Bunda

Lusa adalah keberangkatan pertamaku ke luar negeri. Jauh. Perjalanannya memakan waktu lebih dari sepuluh jam. Aku akan transit di Singapura dan bermalam disana untuk melanjutkan kembali penerbangan menuju Prague. Tapi siang ini aku bahkan belum menyiapkan baju atau apapun untuk keperluanku disana.

Tiba-tiba saja kepalaku pusing, mendadak berat. Rasanya ingin tidur.

“Ayah, aku pusing, kepalaku berat..” keluhku pada Ayah siang itu.

“Mungkin kamu kurang tidur karena terlalu banyak begadang..” Jawabnya datar, membuatku sedikit lega.

Aku tidur saja siang itu, tapi beberapa jam kemudian saat matahari mulai memerah, tubuhku mulai kedinginan. Aku menggigil hebat. Sampai-sampai bibirku gemetar. Aku minta bunda yang saat itu ada di kamar untuk menyelimutiku.

Allah, ternyata apa yang aku takuti telah terjadi..

“Bunda, aku takut nggak jadi berangkat, aku belum tuntas dengan presentasiku, besok harusnya aku bertemu mentorku.” Aku makin pusing ketika mengatakan hal itu.

“Kamu, nih pake sakit segala, panas juga. Gimana nanti kamu di Prague? Dokter mahal pula dan gak tau keadaan disana”

“Bunda, kemarin di sekitar kosanku ada yang terkena DBD, jangan-jangan aku DB, Bun..” Aku mulai khawatir.

Allah, apakah takdirku bukan untuk pergi? Ah, itu terserah Allah..

“Yaudah, besok pagi kita langsung cek darah kamu, Bunda takut kamu kenapa-kenapa.. kita nggak tau nanti kamu gimana di Prague”

Ya Allah, Bunda ini satu-satunya orang paling perhatian di dunia. Alhamdulillah, Engkau beri bunda yang super sigap.

“Ada pengecekan DBD yang hasilnya bisa keluar di awal-awal, namanya NS1 Dengue, nanti kamu cek pakai itu ya, memang agak mahal tapi Bunda harus tau kondisi kamu.”

Ya Allah, makin bersyukur Bunda adalah orang yang paham kesehatan, selalu sigap disaat aku sakit

Esok pagi demamku belum kunjung mereda, alhamdulillah aku tak lagi menggigil. Bunda langsung mengantar ke laboratorium untuk pengecekan NS1 Dengue. Bunda tak masuk kerja karena harus mengantarku ke lab. Mbak-mbak frontline lab itu memberi tahu kami agar kami kembali lagi 3 jam lagi untuk pengecekan darah. Aku segera meminta mbak itu agar memberitau kami via email agar mobilisasi kami tidak ribet. Mbak itu setuju.

Sudah tiga jam berlalu, belum ada email masuk. Panasku sudah turun. Suhu tubuhku mulai normal, tapi tetap saja aku harus waspada. Di sela-sela menunggu, aku sudah pasrah dengan ketentuan Allah. Jika aku positif DBD, aku harus tinggal dan membatalkan semua perjalanan bahkan presentasi yang sangat penting itu.

Pasti ada hikmah dibalik ini semua…

ADA EMAIL MASUK!

Aku buru-buru membuka, mendownload berkasnya…

Allah menakdirkan aku untuk berangkat, alhamdulillah… apapun keputusannya tetap alhamdulillah. Aku negatif DBD.

Bunda dan Ayah bersyukur akhirnya aku bisa tetap melanjutkan kegiatanku besok ke Prague.

Bunda tak masuk kerja lagi pada hari keberangkatanku. Bahkan bunda mengantarku, kami naik bis sampai bandara. Waktu keberangkatan semakin dekat, bunda pulang sendiri ke rumah.

Cerita indah dalam episode hidupku bertambah. Ini hikmah Allah yang tak akan aku lupa, biidznillah..

Mungkin Allah ingin menunjukkan, siapa manusia yang paling peduli padaku, pada hidupku di dunia hingga akhirat nanti. Bunda… aku tak tahu harus membalas bunda dengan apa. Aku berharap bisa menjadi pemberat amalmu, menjadi pengantarmu menuju surga-Nya.

Bunda… maaf bunda, di sela waktuku bersamamu kini, harusnya kugunakan sebaik mungkin untuk bermanfaat untukmu, berbakti padamu. Tapi aku sering lupa, Bunda untuk memberi yang terbaik.

Allah terimakasih, karena telah memilih bunda sebagai bundaku.

Falakal hamdu, Ya Allah

Singapura, 10 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s