boleh jadi adalah tahun peralihan bagi saya. Tahun dimana Allah memberi lebih banyak memperlihatkan pelajaran hidup lebih banyak. Pelajaran yang paling kentara yang Allah berikan terhadap saya sejak awal tahun adalah…

  1. Dalam berbuat apapun, harus meluruskan niat lagi, lagi, dan lagi

Awalnya memang ingin berbuat baik, lama kelamaan ingin diketahui, ingin amalnya didengar, dan lain-lain. Banyak dari kita, mungkin saya sendiri masih ada benih-benih seperti ini. Dilihat, dipandang, dan sebagainya. Amal-amalnya pun bisa berbentuk apapun, senyuman, perbuatan, nasihat, prestasi dunia, ibadah, atau apapun. Jika niat sudah berlarian seperti kuda liar yang lepas dari ikatan, maka sulit untuk menuai hasil keistiqomahannya. Jika tidak ada yang mendengar amalnya, jadi malas beramal. Jika tidak ada yang memandang kita, enggan berbuat . Kalau kata ustadz saya, Allah mengukur amal kita dari kepayahan kita, bukan seberapa besar hasilnya. Kepayahan disini bisa jadi kepayahan dalam memperjuangkannya, karena kejernihan hati kita untuk berbuat kebaikan.

2. “Totalitas dan Jangan Menyerah!” Belajar dari Tim Roots

Jika boleh saya menggambarkan tahun 2015, saya ingin menggambarkannya seperti sebuah trek roller coaster dimana ada ketenangan di awal, ketegangan, dan tantangan berkali-kali lipat di depannya. Awal tahun 2015 menjadi permulaan kejadian-kejadian menantang selama setahun ke depan. Diawali dengan pembelajaran dari sebuah kompetisi yang saya ikuti. Kompetisi tingkat internasional pertama yang saya ikuti, kalau kata orang, cukup sulit memenangkan tingkat regional. Dan memang betul, karena pesertanya rata-rata adalah pengusaha dan kebanyakan sedang menjalani program magister dari berbagai universitas tingkat dunia. Saya memang belum pernah mengikuti perlombaan sebesar ini, konferensi tingkat dunia pun belum pernah. Jadi ini kali pertama saya berbicara asing di negeri asing dan masih perlu improvisasi sana-sini. Oke, bahasan poin ini bukan tentang saya, tapi tentang sebuah tim, yang mengajarkan saya untuk tidak menyerah dan totalitas dan tuntas dalam mencapai tujuan.

Adalah tim Roots, yang terdiri dari empat orang asing dari berbeda negara, tiga laki-laki dan seorang perempuan. Ketiga laki-laki itu berasal dari Meksiko, dan Annung Chen, satu-satunya perempuan yang ada di tim tersebut adalah mahasiswi asal Taiwan. Dan saya hanya sempat berkenalan dengan Annung Chen ini di sela-sela waktu makan siang.

Tim saya yang terdiri saya dan teman saya dari Farmasi, memilih Dubai sebagai destinasi pertarungan kami dengan tim-tim lain dari seluruh dunia. Hal tersebut adalah atas pertimbangan mentor kami. Awalnya kami ingin mengambil kota lain di belahan benua lain sebagai arena pertarungan kami. Tapi akhirnya kami memilih Dubai. Allah memilihkan saya bertarung di Dubai dan menakdirkan saya berkenalan dengan juara dunia Hult Prize tahun 2016 — tim Roots.

Di regional Dubai, sekitar 250 manusia bertarung untuk merebut 5 kursi untuk menuju final. Minimal satu tim terdiri dari 3 orang yang artinya ada sekitar 80an tim yang merebut satu tiket menuju final. Dari 80an tim tersebut, dibagi menjadi enam ruangan. Masing-masing ruangan akan punya juara dan dipertarungkan hari itu juga, dari keenam petarung, akan dipilih satu untuk dimajukan ke babak final di New York, Amerika beberapa bulan mendatang. Qadarullah, saya mendapat ruangan yang sama dengan Roots. Di setiap ruangan, dibagi menjadi dua kloter. Presentasi Kloter A akan ditonton oleh kloter B, begitupun sebaliknya. Roots berada di kloter A, dan saya mendapat kesempatan berada di kloter B.

Pukul 08.00 pagi waktu Dubai, kloter A tampil. Tim saya menonton satu persatu hingga Roots tampil. Presentasinya sangat baik, sangat tertata, teratur, visual dan videonya sangat baik. Presenternya pun seperti sudah hafal di luar kepala, mengalir, dan menarik. Mereka pun memaparkan dalam pencarian isu-isu yang mereka angkat, mereka harus pergi ke beberapa negara berkembang. Niat banget. Ide teman-teman tim Roots memang tidak se-inovatif tim lain, tapi tim Roots punya sesuatu yang berbeda.

Apa sih sesuatu itu?

