C E M B U R U – Buya Hamka

GHIRAH (CEMBURU)
Oleh Prof.Dr.Hamka, 1954

Saya teringat pada tahun 1938 suatu kejadian yang sedih dan seram di Medan. Seorang pemuda membunuh pemuda lain yang berbuat jahat (serong) dengan saudara perempuannya. Pemuda pembunuh itu dihukum 15 tahun penjara.

Ketika hukuman jatuh, sedikit pun tidak kelihatan tanda penyesalan di wajahnya. Dia terima hukuman itu dengan tenang dan senyum. Baginya hukuman buang 15 tahun karena mempertahankan kehormatan keluarga bukanlah suatu kehinaan. Malahan kalau sekiranya saudara perempuannya diganggu orang lalu didiamkannya saja itulah dia kehinaan. Meskipun dia hidup 15 tahun lagi sesudah itu, tidaklah ada harganya. Meskipun dia lepas bebas dalam masyarakat 15 tahun tidaklah ada artinya, serupa saja artinya dengan menjadi orang buangan. Malahan lebih hina dari itu.

Dengan hukuman 15 tahun yang dijalaninya itulah dia merasa dirinya berharga.

Tahun 1938 itu juga ada suatu kejadian lagi. Seorang Ibu di Tapanuli Selatan (Mandailing) membawa anak perempuannya mandi di sungai Batang Gadis. Setelah selesai mandi dikeluarkannya pisau dari ikat pinggangnya, lalu ditikamnya anak itu dan disembelihnya.

Ketika ditanya polisi dijawabnya terus terang. Lebih baik anak itu mati daripada hidup memberi malu. Anak itu telah berintaian (berpacaran) dengan seorang laki-laki. Ibu itu kemudian dihukum. Namun tidak ada orang kampong yang menyalahkan dia.

Itulah yang dinamai “Syaraf”. Dan syaraf itu telah masuk ke dalam darah daging bangsa Indonesia.

Inilah yang dinamai oleh pemuda di Minangkabau:
“Arang tercoreng di kening. Malu tergaris di muka”.

Kalau rasa malu menimpa diri, tidak ada penebusnya kecuali nyawa.

Bangsa-bangsa Barat yang suka menyelidiki jiwa dan masyarakat Indonesia amatlah heran dan tercengang, mengapa orang Bugis – Makassar mudah sekali membunuh orang kalau kehormatannya tersinggung. Mereka tidak mengerti bagaimana besarnya pengaruh Ghirah pada orang Bugis.

Orang Madura pun demikian. Apabila seorang pemuda dibuang karena membunuh, menebus kehormatannya yang tersinggung, sampai dalam penjara dia merasa lebih mulia daripada teman sesame hukuman yang terbuang karena merampok dan menyamun. Dan bila dia telah dikeluarkan dari penjara dia belikan oleh keluarganya pakaian baru dan dia merasa bangga sebab dia telah menyelesaikan tugasnya membela kehormatan diri dan keluarganya.

Orang Banjar pun begitu pula. Suku ini terkenal “ganas” terhadap orang yang dibunuhnya karena malu dan syarafnya tersinggung. Sifat itu dimiliki oleh seluruh suku-suku bangsa kita. Orang Melayu terkenal dengan “amok”nya billa malunya juga tertebus. Bila malu itu telah ditebusnya dia datang kepada polisi menyerahkan diri dan bersedia menjalani hukuman apa pun yang dijatuhkan.

Oleh karena itu, maka anak-anak perempuan merasa dirinya dilindungi. Di Minangkabau anak-anak muda tidur di surau menjaga kampong. Seorang pemuda yang masih tidur di rumah ibu sangatlah dipandang janggal. Yang diutamakan ialah menjaga anak-anak gadis salam kampong agar jangan sampai ada “pagar makan tanaman”.

Bukanlah karena perempuan itu semata-mata mau dipingit. Pergaulan antara pemuda dan pemudi juga dibolehkan. Tetapi dalam batas-batas kesopanan.

Nenek moyang di Lampung dan Tapanuli serta daerah-daerah lainnya seperti di pesisir Minangkabau memberikan kesempatan mencari jodoh dengan “manjau” atau “martandang” atau pertemuan dalam perhelatan. Tapi jangan sekali-kali melanggar garis yang patut. Oleh sebab itu taka da pemuda-pemuda yang berani melanggar karena nyawa tebusannya.

