Daydreaming About Future Mothers

Bolehkah aku menyampaikan mimpi?

Di tengah kejenuhan menyelesaikan skripsi, saya banyak bergelut dengan hal-hal lain juga, salah satunya belajar menjadi muslimah yang baik. Qadarullah, beberapa hari lalu, saya baru saja menyempatkan diri untuk menonton kajian muslimah di Youtube oleh Ustadz Bachtiar Nasir. Judulnya bisa dicari di bagian ‘search’ Youtube yaitu “Wanita Dambaan Qur’an”. Beberapa pesan yang mampu saya tangkap dan saya pegang erat-erat adalah :

Kalau ibunya yang gak beres sekalipun suaminya itu Nabi, hasilnya seperti Kan’an. Atau seperti istrinya Nabi Luth AS, yang keturunannya seperti itu. Tapi jika istrinya sholihah, sekalipun suaminya adalah Fir’aun, jadilah Musa AS dan Siti Masyithah.”

Satu hal yang sudah menjadi perhatian saya sejak lama adalah soal perempuan dan wanita, bahkan dulu sempat punya pikiran untuk menjadi menteri pemberdayaan perempuan (ini sih masyaAllah) yang sepertinya bukan lagi pilihan saya. Hehe. Semoga bisa lebih fokus pada keluarga di rumah dan masyarakat sekitar , biarkan suami yang maju menjadi tokoh🙂

Semua pelajaran dan perhatian mengenai perempuan berawal dari sebuah komunitas yang saya jalankan bersama teman-teman di Dreamdelion. Ya, Dreamdelion adalah komunitas bisnis sosial yang bermula dari pemberdayaan masyarakat utamanya ibu-ibu yang tinggal di daerah marjinal. Sedikit gambaran informasi mengenai ibu-ibu atau perempuan di daerah marjinal khususnya di daerah kumuh ibu kota, mereka kebanyakan tidak memiliki pekerjaan tetap alias serabutan. Sebagian bekerja sebagai buruh cuci, sebagian lainnya berdagang makanan atau sekedar membuka toko-toko kecil di pelataran rumah mereka, yang sebenarnya juga sangat terbatas lahannya. Sempit sekali.  

Berawal duduk di jabatan Marketing yang harus membantu teman-teman divisi produksi melakukan kontrol kualitas produk hingga Trainer menjahit ibu-ibu, saya jadi banyak membuka obrolan dengan para ibu. Banyak hal yang saya temukan khususnya pada ibu-ibu masyarakat Manggarai. Kebanyakan dari ibu-ibu tersebut, saya lupa teorinya apa, tapi yang jelas karena mereka tidak mengisi waktu kosong mereka dengan hal berguna, akhirnya sering gossip. Dari gossip, timbul banyaknya pertikaian, apalagi jarak rumah satu dengan lainnya benar-benar berdempetan. Kondisi masyarakat Manggarai yang saya ‘asuh’ pun memiliki mental peminta-minta bahkan turun hingga anak-anaknya. Pernah suatu kali diceritakan oleh Ibu RW, sewaktu Manggarai Banjir, Ibu RW harus membeli dus-dus mie sendiri untuk dibagikan ke warga sekitar karena biasanya jika stok mie hasil sumbangan orang luar tidak dibagi merata, maka yang ibu RW lah yang akan disalahkan, difitnah mengambil mie, dsb. Dan tahu kan siapa yang biasanya menyebar gossip dan fitnah? Ya, itu perempuan.

