They are homeless, what about us?

Gambar

                Kursi yang kududuki cukup keras namun cukup membantuku agar tas yang kutopang di bahuku terasa lebih ringan. Angin malam ini cukup dingin mengingat hujan yang baru saja mengguyur kota ini, kota Bekasi, tempat aku dibesarkan. Baru sebentar aku menghela nafas, tak jauh dari sampingku kulihat sesosok tubuh meringkuk di sepanjang kursi yang kududuki. Tubuh itu ternyata milik seorang bocah yang sedang tertidur pulas meniti alam mimpinya. Aku terdiam. Bajunya lusuh, mungkin tak pernah diganti. Kemudian aku menggeser pandanganku pada tangannya, tangan mungilnya yang penuh dengan luka, sama halnya dengan telinganya, penuh luka yang tengah mengering. Belum sampai selesai mengerutkan dahi, kulihat kakinya yang kecil, tulangnya jelas terlihat, melekat pada dagingnya yang cuma sedikit. Aku kembali menghela nafas dan memalingkan muka.

                Sesak rasanya, sesak betul dada ini melihatnya. Di malam sedingin ini, seramai ini, ia masih bisa tidur di atas kursi yang keras dengan kondisi tubuh yang lemah dan kurus. Air mataku tak bisa keluar, lidahku tercekat. Selang beberapa detik kemudian, selintas perkataan Allah hadir dalam benakku, “Wa laa tahaadduna ‘ala tho’amil miskiin”.

                Bam! Semakin sesak dada ini. Sungguh aku merasa bersalah sekali jika tak menolongnya. Aku semakin sesak kala melihat manusia lain di sekitarnya hanya terdiam, tak ada wajah yang merasa harus mendekati atau setidaknya iba pada adik ini. Apa yang terjadi pada ummat ini? Ummat yang katanya menjunjung tinggi rasa hormat dan tolong menolong?

                Allah.. apakah kami terlalu sibuk menghitung harta atau terlalu silau dengan dunia sehingga mereka luput dari mata hati kami?

                “Ketidakmauan saling menganjurkan dan saling berpesan untuk memberi makan kepada orang miskin ini, dianggap sebagai keburukan yang sangat mungkar. Al-Qur’an memberikan arahan betapa perlunya melakukan kesetiakawanan terhadap jamaah, dan diajurkannya mereka untuk menunaikan kewajiban dan melakukan kebaikan umum. Demikianlah di antara sifat ajaran Islam.

                Sesungguhnya kamu tidak mengetahui makna ujian. Karena itu, kamu tidak berusaha untuk dapat lulus dalam ujian ini, dengan memuliakan anak yatim dan saling berpesan untuk memberi makan kepada orang miskin. Bahkan sebaliknya, kamu memakan harta pusaka dengan loba dan rakus, dan kamu mencintai harta benda secara berlebihan. Sehingga, tidak ada lagi di dalam hatimu rasa kasih sayang dan penghormatan terhadap orang orang yang perlu dimuliakan dan diberi makan” (Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an hal. 266 Surat Al Fajr ayat 17-20)

 

17. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim

18. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

19. dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

20. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

(Q.S  Al-Fajr : 17-20)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s