Kalau ada persetujuan, sampaikan kepada orangtua. “Kalau bulat telah segolong, picak telah selayang” perkawinan dapat dilangsungkan. Itulah yang bernama Ghirah, yaitu menjaga syaraf diri.

Orang-orang tua memesankan kepada anak-anaknya menjaga syaraf dan menghidupkan ghirah. Jaga adikmu. Ingatlah segala yang memakai kutang dan berambut panjang adalah saudaramu dan ibumu.

Pengaruh Barat

Kian hari kian masuklah pengaruh pergaluan Barat ke dalam masyarakat kita. Mulanya dibebaskan pergaulan anak laki-laki dan anak perempuan. Maksudnya ialah pergaulan sopan. Pengaruh pergaulan Barat ini adalah sebagai reaksi terhadap tata cara pergaulan lama yang nampaknya sangat memingit anak perempuan.

Lima puluh tahun lalu orang takut memasukkan anak perempuannya ke sekolah. Dia takut anak itu akan pandai menulis surat percintaan kepada orang yang dicintainya. Sebab pada zaman itu orang tualah yang memikirkan siapa yang bakal jadi jodoh anak perempuannya.

Kian lama kian berobahlah corak masyarakat itu. Tadinya dibebaskan bergaul mulanya kikuk dan gugup, lama-lama sudah lebih bebas dan lepas. Terutama di kota-kota. Seiring dengan pergaulan yang bebas tadi, cepatlah matangnya karena pengaruh film-film Barat.

Tidak sah sebuah film kalau tidak ada adegan cium, maka timbullah model berbagai cium. Satu film melebihi film yang lain. Sehingga setiap malam yang terlihat dan terfikir ialah soal cium yang model-model itu. Bioskop dan panggung-panggung penuhlah. Kian banyak terpampang cium-ciuman dan buka paha, kian tertariklah anak-anak muda itu menontonnya.

Itu di zaman Belanda dulu.
Sesudah itu datanglah pancaroba lagi. Dimulai sejak zaman Jepang. Mulai terlihat gadis-gadis bekerja di kantor. Maksud Jepang waktu itu ialah memilih gadis-gadis cantik sebagai mainan serdadunya yang datang ke negeri ini. Oleh sebab itu yang laku dan diterima di kantor ialah gadis-gadis yang cantik. Tidak sedikit gadis-gadis yang rusak meskipun dia dari kalangan keluarga baik-baik.

Zaman Revolusi

Ribuan gadis-gadis kita turut berjuang di garis depan, bertugas di dalam dapur umum dan palang merah.

Setelah selesai Revolusi bersenjata, kantor-kantor pun dibuka dan sisa atau pusaka Jepang diteruskan. Gadis-gadis kota pun telah banyak yang bekerja di kantor. Setengahnya betul-betul bekerja demi mencari nafkah dan kedudukan seusai dengan ilmunya. Tapi tidak sedikit yang ke kantor mencari jodoh. Kalau dulu zaman “pingit” katanya sukar mencari jodoh, terbukti sekarang di zaman tidak ada pingit jodoh lebih sukar lagi.

Sewaktu hidup di kampong dapatlah orang lekas kawin sebab sawah lading ada yang menjamin. Kalau kurang dapat dibantu dengan harta keluarga. Sekarang perkawinan kian terasa menghambat.

Dahulu rata-rata seorang laki-laki kawin pada umur 20 tahun dan gadis umur 12 atau 16 tahun. Sekarang pemuda usia 25 tahun belum tentu bisa kawin dan perempuan pun 20 tahun sekarang belum tentu akan dapat jodoh.

(Catatan: Yang dimaksud sekarang oleh pengarang ialah sekitar tahun ditulisnya karangan ini. Tapi dasawarsa 1980 sekarang dimana sudah ada anjuran KB dan Undang-undang perkawinan pria baru boleh kawin justru setelah berumur 25 tahun dan wanita di atas 20 tahun).

Sekarang zaman merdeka. Kita mengenal di kalangan pemuda-pemuda terpelajar kata-kata “International Minded”. Yaitu pergaulan bertaraf internasional. Mesti pandai berdansa dan pandai berlapang dada dan jangan suka cemburu. Bebaskan anak perempuan menonton berdua dengan pacarnya. Bolehkan istri menerima tamu laki-laki temannya, meskipun suami tidak ada di rumah. Pandai menghadiri resepsi-resepsi dan bersalam-salaman antara laki-laki dan perempuan.