Tak hanya itu, dalam mendidik anak dan generasi, perempuanlah yang punya andil sangat besar dalam pendidikan keluarga. Mari kita ambil kasus Manggarai lagi. Dreamdelion, sebagai bisnis sosial, memiliki program-program pengembangan masyarakat salah satunya adalah sanggar belajar Dreamdelion untuk adik-adik Manggarai. Berawal dari ‘lelah’nya kami melihat anak-anak Manggarai yang kurang mendapat perhatian khusus soal pendidikan dari orangtuanya. Pertama, memang karena permasalahan ekonomi, kedua karena permasalahan minimnya motivasi orangtua terhadap pendidikan anaknya secara moral maupun pendidikan formal di sekolah. Sebagai contoh dari hasil ketidakpedulian orangtua terhadap pendidikan kepada anak adalah banyak sekali anak-anak yang berbicara kasar dan kotor kepada temannya, atau sekedar pukul-pukulan, bahkan beberapa anak rajin banget ikut tawuran!😥 sedihnya.. Dari sinilah, Dreamdelion memiliki solusi salah satunya adalah program parenting untuk ibu-ibu.

Tak usah jauh-jauh. Di Kapuk, tempat saya bermukim dua tahun terakhir ini, saya mendapatkan informasi bahwa memang ibu-ibu disini banyak yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, kebanyakan tinggal di rumah dan jika tugas rumah sudah selesai, mereka akan main-main sore di jalanan bersama ibu-ibu yang lainnya, yang entah menghasilkan apa. Di lingkungan sekitar tempat saya tinggal, ada beberapa anak yang saya kenal baik perangainya namun suka berkata kasar atau kotor, bahkan hal-hal yang membuat saya pusing mendengarnya, tidak layak bagi anak-anak usia SD, di masa-masa golden age mereka. Kalau ibu-ibu mereka beralasan, “iya mbak itu kan ketularan temennya”, sebenarnya nggak salah dan nggak betul juga. Bukti nyatanya, saya masih dapat melihat sebuah keluarga yang anak-anaknya terjaga secara kualitas karakter dan pendidikan formalnya di lingkungan tersebut. Saya memang belum pernah melakukan riset yang asli, tapi setidaknya tahu sedikit-sedikit dari bertanya kesana-sini dengan beberapa Ibu di sekitar Kapuk. Saya belum mau menduga-duga apa penyebabnya, tapi yang pasti ada kesalahan pada pola asuh anak-anak mereka.

Peran ibu dalam keluarga dan masyrakat sungguh sangat berpengaruh. Jika kita lihat kasus Manggarai yang bermula dari gossip dan kegiatan-kegiatan tidak berguna yang memicu pergesekan hingga pendidikan yang lemah pada anak-anaknya, utamanya muatan-muatan agama sangat minim di daerah-daerah Marjinal dan padat penduduk seperti ini. Mungkin dari luar terlihat banyak agenda-agenda keislaman yang sebenarnya — mungkin dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi – namun lebih banyak muatan makan-makan ketimbang muatan nasihatnya.

Lemahnya karakter dan pendidikan pada ibu-ibu Manggarai dan di daerah Kapuk, bisa jadi menjadi salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang  menyebabkan sebuah komunitas masyarakat begitu tertinggal. Tidak hanya tertinggal dari segi perekonomian namun juga tertinggal dari segi agama dan moral.

       Setuju kan jika sebuah peradaban bisa digenggam di tangan para Ibu? Terbayang tidak jika para Ibu lepas tangan begitu saja dengan pendidikan agama serta keilmuan anak-anak mereka? Satu generasi ke depan akan pergi tanpa arti bahkan mungkin meninggalkan beban-beban bagi para penerusnya. Kebayang nggak jika satu ibu melahirkan 10 anak tanpa dididik, kemudian dari 10 anak menghasilkan 50 anak yang tidak terdidik karena dulu para orangtuanya juga tidak mendapat pendidikan yang baik, dan begitu seterusnya. Terbayang tidak betapa rusaknya sebuah generasi hanya karena seorang ibu yang tidak terdidik? Lingkaran setan akan terus terjadi jika tidak ada upaya perbaikan di salah satu anak-anak atau generasinya, atas izin Allah.

