Memperbarui Hati

Nikmat Allah itu sungguh banyak sekali. Mungkin setiap awal mendapat sebuah nikmat, kita dapat menyadari nikmat tersebut dan sangat bersyukur sampai mungkin terharu jungkir balik. Namun tak jarang juga kebanyakan dari kita menjadi sering luput akan nikmat-nikmat yang ‘terlihat’ sepele di setiap harinya. Hal-hal ‘kecil’ seperti membalikkan tangan kita, membungkukkan badan, atau merasakan hangatnya mentari pagi tersering luput ketika hal tersebut dapat kita rasakan setiap harinya. Hal tersebut terus berulang sehingga kita biasa saja menanggapinya. Beda halnya ketika esok hari kita mendapatkan diri kita tak bisa lagi membungkuk, barulah kita menyadari betapa berharganya nikmat membungkuk itu.

Hal yang sama terjadi pada diriku belakangan waktu ini. Sehari-hari bertinggal di asrama IQF putri membuat hari-hariku dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat mendekatkan diri dengan Qur’an, atau setidaknya membuat kebiasaan-kebiasaan sehari-hari di asrama menjadi lekat dengan ibadah-ibadah kepada Allah. Aku menyadari betul kebiasaan di asrama yang sudah kujalankan selama kurang lebih satu setengah tahun ke belakang adalah kebiasaan yang merubah total hidupku dari sebelum dan selama bertinggal di asrama. Dulu ketika sebelum di asrama, rutinitas beribadah tak tentu ditambah tugas-tugas yang mengharuskanku untuk begadang membuat jam tidur menjadi berantakan dan membuat kebiasaan tidur  juga hancur. Malam jadi pagi, pagi pun tetap pagi, hehe.. Singkat kata, saat aku masuk asrama dan menemukan habit yang luar biasa beda dan kerennya, aku begitu menggebu menjalani setiap rutinitas di dalamnya. Aku berusaha menyesuaikan sebisa mungkin jadwal-jadwal IQF karena aku percaya jadwal tersebut akan membentuk kebiasaan sehari-harinya. Nikmat berada dalam asrama pun sangat terasa, saya begitu bersyukur. Sangat senang rasanya, sungguh. Lalu hari demi hari pun berlalu, hingga hari ini aku memasuki tahun kedua di asrama IQF. Aku sangat menyadari menurunnya ‘rasa syukur dan bahagia’ akan nikmat berada di asrama ini. Aku sadar betul akhir-akhir ini tak mampu menyamai rasa semangat ketika pertama kali masuk asrama IQF, aku sadar betul habit yang terbentuk di asrama belum mampu diterapkan seratus persen di rumah atau di tempat-tempat lainnya.

“Apa yang salah denganku? Apakah ada yang salah dengan niatku?”, selalu saya gumamkan dalam hati.

“Mengapa aku tak menemukan semangat seperti dulu pertama kali menjejakkan kaki di sini? Apa yang salah denganku?”

Segala puji bagi Allah, semoga benar Allah telah memberi saya sedikit petunjuk akan segala keraguan.

Petunjuk pertama, aku sangat menyadari niat adalah hal yang menjadi titik berat sebuah aktivitas beribadah atau beramal. Seperti yang telah dikatakan oleh Sa’id Hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs,

“Orang yang beramal, yang amalannya tidak ditujukan untuk Allah maka dia tidak akan pernah istiqamah dalam kehidupannya karena dia hanya beramal apabila dilihat atau diketahui perbuatannya.” – Sa’id Hawwa

Alhamdulillah Allah telah menunjukkan banyak sekali ilmu melalui buku ini. Aku baru membelinya beberapa waktu silam dan sedikit banyak ‘menusuk’ hati yang mungkin perlahan mengeras ini. Sungguh aku sadar betul niat adalah hal yang paling pertama dilihat oleh Allah dan hal paling pertama yang memengaruhi seberapa jauh usaha dan kegigihan seseorang untuk bertahan di setiap harinya dengan beramal dan beribadah. Ya, aku menyadari ada yang salah dengan niatku, niat awal di sini sedikit demi sedikit mulai luntur sehingga kebiasaan-kebiasaan baik di dalam IQF tidak lagi dapat saya terapkan dengan baik di tempat-tempat di luar asrama.

Kedua, aku telah luput tentang sesuatu. Tujuan berada di asrama bukan hanya sekedar menambah hafalan Qur’an atau berinteraksi dengan Qur’an. Aku baru ditampar-tampar tempo hari ketika mendengar cerita yang dituturkan langsung dari ex-santri IQF tahun lalu yang datang sebagai tamu ketika sesi inspirasi berlangsung. Mungkin momen bertemu dengannya kemarin adalah momen yang menyadarkan dan betul-betul membuka mata saya lebar-lebar, melunakkan hati yang sempat kebingungan, Alhamdulillah karena Engkau pertemukan aku dengannya, kakak yang dulunya adalah teman sekamarku.

Di dalam tulisan lain di blog ini, aku telah mendeskripsikan beberapa hal yang membuat saya selalu berdecak kagum dibuatnya. Aku melihat kesungguhannya dalam menghafal, beribadah, dan berkegiatan di luar itu. Hampir semua aktivitasnya baik dan tidak banyak membuang waktu. Hmm, diri ini selalu malu melihat amalan-amalan hariannya. Kini kakak itu sedang menempuh karir di sebuah bank syariah dan menjalani rutinitas sehari-harinya dengan bekerja berangkat pagi pulang petang. Rutinitas yang lebih menekan daripada sewaktu kakak itu masih di IQF. Ada beberapa hal dari ceritanya setelah tak lagi bertinggal di asrama IQF yang berhasil membuat saya tercenung larut begitu dalam dengan kisahnya,

“Aku nggak mau cuma dibilang pernah ngafal qur’an.”