Nanti dulu.. Singkat cerita, karena sesuatu itulah, Roots terpilih mewakili ruangan kami untuk bertarung di presentasi enam besar sebelum maju ke babak final. Sore harinya, kami semua yang terdaftar di regional Dubai, pergi menuju sebuah gedung di kawasan Dubai Internet City (yang ngga ada tempat shalatnya samsek T.T) . Disanalah, Roots bertarung kembali dengan lima tim lain. Presentasi pun berlangsung, singkat cerita, tim Roots kalah dalam presentasi tersebut. (Loh kok?) Pemenang yang berhak maju ke babak final adalah teman-teman dari universitas Kanada, yang anggota timnya kebanyakan adalah teman-teman yang asalnya dari Mesir. Memang disinilah saya melihat para juri lebih memilih ide ketimbang aspek lain. Ide dari teman-teman Kanada sungguh brilian, inovatif, belum ada sepertinya di dunia — kartu yang bisa berbicara. Pantas saja mereka mendapatkan kursi kehormatan untuk maju ke final.

Saya melihat jelas raut kekecewaan di wajah salah satu presenter utama tim Roots, namanya Andres Escobar kalau tidak salah. Sepertinya ia yang paling banyak berlatih untuk presentasi ini karena memang ia yang paling banyak berbicara.

Lepas pertandingan ini, ternyata masih ada kesempatan para tim dari seluruh regional untuk memanfaatkan kesempatan menuju final melalui kompetisi online. Sayang, saya harus menyelesaikan skripsi saya dan tidak keburu mengikuti kompetisi online-nya.

Waktu pun berlalu. Saya sempat lirik-lirik Instagram tim Roots dan sempat beberapa kali melihat info mengenai kompetisi online tersebut yang sedang mereka ikuti. Beberapa kampanye masuk ke dalam timeline Facebook saya dari teman-teman tim Roots. Saya sempat melihat video kampanye mereka dan jadi tau mengapa Roots layak menjadi juaranya.

Yap, they deserve to be the winner. Saya tidak tahu apa intention mereka untuk menang, saya hanya ingin merefleksi keadaan saya dan bagaimana saya berjuang dalam menuju tujuan. Dari Roots, kita tahu, proses lah yang menentukan, sejauh apa dan sepayah apa kita berusaha, mengenai hasil, biar Allah yang menentukan. (sudut pandang saya) . Bayangkan saja untuk tampil, tim Roots sampai 50 kali berlatih pitching ide mereka. Juara dunia lain mengajarkan untuk berlatih pitching sampai 100 kali. Mereka benar-benar serius dengan tujuan dan ambisinya. Siang malam bekerja untuk menuju final. Hmm.. saya tidak mampu menggambarkannya, coba liat saja videonya, dan saya jadi terdiam dibuatnya..

Dan akhirnya, teman-teman Roots berhasil masuk final lewat jalur kompetisi online dan justru menjadi juaranya! Mengalahkan teman-teman lain yang memang sudah brilian ide dan lebih matang persiapannya.

Adapun hikmah di balik kesuksesan Roots adalah setiap umat muslim, yang setiap melakukan apapun adalah berlandaskan Allah, seharusnya bisa berbuat jauh diatas yang lainnya.  Bukan seperti teman-teman di negeri barat yang, maaf, mungkin banyak yang mati-matian bekerja profesional dan matia-matian, terorganisir sedemikian rupa, tidak mudah menyerah hanya untuk materi atau hal-hal duniawi. Sekali lagi, ini nasihat untuk saya, berkaca pada diri sebagai seorang muslim, umat terbaik, kata Allah dalam Quran. Adalah akhirat yang kita tuju, bukan dunia saja. Seharusnya ini cukup untuk membuat kita selalu berdaya dan bisa berpayah-payah dalam setiap jengkal kebaikan yang kita lakukan. Apapun itu, sebagai sebuah individu maupun sebuah kelompok dalam organisasi maupun masyarakat. Selama itu untuk akhirat, seharusnya kita bisa memberikan yang terbaik. (Ya Allah ini untuk saya banget.. :’D)

Maka, belajar dari kebangkitan Roots dari jatuhnya,kita bisa mengambil hikmah. Belajar dari kesungguhan Roots bahkan sebelum maju ke Dubai, kita bisa mengambil hikmah. Belajar dari kenekatan, kegigihan dan kesungguhan Roots, kita bisa mengambil hikmah. Mereka tidak menyepelekan kompetisi online tadi sebagai jalur menuju final.

Tentang putus asa dan optimisme, Fathi Yakan dalam Buku ‘Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah’,

“Putus asa adalah salah satu faktor penyebab kehancuran dalam kehidupan individu dan jamaah. Karena itu keputusasaan tidak boleh disebut sebagai kebijaksanaan, dan optimisme tidak boleh dianggap sebagai kedunguan serta kenekatan. Juga, tidak boleh melarutkan optimisme dalam luapan emosi, tetapi harus diselaraskan dengan akal pikiran dan perencanaan.”

Allahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s