Hanya Butuh 5 menit untuk Membaca Kisah Ini, Sahabat

Sebenarnya aku ingin sekali menulis tentang kisah-kisah perempuan. Sungguh, berbicara mengenai perempuan tak pernah ada habisnya. Aku selalu belajar dari kisah, karena Allah pun banyak mendidik kita dengan kisah-kisah di dalam Qur’an. Karena kisah mampu bercerita lebih banyak daripada apa yang terpapar dalam kata, setiap kepala mampu menangkap berbagai hikmah dari hanya satu kisah saja. Semoga menjadi pelajaran..

Kali ini, izinkan aku bercerita mengenai perempuan-perempuan inspiratif. Satu dua kisah mereka memang tak bisa mewakili siapa mereka sesungguhnya, namun satu dua kisah mereka mungkin mampu mengubah pandangan hidup seseorang. Termasuk diri ini, diri yang lemah ini.

Untuk diketahui, aku bukan ingin menceritakan atau mensaratkan tentang kisah-kisah pernikahan. Bukan. Aku hanya ingin menceritakan beberapa kisah, yang mungkin mampu menggetarkan hati, menelisik jiwa. Cerita yang mungkin mampu mengubah pandangan hidup kita, sebagai seorang muslimah, yang in sya Allah selalu belajar untuk menjadi hamba yang “Silmi Kaaaffah”. Yaitu untuk masuk islam secara keseluruhan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, atau Tafsir-tafsir lain surat Al-Baqoroh : 208)

Bismillah, kita mulai saja ya..

Kisah ini diceritakan oleh guruku, jika ada kesalahan dalam penyampaian dan ada ketidakvalidan cerita, tolong dikoreksi. Sejauh ini, aku mencoba mengambil hikmahnya saja.

Aku terkadang iri, pada perempuan-perempuan yang kesabarannya setinggi langit. Yang bahkan kita tak mampu membayangkan bagaimana bila menjadi dirinya. menjadi diri yang dikasihi Allah. Ia diberi ujian oleh-Nya, namun tetap tak ada keluh kesah setitik pun terlihat di wajahnya.

Perempuan ini, aku sebut saja Fulanah. Fulanah baru saja menikah, namun ia masih harus menjalankan kehidupannya di kampus sebagai mahasiswi. Ya, ia baru saja menikah dengan teman satu fakultasnya, yang juga masih harus bekerja keras mencari maisya (penghasilan) untuk menghidupi kehidupan mereka berdua. Sang suami, yang belum mampu menghasilkan pendapatan besar, membuat mereka harus tinggal di kontrakan yang kamar mandinya berbaur dengan lelaki. Aku lupa pastinya kenapa, namun pastinya mereka dengan terpaksa harus tinggal di tempat tersebut. Sang Fulanah, yang mengerti dirinya akan menemui risiko berpapasan dengan lelaki lain ketika mengggunakan fasilitas kamar mandi, akhirnya memilih untuk tidak mandi di tempat tersebut. Lalu bagaimana? Lantas ia tidak mandi?

Demi menjaga diri, fulanah ini akhirnya memakai kamar mandi fakultasnya untuk mandi dsb!

“Ckckck segitunyaaaa..”, mungkin hal ini yang terbersit di kepala kita, bukan?

7c99c791b7c88160c4b744f18e0b7ff3

Tafsir Fii Zhilalil Qur’an Al-Baqoroh : 214

Ya, kita memang tak tau seberapa pelik permasalahan mereka sehingga sang istri harus menggunakan fasilitas kamar mandi kampus untuk mandi sehari-hari. Teman-teman Fulanah pun sampai-sampai terheran, mereka hafal kalau fulanah-lah satu-satunya perempuan yang memakai fasilitas kamar mandi fakultas untuk ia membersihkan diri. Perempuan ini, ternyata tak pernah sedikit pun mengeluhkan keadaannya pada teman-teman sekitar. Tak ada raut wajah sedih atau menyesal melihat keadaannya kini. Sungguh tak pernah ada keluh kesah di wajahnya. Ia jalani dengan sabar.

Alhamdulillah, Allah memberi fulanah dan suaminya rizki yang berlebih setelah mereka bersabar. Sang suami sampai pada pria dengan penghasilan tertinggi di deretan alumni-alumni fakultasnya. Ahamdulillah..

Ternyata, begitu banyak perempuan yang mencapai titik kesabaran dan kesyukuran setinggi itu.. Allah aku malu sekali masih banyak mengeluh. Sungguh aku iri. Ternyata banyak sekali perempuan-perempuan sabar calon bidadari penghuni surga-Nya. Kesabaran mereka menghantarkan mereka pada surga-Nya Allah. Sungguh diri ini masih harus banyak belajar lagi.. Belajar menghadapi hidup ini, menjadi muslimah yang memegang islam secara utuh, bukan setengah-setengah lagi. Bismillah..

Masih banyaak lagi kisah-kisah mereka yang membuatku iri. Sangat. Yuk muslimah, kita ambil teladan dari kisah empat perempuan yang dijanjikan syurga yaitu Asiyah, Fatimah, Maryam, dan Khadijah..

Semoga kita termasuk yang meneladani mereka, ya. Bismillah..

Terdapat sebuah hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853 dan dinilai ad-Dzahabi: shahih sesuai syarat Muslim).

2 thoughts on “Hanya Butuh 5 menit untuk Membaca Kisah Ini, Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s