Guided by Quran

Ini bukan kali pertamanya saya menggerakkan jemari untuk menulis serangkaian paragraf mengenai Al-Qur’an. Sungguh tiap kali berniat untuk menulis bertemakan Qur’an yang terbersit dalam pikiran saya hanyalah untuk memotivasi diri saya sendiri. Saya juga tidak mengatakan tidak ingin memotivasi teman-teman pembaca, alhamdulillah saya coba niatkan juga untuk membuat tulisan yang dapat memberi semangat untuk selalu berdekatan dengan Kalamullah kepada diri sendiri maupun pembaca.

 

Pada tulisan kali ini, saya mencoba untuk flashback pengalaman saya dengan Al-Qur’an utamanya dengan pengalaman pribadi mengapa tumbuh cita untuk menjadi penjaga qur’an.

 

Pertama kali menyadari pentingnya Al-Qur’an untuk selalu hadir dalam lembar-lembar kehidupan adalah ketika saya memasuki semester ketiga. Saat itu saya sudah berlabel ADK atau aktivis dakwah kampus walaupun ilmu yang saya miliki masih minim sekali, benar-benar minim. Literally. *sekarang pun masih minim :”)* 

Berlabelkan ADK mengharuskan saya mengerjakan amanah-amanah organisasi hingga suatu hari saya ditugaskan untuk mewawancarai tiga tokoh organisatoris di fakultas saya yang berlabel ADK juga dan kuat sekali interaksinya dengan Al-Qur’an. 

Datanglah hari dimana saya bertemu dengan seorang senior, kakak X, yang terkenal selalu menjaga tilawahnya setiap hari, banyak hafalannya, dll. Ketika saya melontarkan pertanyaan pada beliau saya sadar selama ini masih sangat jauh dengan Al-Quran. Padahal Al-Quran sangat erat kaitannya dengan kehidupan seorang muslim. Mendengar penjelasan, saya sadar bahwa AlQuran dengan seorang muslim itu bak air dalam kehidupan kita sebagai manusia. Manusia tanpa air bisa kekeringan bahkan meninggal. 

Semenjak hari wawancara itu, saya tahu bahwa Allah mulai membuka hati ini untuk selalu berinteraksi dengan-Nya melalui Al-Quran. Target tilawah harian pun menanjak dari yang sebelumnya. Saat itu hafalan saya masih beberapa surat saja di juz 30. Sebelumnya saya sudah paham bahwa seorang anak yang berhasil menjadi hafiz/hafizoh berhak memberikan mahkota kemuliaan pada kedua orangtuanya. Pikiran saya saat itu akhirnya tertuju untuk bagaimana membahagiakan kedua orangtua dengan modal menghafal Quran. 

Sebulan, dua bulan, saya lalui dengan terus berinteraksi dengan Qur’an. Saat itu saya masih tertatih untuk selalu konsisten menghafal di sela-sela perkuliahan. Hingga suatu waktu saya dipertemukan dengan seorang kakak penghafal Quran yang saat itu baru lulus dari UI. Pertemuan itu terjadi bukan secara tatap muka melainkan di grup whatsapp. Saya takjub bukan main menyadari beliau adalah seorang anak dari seorang Ibu yang memiliki 10 anak penghafal Quran. Rasa takjub yang tak berhenti ketika saya bisa berinteraksi dan berkonsultasi dengan kakak tersebut walau hanya melalui whatsapp. Berbicara dengannya memberikan energi tersendiri bagi saya untuk selalu berdekatan dengan Quran termasuk dalam menghafal. Walau saat itu saya sudah lumayan banyak bertanya tentang kiat menghafal Qur’an, namun hafalan saya masih terpaku pada beberapa surat terakhir di juz 30, masih mandek. Rasanya saat itu sulit sekali mengahafalkan baris demi baris ayat dalam AlQuran. Walau begitu saya masih mencoba untuk terus melanjutkan hafalan meski tertatih karena alasan kesibukan.

 

Hari-hari berlalu hingga kira-kira H-1 bulan Ramadhan datang, seorang sahabat bercerita tentang kegelisahannya. Ia bingung soal tawaran ayahnya yang meminta ia untuk menghafal Quran di sebuah pondok selama dua bulan penuh pada pekan liburan. Saat itu saya menjawab bahwa tawaran menghafal Quran adalah tawaran yang sangat keren! Namun ternyata sahabat saya masih ragu walau sudah saya coba yakinkan.

