The Softest Heart

image

I wanna tell you something tonight because i don’t want us to forget one thing, that is, life balances.

Last afternoon alhamdulillah i still had time to read about Umar Ibn Khattab’s biography. I found so many great stories about him, how he help others, how easy he is to shed tears because of what he did, what he heard, and what he saw.
Contohnya ketika Umar menemukan ibu yang berpura-pura memasak untuk anaknya hingga anaknya terlelap dan lupa dengan rasa lapar atau ketika Umar melihat seorang anak kecil dizhalimi, atau ketika Umar melihat pengemis yang kelaparan sambil meringkuk di atas tanah, sambil menuangkan makanan, Umar pun menangis bahkan ikut tidur di sampingnya.

Hai, apakah cerita Umar itu hanya khayalan belaka? Apakah cerita Umar hanya cerita hiburan yang hanya menyentuh hati kita untuk sekedar ‘wah, MasyaAllah Umar! Coba pemimpin kita sekarang ada yang kayak gitu..’ or just cry to hear Umar’s story. Not that.. please.. not that. I am sure Allah wants to give us a very BIG hikmah for us through Umar’s life story. The Quran tells us to give and feed the Fakirs.

Wala tahaadduna ‘ala tho’amil miskiin..
(Al Fajr: 18)
Quran tells us to give and give. And that was what Umar did!

Nouman Ali Khan once said

“The two things that will keep your heart soft are how much you pray and how much you give”

And i’ve found the softest heart in Umar’s life..

How we can get that kind of heart? The softest heart and the strongest lawgiver and conqueror biidznillah.. The key are to pray and to give.

Now, there are so many hands who needs our help out there.. Saya semakin takut jika kepekaan ini akan membuat hati saya mengeras.. menganggap hubungan vertikal kepada Allah saja cukup. Padahal Allah banyak memerintahakan untuk memberi makan orang miskin.

Tidak punya uang? Hei.. kamu masih bisa makan es krim yang sebenarnya perutmu nggak membutuhkannya banget-banget, kok.. satu eskrim senilai 5000 rupiah bisa menolong satu sampai dua perut ibu dan anaknya di sepanjang jalan Margonda jika kamu mau menyusurinya malam-malam.
Umar, dengan makanan sederhana pun malah selalu mengusahakan untuk terus dapat membantu, walaupun memang hartanya melimpah, lantas ia tetap dengan kezuhudannya, makanannya sederhana, minumannya pun begitu.

Sementara kita dengan segala kebutuhan yang terpenuhi, alih-alih memberi dan bersyukur malah sukanya ngeluh..
Kok bisa, ya, kita masih nggak bersyukur dikala bahkan anak-anak nggak tau mau tidur dimana. ada yang di atas gerobak.. ada juga gerobak bertingkat dua dimana anak-anaknya tidur di tingkat dua sedangkan barang rongsok ia taruh di tingkat satu.
Kok bisa ya, masih mengeluhkan ‘aduh pusing, tidurku semalam kacau banget’ padahal masih bisa tidur di atas kasur dan melahap masakan yang enak pula sebelum tidur.

Hei, ingatlah, kisah Umar bukan hanya untuk diratapi, ditangisi, tapi kisahnya juga diteladani..

Hei, keseimbangan itu perlu. Karena hati yang lembut, adalah ia yang dekat dengan Allah dan ia yang dekat dengan ‘memberi…’

#ASuperNoteToMySelf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s