Lembaran Para Penjaga

Aku melongok ke bawah balkon, melihat sebuah mobil taksi terparkir lengkap dengan pak supirnya yang kelihatannya sedang mengangkut tas-tas dengan muatan yang penuh sesak di dalamnya. Sesaat sebelum aku masuk ke dalam, sebuah suara hangat menyapa,

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumsalam.. wahh.. namanya siapa?” Tanyaku penasaran

“Maya, mbak. Sumayyah” logat Jawa Tengahnya begitu kental teriring dalam ucapnya.

“Oh iya, salam kenal, Maya, aku Rani, masih ada barang di bawah May?” jawabku tersenyum, membalas senyumnya.

“Ada, mbak. Bentar ya kuambil dulu”, ia pergi meninggalkan ruangan asramaku yang masih sunyi, hanya aku seorang di dalam.

Aku tercenung sesaat ketika melihat supir taksi di bawah sedang berusaha mengeluarkan barang-barang milik Maya. Tiba-tiba saja sebuah rekaman film terputar di dalam otakku. Film yang masih sangat jelas dalam ingatanku, Aku tak bisa menghentikan buliran air mata ketika mencoba kembali ‘menonton’nya, lidahku tercekat, menonton film yang direkam sekitar setahun silam..

Bajuku mulai basah terkena air hujan sore itu. Aku mulai panik karena tak kunjung menemukan kontrakan pak Haji Majun sementara sang awan terus menerus menjatuhkan muatannya dengan deras. Untunglah ponselku berdering, rupanya panggilan masuk dari kontak yang bertuliskan ‘Lingling IQF’.

“Kamu maju terus sampe ketemu gang x, aku disini ya di atas asrama”, kata suara di seberang sana.

“Ya kak, aku kesana bentar bentar ya, kayaknya aku nyasar nih” jawabku

Tak lama setelah itu, aku berjalan dan akhirnya melihat seorang perempuan melambaikan tangan padaku.

“Ah, kak Lingling!”, gumamku.

Hujan sore itu berhasil membuat kami berdua kelaparan hingga akhirnya…

“Ran, ada bakso disitu. Mau beli, nggak?”
“Mau, mau kaaak..” balasku semangat.
Kakak itu melenggang dengan cepat dengan payung di tangannya. Lima menit kemudian, bakso datang.

Alhamdulillah, baiknya kakak ini.. Kataku dalam hati.
Kakak ini, akhirnya aku mengenal sosoknya. Sosok berani dan tegas. Kuambil pelajaran darinya bagaimana cara mengingatkan orang lain, membuat sebuah peraturan kebersihan hingga belajar mengenai sebuah hal yang bernama kesetiaan. Tiga tahun ia luangkan waktu untuk mengurusi mungkin puluhan santri agar dapat optimal dalam proses menghafal. Kakak ini juga, yang ketika waktunya sempit, pulang kantor jam 11 malam dengan waktu tempuh berjam-jam, masih menyempatkan diri untuk pulang ke asrama dan kembali menyetorkan hafalannya, masya Allah.. Istilah gaulnya kalo buat aku, “da aku mah apa atuh, kuliah di teknik doang yang nggak jauh jauh amat, masih tergoda dengan alasan ‘capek’ ”

———————–

Sebuah sapa hangat malam itu meluncur dari mulut saudariku, Sarah Karimah.. aku memang tak ingat persisnya seperti apa ucapan yang ia sampaikan, namun aku ingat ketika kakak itu mengenalkan diri dengan senyuman penuh keceriaan ditambah sedikit guyon yang mewarnai malam pertamaku saat mendarat di asrama putri IQF. Kakak itu menunjukkan kamar dimana aku tinggal. Aku segera memberikan ucapan terimakasih-ku yang pertama untuknya. Aku tidak menyangka malam itu adalah awal perjalanan aku dan kak Sarah berjuang melalui hari-hari membersamai Quran dengan penuh keceriaan dan tawa. I love her so much.. Kakak benar-benar mewarnai asramaku dengan tawa dan keceriaan serta menunjukkanku semangat menghafal Quran meski dalam keterbatasan waktu…meski malam sudah larut, kau masih saja sibuk membaca dan menghafalkan.. :”) You are so caring and kind.. Uhibbuki Fillah, kakak..