Liburan datang, sebuah sms masuk dari sahabat saya yang tempo lalu gelisah perihal mengahafal Quran saat liburan. SMS beliau masih berkutat soal kegelisahannya dengan tawaran Ayahandanya. Saya sempatkan membalas pesan singkat itu berapa kali hingga keluar kesepakatan dalam diri ini untuk ikut serta menghafal bersama sahabat saya selama ramadhan penuh.

Singkat cerita, ramadhan itulah yang menghantarkan saya pada sebuah mimpi yang saya goreskan di buku catatan harian, mimpi menjadi seorang penjaga, pengahafal Quran. Ramadhan tahun lalu membuka dan menyingkap bagaimana saya, sebagai seorang muslim, harus memperlakukan Al-Quran. Saya belajar banyak hal. Membaca, Menghafal dengan metode yang mudah dan cepat. Saya pun jadi tau bahwa kekuatan menghafal juga bersumber dari doa, bukan sekadar bakat atau kemampuan yang datang dari diri sendiri. Kemauan yang kuat juga menjadi salah satu faktor cepat atau tidaknya seseorang menghafal. Saya belajar banyak mengenai adab-adab dengan Quran pula disana.

 

Ramadhan usai, akhirnya saya harus berhenti mengikuti program menghafal tersebut. Saya pikir akan mudah menjalani hari-hari setelah ramadhan dengan menghafal Qur’an pasca Ramadhan kali ini. Perbuatan kadang sulit sejalan dengan perkataan dan pemikiran. Lagi-lagi saya mulai kehilangan konsistensi. Fyuh, berat rasanya menjalani hari tanpa kembali memurajaah. Rasanya saya sudah melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup saya. Saat itu saya seringkali bergumam dalam hati, “Mau dikemanakan mimpi kamu untuk menjadi seorang hafizah?”

 

Ternyata Allah berkehendak lagi. Siang hari saat sedang beristirahat di sebuah kamar hotel dengan seorang sahabat tercinta, (saat itu kami sedang pergi ke Lombok untuk kepentingan lomba) saya menerima sebuah jarkoman singkat mengenai program hafalan Quran harian di daerah Depok. Saya sangat tertarik saat itu namun melihat kondisi daerah yang cukup jauh dengan fakultas karena program tersebut mengharuskan saya bertinggal di sebuah asrama. Karena itu awalanya saya malah mengurungkan niat untuk mendaftar hingga sahabat saya membujuk saya untuk segera mendaftar. Dengan niat yang belum sepenuh hati, akhirnya saya coba-coba untuk mendaftar.

 

Ternyata beberapa hari kemudian setelah menginjakkan Pulau Jawa, saya diundang oleh pihak lembaga tahfidz tersebut untuk tahap seleksi santri. Awalnya saya kaget karena timingnya begitu cepat.

Alhamdulillah, akhirnya saya coba datang ke tempat tersebut. Awalnya saya pikir tempatnya cukup strategis dan dekat dengan kampus, namun ternyata jauh sekali. saya hampir menghabiskan waktu 30 menit berjalan kaki dari jalan raya hingga tempat tersebut ditambah saya selalu bertanya arah kepada warga sekitar di sepanjang perjalanan.  

Tes pun berhasil dilaksanakan, beberapa kakak-kakak senior akhwat memberi wejangan usai tes,

“Perjalanan jauh kamu kesini jangan dihitung sebagai lelah, hitung saja ini sebagai jihad kamu”, satu nasihat yang selalu terngiang hingga detik ini.

 

Saya tak manyangka kini Allah terus pertemukan dengan Al-Quran, Allah kirimkan orang-orang yang selalu bersemangat dan dekat dengan Qur’an. Teman sekamar saya di asrama pun adalah salah satu santri yang paling bersemangat dalam menghafal. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari beliau yang sangat ‘alim dan semangat. Saya juga ditawari teman untuk bergabung dalam grup whatsapp untuk menghafal satu ayat setiap harinya, alhamdulillah walau kadang masih tertatih, namun setidaknya saya masih diberikan kesadaran oleh Allah untuk selalu kembali pada kalam-Nya.

 

Malam ini, dengan memoar yang kutulis ini, saya berharap selama darah di dalam tubuh saya mengalir, selama jantung saya masih berdetak, selama nafas ini masih berembus, selama kesadaran saya masih penuh, agar Allah selalu perkenankan diri ini, diri yang masih tertatih ini menjajaki dunia, untuk selalu dekat dengan kalam-Nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s