Hikmah 10 Hari Part II

“Dek, isi shaf yang depan tuh dek! Cepet cepet!” kata seorang ibu bermukena hijau yang baru saja menghampiriku dari kejauhan.

                “Iya bu,” balasku tegas. Aku bergegas maju sesaat sebelum aku siap pada posisi sholat.

                Ibu itu kemudian mengambil shaf terdepan untuk ikut melaksanakan sholat. Kalau tidak salah, kala itu kami sedang melakukan sholat dzuhur di sebuah masjid yang sedang mengadakan rangkaian i’tikaf tahun ini. Aku memang sudah 5 hari bertinggal di masjid ini dan aku sudah dua kali melihat ibu itu menegur jama’ah lain yang masih enggan mengisi shaf yang kosong.

Pada awalnya aku tidak banyak memerhatikan beliau sampai di sebuah waktu sholat lain aku melihat perlakuan yang berbeda dari ibu itu. Malam itu sholat isya’, sama seperti sebelumnya, ia selalu bergegas untuk mendapatkan shaf terdepan. Sambil berusaha maju untuk mengambil shaf terdepan, ia menegur seorang anak kecil untuk segera mengisi shaf yang kosong.

“Itu buruan maju!” Tegurnya dengan nada setengah tinggi

“Iya bu,” balas anak itu sambil memindahkan al-qur’an yang ada di tempat sujudnya. Geraknya lamban.

“Eh buruan! Lama banget!” Nada bicara ibu itu makin tinggi.

“Kalo shafnya bolong nanti sholatnya nggak sah!” Air mukanya berubah keruh.

Melihat ibu itu setengah ngomel, saya jadi sebal. Dalam hati ini hanya bisa berucap istighfar karena takut muncul su’udzon-su’udzon lain.

***

 

Sepertiga malam, aku seperti biasa tidur di shaf terdepan agar mudah dibangunkan orang lain, berjaga-jaga kalau aku bablas tidur. Kali ini kejadian, aku kesiangan karena sebelumnya tidur larut. Para jama’ah perempuan sebagian besar sudah siap dengan mukenanya, sebagian lain memang masih tidur, ada yang masih tilawah juga.

 Aku langsung loncat dari tempat rebahanku untuk kemudian pergi berwudhu.

“Aduuuuh, telat, gimana nih mana mukenanya ditaruh di sajadah paling depan! Gimana ngambilnya ya?” Tandasku dalam hati.

Habis berwudhu dan sampai di ruang dalam masjid, aku melihat jama’ah baru saja mulai merapat untuk melakasanakan sholat, aku lari sekuat tenaga. Ruangan dalam masjid memang sangat besar, jadi butuh waktu lama untuk sampai di shaf terdepan.

Alhamdulillah, ternyata jama’ah masih mempersiapkan diri. Aku bergerak melewati shaf shaf di belakang hingga akhirnya aku menemukan ibu bermukena hijau tadi berdiri di atas sajadah tempat mukenaku berada.

“Bu, maaf bu, itu mukena saya,” Niatku sih hanya sebatas ingin mengambil mukena, tapi ibu itu langsung mundur dan bilang,

“Oh gitu, sini dek, sini aja” Katanya sambil tersenyum mempersilahkan aku untuk mengisi tempatnya. Ia langsung mengambil posisi sholat tepat di samping kiriku. Yang membuatku tercengang, sebelumnya ibu itu tetap melakukan misinya, mengingatkan seorang anak di belakang untuk mengisi shaf di depan. Tetap dibarengi dengan nada setengah tinggi, khas ibu itu.

                Ba’da sholat malam, sebuah perenungan yang mendalam bagi saya.

                Ibu itu, yang duduk tepat di samping kiri saya, menangis. Aku tak tahu apa yang ia tangisi. Tapi yang pasti tangisan itu bukanlah tangisan putus asa atau kesedihan karena meratapi sesuatu. Tangisannya lebih seperti mengharapkan sesuatu, takut pada sesuatu.

                Beberapa detik selang ibu itu menangis, pikiran saya jadi terpusat pada sebuah cerita keberanian . Cerita di zaman khalifah kedua, ‘Umar Bin Khaththab.

                Pernahkah mendengar kisah Asy-Syifa Binti Abdullah? Beliau adalah seorang wanita yang dijadikan manajer pasar oleh ‘Umar Bin Khaththab. Saat itu tugasnya adalah menuntut keadilan dan mengawasi pasar. Salah satu sifatnya yang patut kita teladani dari beliau adalah keberanian. Keberanian karena Allah. Asy-Syifa selalu melakukan pengawasan pasar, apabila ada pedagang pasar yang curang dalam timbangan atau takaran, ia akan menindaknya. Di beberapa kisah, As-Syifa juga digambarkan sebagai perempuan tangguh yang bicaranya penuh ketegasan. Jika ada pedagang yang mencoba melawan, ia balas dengan melawan pula, bahkan lebih keras. Keberaniannya begitu tinggi, meninggikan hukum atas nama Islam dan Allah. Nilai tambahnya adalah ia juga mendapat kekuatan karena didukung oleh ‘Umar Bin Khaththab, khalifah yang terkenal dengan ketegasan dan keberaniannya.

                Keberanian karena Allah, sebuah sifat yang juga dimiliki ibu bermukena hijau tadi. Ia tidak segan menegur jama’ah untuk mengisi shaf yang bolong. Bahkan ibu itu tidak akan berhenti memaksa sampai orang yang ditegurnya beranjak dari tempat untuk kemudian mengisi shaf yang kosong. Jika dibandingkan dengan saya, mungkin saya keburu capek untuk mengingatkan jama’ah lain hingga berkali-kali. Tapi tidak dengan ibu itu.

                Mungkin sama seperti Asy-Syifa, sebagian yang lain akan melihat perbuatan ibu itu dengan sinis. Merasa diceramahi. Padahal hal yang ia sampaikan itu benar dan baik. Ya, memang seperti itulah konsekuensi menegakkan kebenaran. Ada yang mau mendengarkan kebenaran, ada juga yang mendengar tapi tak menggubris, ada yang menutup telinga, ada juga yang membalas peringatan kebenaran itu dengan sinis. Semua ini adalah konsekuensi daripada penyampaian kebenaran.

                Sekarang, mari melihat cerminan diri. Apakah keberanian karena Allah sudah tertanam di hati kita? Setidaknya menegur mereka yang lalai atau melakukan kesalahan yang jelas hukumnya dari Allah. Mengingatkannya sesederhana mengingatkan yang lalai sholat, atau mengingatkan teman yang lagi asyik gosip.

Setelah itu, selalu bersiap untuk melapangkan diri menerima kemungkinan-kemungkinan buruk ketika kita menyampaikan kebenaran. Entah itu kemungkinan untuk tidak didengarkan atau bahkan balik dibenci. Sebenarnya tidak masalah jika semua yang dilakukan adalah untuk Allah.

                Karena surga itu tidak dicapai semudah kita membalikkan tangan, bukan?

                Karena manisnya perjuangan itu didapatkan setelah berlelah-lelah, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s