Sesaat sebelum meninggalkan asrama, sebuah sapa kembali menyapa.
Aku tak ingat betul persisnya seperti apa, tapi aku segera mengenali kakak itu karena rumahnya masih satu kota denganku, Dini Rahmawati. Kakak yang kukenal dengan sifat cool ala akhwat tangguh membuatku belajar bahwa ada kalanya kita mesti diam dan menjadi ‘cool’. Kakak juga yang menginspirasi gerak dakwah kampus. Selalu memperjuangkan amanah, tak segan membantu ketika aku sedang membutuhkan bantuan. . Proud of you kakak, :”)

————-

Aku memang tak melihat sosoknya pada malam-malam awal. Mungkin aku yang kurang perhatian. Kakak ini kutemui pertama kali saat sedang perkenalan di awal sebelum berjalannya program. Aku baru sadar, ialah kakak yang beberapa bulan lalu tersebar namanya melalui jarkom jarkom whatsapp.. Melly… Dewi Ratna Diana Amelia. Seorang kakak tangguh dari tanah Madura. Kakak yang begitu menginspirasi. Dalam diam, aku mengagumi sosoknya yang ceria, aktif, dan cerdas. Aku memang bukan seorang yang mahir merangkai kata indah langsung di depan mata, tapi perlu kakak ketahui bahwa aku sangat mengagumi kecerdasan dan prestasimu yang begitu gemilang. Dalam kesibukan dan tuntutan lain, kakak masih saja berusaha dekat dan menghafal kalam-Nya. Semoga kakak selalu dalam keberkahan dalam meraih presati akademik dan qur’ani..

————-

Yang terakhir pada potongan film ini adalah seorang kakak yang hampir setiap aktivitasnya begitu menginspirasi atau bahkan memengaruhi sebagian caraku beraktivitas dan menghafal.

Tak ingat persisnya seperti apa percakapan pertamaku dengannya. Yang aku ingat, aku mengenal sosok kakak yang awalnya sangat terlihat anggun dan cool. Tapi kemudian, kakak ini seru banget untuk diajak berdiskusi seputar keislaman dan ilmu-ilmu lainnya, we used to talk about politic to marriage issue *bocor banget*. Ialah yang paling banyak memberikan ilmu padaku, menawariku belajar bahasa arab hingga i’tikaf bersama. Kakaaak love youuu :”

Kak Rahma Suci Sentia, perempuan berdarah minang, yang selalu bangun pada awal waktu. Menggedor-gedor pintu saudari lain yang masih terlelap dalam tidurnya. Tak lelahnya ia mengingatkan setiap pagi.
Ingatan tentang kakak lagi, selalu, sebelum tidur. Murottal adalah hal wajib untuk diputar pada playlist ponselnya sampai ia tertidur lelap dan bangun di pagi hari.

Menghafal dan Quran adalah darahnya. Ia yang begitu membara dalam proses ini. Aku begitu terpukau, sumber energi macam apa yang membuatnya begitu gigih dan konsisten dalam menghafal. Sungguh diri ini seringkali malu dengan apa yang telah kakak perbuat..

Barakallahfikum kakakku, teman sekamar selama kurang lebih satu tahun lamanya. Aku begitu merindukan gedoran pintu penuh semangat di waktu shubuh.. :”)

————
Inilah film bagian pertama. Film yang kembali kuputar malam ini. Merekalah saudariku yang tangguh dan gigih yang pernah kukenal dimulai dari aku menginjakkan kaki di asrama tercinta.

Sekuel filmnya in sya Allah keluar besok yah.

Let’s continue to the 2nd part,🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s