“Aku usahakan untuk selalu muraja’ah atau menambah hafalan baru sesuai jam QT (Qur’an Time) di asrama IQF, walaupun lagi desak-desakan di kereta, aku usahakan agar jam QT ku nggak diundur-undur. Karena takutnya malah excuse dan beneran gak jalan. ”

“Aku kangen banget sama suasana IQF”

“Aku pengen IQF lagi”

Satu hal yang terbesit ketika mendengar pernyataan-pernyataan tersebut adalah bagaimana denganku? Aku lupa suatu saat tidak akan disini lagi, aku harus berhadapan dengan waktu dan cambuk untuk diriku sendiri. Aku harus berhadapan dengan hawa nafsuku sendiri. Tak ada lagi yang memaksaku menyetorkan hafalan di setiap harinya, tak ada lagi mungkin sosok-sosok yang membangunkanku di kala mataku berat untuk bangun shalat malam. Tak ada lagi mungkin sosok-sosok yang membuatku tetap terjaga di shubuh hari membersamai Qur’an dan terjaga untuk mengingat-Nya di pagi hari. Tak ada lagi mungkin sosok pengingat di kala kujauh dengan Qur’an. Sekali lagi,

“Bagaimana denganku nanti ketika tak lagi disini?”

“Sungguh, aku harus melawan diriku sendiri nanti, melawan hawa nafsuku”

“Banyak sekali waktuku yang terbuang sia-sia, aku sadar betul itu”

Ternyata aku lupa, aku lupa tujuanku bukan hanya menambah dan memuraja’ah hafalan. Aku lupa ternyata bukan hanya mengikuti peraturan asrama. Aku lupa suatu saat akan keluar dari tempat ini dan harus bersungguh-sungguh melawan hawa nafsuku sendirian. Aku lupa!

Bagaimana denganku nanti? Dua hal yang kusadar perlu dengan segera dilakukan. Pertama, kembali meluruskan niat dan membersihkan hati. Kedua, membiasakan diri sebisa mungkin, sejak hari ini hingga nanti ketika Allah memanggil, untuk selalu mengisi hari-hari dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan selama bertinggal di asrama dan melakukannya dengan kesungguhan bahkan mengimprove beberapa kegiatan yang selama ini sudah dilakukan di asrama.

Aku tahu setelah ini harus lebih memperketat dan tegas kepada diri sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang membuang waktu. Ketika kita sudah berkomitmen dengan Qur’an, hati kita harusnya sadar betul setiap detik yang berpotensi diisi dengan kegiatan yang sia-sia dapat digunakan untuk membersamai Qur’an. Aku jadi sadar mengapa banyak teman-teman yang dulunya pernah mengenyam asrama Qur’an malah tidak terlihat bekas-bekas habit yang pernah diajarkan di asrama-asrama Qur’annya. Ya, mungkin mereka lupa mempersiapkan diri sesaat sebelum pergi meninggalkan asrama, bahwa kegiatan beramal dan beribadah juga perlu pembiasaan. Tak bisa hanya dilakukan sekali dua kali. Untuk mendapatkan habit shalat tahajjud di tiap malam, membiasakan habit dhuha di setiap pagi, membiasakan dzikir pagi dan petang, membiasakan membaca Qur’an minimal satu juz, membiasakan untuk memuraja’ah hafalan, membiasakan menghafal di setiap harinya. Semua perlu pembiasaan dan perlu kesungguhan dan kemauan yang kuat karena Allah.

Satu nasihat lagi dari Sa’id Hawwa yang mungkin bisa mengingatkan diri yang lalai mengingat Allah dan memanfaatkan waktu dengan baik dengan memberikan metode Musyarathah (persyaratan) pada diri sendiri di setiap pagi sebelum beraktivitas :

Aku hanya punya barang dagangan berupa umur dan jika ia habis maka habislah modal sehingga tidak ada harapan untuk melakukan perdagangan dan mencari keuntungan. Di hari yang baru ini Allah telah memberikan tempo padaku. Dia memperpanjang usiaku dan melimpahkan nikmat kepadaku dengan usia tersebut. Seandainya Allah mematikan aku maka aku sangat berharap sekiranya Dia berkenan mengembalikanku ke dunia barang sehari saja agar dapat beramal saleh. Maka anggaplah wahai jiwa bahwa engkau telah meninggal, kemudian Allah berkenan mengembalikan lagi ke dunia untuk beramal saleh. Jadi janganlah sampai menyia-nyiakan hari ini karena setiap napas adalah mutiara yang tiada terkira nilainya. Ketahuilah wahai jiwa, dalam sehari semalam ada 24 jam maka bersungguh-sunggulah pada hari ini untuk mengumpulkan bekalmu dan janganlah biarkan perbendaharaanmu kosong. Janganlah bermalas-malasan atau bersantai-santai. Sebab dengan keduanya engkau tidak akan dapat meraih derajat ‘illiyyin’ seperti yang telah diraih orang lain”

Semoga menjadi pengingat diri yang masih sangat lalai ini. Semoga tulisan ini dapat mengembalikan rasa semangat dan kesyukuran atas nikmat yang paling indah ini, nikmat membersamai Qur’an dan berdekatan dengan Allah..

Allahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s