Apakah benar begitu yang namanya “International Minded”

Padahal orang India dan Pakistan belum pernah melepaskan pakaian ‘sarinya’ dan tampak mereka tidak terhalang dalam berhubungan dengan orang Barat dalam dunia Internasional. Walau Birma pun tidak kurang kemerdekaannya dari wanita Indonesia dan mereka tidak melepas sarungnya.

Penyakit kedua yang lebih mendalam ialah merasa diri terlalu terikat dengan yang dinamai kuno. Kalau kita ikuti teori Freud itulah yang dinamakan pengaruh ‘libido’. Pakaian Barat terutama mode yang dikeluarkan dari Paris empat kali setahun (musim panas, dingin, bunga, dan musim rontok) adalah lebih menampakkan rautan tubuh. Selain Paris ada pula mode yang setiap saat berganti oleh pembuat pakaian dari bintang-bintang film Hollywood.

Lihatlah gunting pakaian model minggu ini di bioskop yang dipakai Marilyn Monroe atau Ronda Flemming atau Piper Laurie dan lain-lain. Saya tanggung minggu di muka pakaian model-model itu akan memenuhi pasar.

Tentang ilmu memikat hati wanita agar membeli pakaian-pakaian model baru sudah amat tinggi dalam masyarakat Barat. Ini pun terasa pula di negeri kita. Misalnya baru-baru ini diadakan “Batik Show”. Perempuan-perempuan cantik memakai pakaian yang menggiurkan yang dibuat dari bahan batik. Akibatnya sebulan sesudah itu ramailah pasaran batik-batik tiruan yang diimpor dari luar negeri berjuta-juta meter banyaknya. Apa kata Lawiyan di Solo. Apa kata Haji Bilal di Yogya. Apa kata pembatik-pembatik Pekalongan? Gigit jari!

Cukupkah hingga di situ saja?
Belum cukup! Dalam pergaulan baru itu orang belum merasa puas kalau belum sampai ke ujungnya. Laksana orang haus minum air laut. Tambah diminum tambah haus. Setelah bebas menonton adegan cium, bebas pula dalam resepsi dan bebas pula berdansa.

Sekarang di resepsi-resepsi besar yang diadakan di kepresidenan atau di tempat lain yang resmi belum ada acara dansa. Mungkin karena pemimpin-pemimpin kita orang-orang yang anti dansa, seperti yang dinyatakan oleh Bung Hatta dalam Kongres Kebudayaan di Bandung pada tahun 1952.

Atau ada yang takut berdansa kalau-kalau hilang kepopulerannya di masyarakat. Padahal kakinya telah bergerak-gerak sendiri hendak berdansa.

Lalu diadakanlah “Tari Pergaulan” untuk mengganti dansa.
Tapi cukupkah itu saja?
“International Minded” mesti jalan terus. Tak boleh berdansa di tempat yang resmi, dilakukan di tempat lain. Mula-mula dilempari oleh bekas-bekas Tentara Pelajar. Lama-lama yang melempar pun bosan sebab telah kalah. Dansa semakin menjadi-jadi.

Cukupkah hingga itu saja?
Tidak cukup! Sebab “International Minded” meminta perjalanan itu diteruskan ke Cilincing. (Sekarang tidak digunakan lagi sebagai tempat mandi-mandi dan diganti dengan Taman Impian Jaya Ancol). Mandi bersama, campur aduk laki-laki dan perempuan. Pakaian mandi ‘bikini’ yang ditutup hanyalah sekedar yang terlalu buruk untuk dilihat dan kalau ditutup yang sedikit itulah yang “syur”.

Bila dansa dan mandi memakai bikini telah berani dilakukan, Ghirah mesti dihilangkan.

Orang harus pandai melatih diri menjadi munafik, pandai tersenyum simpul, pandai menyusun kata lemah lembut untuk merayu perempuan pandai bergaul seperti kata orang Inggris ‘custom’ atau ‘etiquet’ kata orang Perancis.

Kalau istrimu diajak berdansa, engkau harus lapang dada membiarkannya. Bagaimana kalau pinggang istriku dipegangnya, yah engkau biarkan saja. Bagaimana kalau dada istriku berdekapan dengan dada temanku? Yah biarkan saja!

Sebaliknya engkau pun harus berani berbuat seperti itu terhadap istri temanmu.

Bagaimana kalau teman laki-laki suami bertamu datang ke rumah sewaktu suami sedang bekerja di kantor? Yah… menurut etiket dan sopan santun Internasional, istri harus melayaninya.

