Sudah Berbakti Kepada Orang Tua (?) Part I

“Jika kita belum bisa sabar dengan orang tua kita, maka kita harus belajar agama lagi”,

Kalimat itu tadi sore baru dilantunkan oleh guruku saat kami duduk berdua dalam lingkaran majelis ilmu. Begitu menyesakkan mendengarnya.
Kalimat pendek namun penuh makna tadi begitu menempel, melekat dalam otak. Seketika aku terdiam.

“Sudah sampai mana aku belajar agama? Sepertinya aku belum benar-benar belajar”.

Aku tercenung di antara kerumunan manusia di stasiun sore ini, kembali mengingat, perbuatan-perbuatanku yang menyakiti ibu dan bapak. Jadi teringat tentang sebuah kisah. Kisah ini bukanlah karangan atau hanya isapan jempol saja. Kisah ini nyata, tentang seorang anak dan orangtuanya.

                             ***********

Pagi ini seperti biasa aku bangun di subuh hari, bahkan lebih pagi dari biasanya. Aku biasa melakukan kegiatan-kegiatan sehabis sholat shubuh, tapi kali ini aku lelah, ingin istirahat saja rasanya. Pagi ini aku diminta ibu untuk membantu menjemur, suara ibu yang nyaring dan keras malah membuatku enggan untuk segera melaksanakan perintahnya.

“haah, capek nih harus bantu jemur”, aku gusar dalam hati.

Wajahku pasti terlihat tersungut-sungut dan kisut.
Aku langsung bergerak dengan gontai, mengambil jemuran dengan hati yang dipenuhi keluhan. Capek, ngantuk, mau tidur lagi. Usai menjemur pakaian di lantai dua, aku langsung duduk di ruang makan. Tak ada salahnya menghibur diri, aku memilih untuk menyalakan televisi. Tak biasanya aku menonton teve pagi-pagi begini. Pun aku sudah tak akrab lagi sebenarnya dengan teve semenjak masuk kuliah. Tak ada satupun teve di tempat kos. Aku lebih akrab dengan laptop. Channel yang kunyalakan adalah Tr**ns7. Ternyata sedang berlangsung program teve pagi ini yang berjudul ‘Khazanah’. Aku senang menonton hal-hal yang berkaitan dengan ilmu islam. Banyak pengetahuan baru yang bisa didapat.

Ternyata bahasan Khazanah pagi ini adalah mengenai orangtua khususnya tentang ‘ibu’.
DEG! Rasanya setengah kaget dan terkejut. Baru saja aku mengeluh karena diminta membantu ibu. DEG! Benar-benar menghunjam diri. Aku tak mengira bahwa bahasan pagi ini adalah tentang ibu. Dikisahkan pada awalnya mengenai Uwais Al Qarni yang terkenal di langit karena salah satu amalannya yaitu berbakti pada ibu.
Uwais dari Qarn, adalah seorang miskin yang tinggal di Yaman di daerah Qarn. Ia hanya tinggal dengan ibunya dan memilih mendedikasikan banyak waktunya untuk sang ibu yang sudah tua lagi buta. Uwais selalu menaati apa yang dikatakan ibunya, seperti dikisahkan saat Uwais sangat ingin bertemu Rasulullah SAW , ia, setelah mendapat restu dari sang ibu, mencoba pergi menemui Rasulullah di Madinah. Jauh-jauh datang dari Yaman dengan bekal makanan yang sedikit, ternyata sesampainya di Madinah ia tak bisa bertemu Rasul karena beliau sedang pergi ke luar Madinah. Dengan berat hati, ia harus kembali ke Yaman karena ibunya memintanya untuk segera kembali ke rumah. Inilah salah satu bakti yang dilakukannya. Walaupun ia, dengan kecintaan dan kerinduannya akan Rasulullah, tidak bersikeras lama-lama menunggu sampai tibanya Rasul di Madinah. Uwais, sampai akhir hayatnya tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW demi menuruti permintaan ibunya.

“Masya Allah, adakah pernah aku seperti itu? Mendahulukan kepentingan ibu daripada hal-hal lain yang sebenarnya tidak begitu penting?” gumamku.

Kemudian sang narator Khazanah berkata lagi kurang lebih seperti ini, “masihkah kita tega membiarkan ibu kita mengerjakan pekerjaan rumah sendiri? Tanpa kita bantu? Seharusnya kita tidak membiarkan orang tua kita mengerjakan semuanya sendiri, terlebih jika ia sudah tua, kitalah yang seharusnya menggantikan pekerjaan rumah mereka”

Tak terasa air mata mengalir deras. Membanjiri  jiwa pagi ini. Pagi yang tak seperti biasanya aku menonton teve, dan sekali-kalinya menonton teve, aku menemukan bahasan tentang ibu. Ibuku, yang baru saja aku berikan wajah dan hati yang tak ikhlas dalam membantu satu pekerjaan rumah. Seperti baru ditampar-tampar. Aku yakin, program teve ini adalah salah satu bentuk peringatan kasih sayang Allah untukku. Ya, pesan ini tak boleh tak digubris. Ini sudah peringatan langsung. Peringatan yang tak boleh aku lupakan seumur hidupku.

Aku berjanji dalam hati akan sekuat tenaga merubah diri, berazam bahwa setiap hari tak boleh ada hati yang tak ikhlas membantunya, jika sudah lelah, aku harus kembali ingat bahwa setiap perbuatanku ini jika diniatkan untuk Allah dan beribadah pastilah akan berbuah kebaikan, in syaa Allah. Semenjak hari itu hari-hariku kumulai dengan wajah baru, kumulai dengan langkah baru, kumulai dengan niat-niat baru.

Aku salah mengira hari itu akan berlalu, hari dimana Allah mengingatkan aku tentang bakti kepada orangtua. Ternyata, tak cukup sampai di hari itu saja, Allah masih memberikan aku kejutan lainnya di dua hari selanjutnya.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s