Berbekal pengalaman saya dalam ajang Hult Prize di Dubai Maret lalu, saya jadi belajar banyak mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini. Pembaca dapat mengakses beberapa poin mengenai ‘EARLY CHILDHOOD EDUCATION’ di website HultPrize.org, disana saya banyak mendapat poin-poin penting:

1.       Early Childhood Education (Pendidikan Anak Usia Dini) sudah menjadi fokus dunia, PBB dan World Bank berdasar banyak riset sudah banyak memberikan kontribusi berupa upaya-upaya pendirian PAUD atau ECE sejenis.

2.       USA sebagai negara adidaya memiliki fokus dan perhatian yang paling besar pada ECE dibandingkan negara-negara lain di dunia sehingga bisa dilihat karakter kompetitif dan kecerdasan intelektual mereka dalam bidang sains sangat maju

3.       Perhatian pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini masih sangat rendah dan kini masih di tataran kebijakan-kebijakan saja.

Kenapa ECE ini menjadi hal penting? Karena seorang manusia pada masa 0-8 tahun mengalami perkembangan otak yang paling pesat dalam hidupnya. Pada fase ini, anak-anak akan menyerap segala sesuatunya lebih cepat, maka dari itu pantaslah anak-anak kecil dapat menghafalkan quran dengan mudah dan cepat. ECE merupakan kewajiban yang mutlak diberikan kepada anak-anak, dan hak anak kita adalah mendapatkan pendidikan utama dari Ibu karena Ibu adalah sosok yang paling banyak berurusan dengan si anak, bukan guru, bukan pula caregiver di Daycare. Ibu mendidik anak bukan hanya saat golden age tapi hingga anak-anak tersebut berpisah di dunia dengan ibunya. Selayaknya pendidikan yang diberikan Rasulullah hingga akhir hayatnya pada Fatimah, selayaknya Luqman yang memberikan nasihat teguh pada anaknya. Selayaknya pendidikan dan wasiat Ibrahim pada anak-anaknya di detik akhir hidupnya,  ibu sebagai orang tua harus mendidik anaknya hingga Allah memisahkan mereka di dunia. Ibu yang Shalihah adalah kunci peradaban, ia adalah madrasah pertama dan terakhir bagi anaknya.

Menjadi Ibu, berarti menjadi kunci peradaban. Sebagai muslim, peradaban apakah yang kita impikan? Tentu peradaban yang maju seperti zaman-zaman keemasan Islam, zaman-zaman dimana Umat Islam menguasai dunia, zaman dimana cendekiawan-cendekiawan tumbuh dengan akidah yang kuat. Arsitek, Astronom, Fisikawan, Sastrawan, kesemuanya tetap berpegang pada Aqidah. Para Sultan dan pemimpin-pemimpin berpegang teguh pada ajaran Rasulullah SAW. Memang tidak banyak cerita-cerita mengenai ibu di zaman tersebut, tapi kita tahu seperti kisah-kisah istri nabi, bahwa istri dan ibu yang berpegang pada ajaran Allah akan menelurkan generasi-generasi baru yang tangguh dan siap memimpin dunia. Wah, kayaknya tinggi banget sih mimpinya.. hehe

Berbekal pengalaman dan ilmu yang saya serap selama ini ditambah kewajiban sebagai muslimah adalah bermanfaat untuk masyarakat di sektiranya, saya ingin melihat ibu-ibu di luar sana tak pernah memaki anaknya lagi dengan kata-kata kasar dan kotor, mendambakan ibu-ibu yang memulai pendidikan anak-anaknya dengan Al-Quran selayaknya pendidikan Al-quran yang dienyam terlebih dahulu oleh Mehmet II Al-Fatih sang penakluk di masa kecilnya, ibu-ibu yang akan  memotivasi anak mereka menjadi khalifah Allah yang sebenarnya di muka bumi!

Seperti halnya kang Emil yang telah mewujudkan coretan dan kegelisahannya dahulu sebelum menjadi walikota, saya ingin sekali kegelisahan ini menjadi aksi nyata. Semoga, Allah menunjukkan jalannya. InsyaAllah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s