Bagaimana kalau anak perempuanmu dibawa oleh pacarnya menonton malam-malam dan larut malam dan larut malam baru pulang, berdua saja?

Itupun harus engkau biarkan. Mau tak mau engkau harus membiarkannya. Karena dalam pergaulan modern semuanya itu bernama kesopanan. Apa yang menjadi akibat dari itu semuanya bukanlah soal. Masalah zina dan lain-lain tidak waktunya dibicarakan lagi. Itu sudah kolot!

Dan bagaimana engkau berani ber-Ghirah, melihat pinggang istrimu dipegang orang lain, sedang engkau sendiri memegang-megang istri temanmu. Bagaimana engkau berani melarang saudara perempuanmu dibawa berjalan malam-malam seorang pemuda, padahal engkau sendiri suka membawa gadis orang lain.

Apakah itu akan habis hingga di situ saja?

Oh… masih panjang ujungnya. Cobalah lihat sebentar lagi, tentu akan diadakan pertandingan “Beauty Contest” di Indonesia ini.

Memilih wanita cantik yang diukur pinggangnya, sekian sentimeter besar pinggulnya, sekian pula besar pahanya. Itu tentu akan diadakan sebab, sudah dimulai dengan pertandingan “wanita yang paling pandai mengendarai mobilnya”.

Itulah yang dinamai emansipasi. Laki-laki dan perempuan sama-sama punya hak dan kewajiban. Itulah yang dihantam oleh Filosof Jerman Nietzsche yang dinamakannya sebagai “demokrasi banci” atau dalam bahasa Arabnya mukhannas.

Mulanya dihilangkan Ghirah laki-laki, akhirnya laki-laki mengikuti perintah perempuan. Yang kemudian perempuanlah yang berkuasa di belakang layar. Apa macam!

Islam dalam ajarannya yang asli dari Nabi Muhammad SAW tidaklah memingit perempuan. Perempuan boleh dan bahkan dianjurkan turut mengambil bagian dalam pembangunan masyarakat. Dari mana dia mulai? Dari rumah tangga melalui pendidikan anak-anak.

Wanita Islam di Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya berdiam di rumah tapi mereka telah tampil pula ke garis depan. Kita mempunyai gerakan-gerakan wanita Islam seperti Aisyiyah yang didirikan oleh Muhammadiyah begitu juga Nasyiatul Aisyiyah. Muslimat dan Fatayat NU Muslimat PERTI dan Muslimat PSII.

Kepada mereka dari sekarang wajiblah kita ingatkan supaya insyaf benar di garis mana mereka harus tegak dan di garis mana mereka berjuang. Mana yang milik kita dan mana yang tiruan dari dari “demokrasi banci dan emansipasi mukhannas”, sehingga kaum laki-laki kehilangannya Ghirahnya.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang wanita Islam terkemuka.
Dia bertanya kepada saya:
“Bagaimana hukum yang sebenarnya memakai kerudung? Bukankah itu cuma sunnat saja?”

Lalu saya jawab:
“Lebih baik berkerudung saja. Sebab tanda seorang Muslimat bukanlah membincangkan hukum sunnat dan wajib saja. Apa yang diperintahkan Tuhan harus kita usahakan mengerjakannya.”

Bertemu sekali lagi dia masih bertanya. Bertemu lagi dan dia menanyakan soal itu-itu lagi. Lalu saya jawab:

“Apa gunanya bertanya lagi? Kalau sudah bosan lepaskan saja kudung itu. Siapa yang berani melarang? Bukankah sekarang sudah zaman modern?”

Nyonya itu terdiam!
Saya tahu bahwa dia telah mulai ragu dan dia telah ditimpa pengaruh penyakit “minder” sebagai seorang Islam.

Kalau penyakit itu telah merata ke dalam rumah tangga Kaum Muslimin yang selama ini masih ada “bekas” kebudayaan Islam, itulah alamat rumah tangga kita akan ditimpa penyakit yang merana. Bila Ghirah telah mulai hilang, jiwa akan menjadi gelisah. Kulit menghendaki Barat padahal badan masih berada di Timur.

Dan apabila Ghirah telah taka da lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan.

Kalau masih ada pemuda Islam yang merasa bangga dibuang 15 tahun, karena Ghirah akibat saudara perempuannya diganggu alamat bahwa sesungguhnya Islam belum kalah.

*karangan lama Buya Hamka yang ditulis dalam majalah “Hikmah”, sekitar tahun 1954
*diambil dan disalin dari Buku “Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam” (1982)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s