Ketika Aku Harus Kehilangan

Banyak sekali teman yang bercerita atau curhat, “gimana caranya move on?

Saya akan ceritakan salah satu dari dari cerita mereka. Kurang lebih seperti ini,

Suatu sore ada teman karib yang bingung mengenai masalah “perasaan”nya, bingung bercerita kemana, hingga akhirnya ia memilih saya sebagai tempat labuhan ceritanya. Saya tahu dari raut wajahnya, ia sangat gundah gulana, melunta, bagai tanah tandus di padang pasir yang sudah setahun menanti sang hujan. Ia bingung bagaimana caranya untuk bisa keluar dari semua yang selama ini ia pikirkan. Ingin sekali ia melepas harapan kepada sang hujan yang tak kunjung menghampirinya.

Alhamdulillah beberapa hari sebelumnya saya menemukan sebuah artikel berjudul Falling in Love with the Real Thing karya Yasmin Mogahed, dari situ saya dapat menyimpulkan beberapa hal untuk kemudian saya bagi kepada teman saya, barangkali bisa memberi sedikit solusi padanya.

Apa?

Ya memang, melepaskan sesuatu yang dicintai itu rasanya sakit, bukan? Sulit betul rasanya jika membayangkan misalnya orang tercinta atau sesuatu seperti bisnis yang kita bangun sepenuh hati, jiwa, dan raga hancur lebur meninggalkan kita. Sakit, luka, rapuh, kosong, semua yang berbau kesedihan pasti turut serta menemani pikiran ini dimanapun, kemanapun pergi, ingatnya kesedihan, lihat sana timbul sedih, lihat sini galau lagi.

Lantas bagaimana caranya agar hati kita bisa “ move on”? setidaknya bisa terhindar dari pilu yang membayangi.

Isi kekosongan, cari yang terbaik

As humans, we don’t deal well with emptiness. Any empty space must be filled.- Yasmin Mogahed

Ya, saya percaya bahwa setiap manusia tidak ingin ditemani oleh kesendirian atau setidaknya tidak ingin hatinya terbentuk ruang kosong yang tak lagi dihuni oleh “sesuatu” yang biasanya selalu menjadi pusat perhatiannya. Ketika kita merasa harus melepaskan atau harus terpaksa ditinggalkan oleh sesuatu yang kita cintai dan kasihi, disitulah sebenarnya potensi kekosongan hati kita akan muncul. Merasa sendiri, tak ada yang bisa kita perhatikan atau memerhatikan kita. Maka itu hati kita akan cenderung mengingat kembali kejadian masa lalu dengan harapan hati kita yang kosong tadi bisa sedikit terhibur. Atau ada juga yang berusaha berburu mencari “penghuni” baru sebagai pengganti “penghuni ruang kosong” dengan harapan sang penghuni baru dapat menghapus memori masa lalu dan mengisi ruang yang hampir usang. Beberapa berhasil, namun semuanya bertahan dalam waktu yang singkat.

Ternyata walaupun sudah menerapkan cara-cara tersebut, banyak juga yang tidak puas ketika mencoba mengisi kekosongannya dengan sesuatu yang baru, sang pengganti hanya bertahan sebentar karena kejadiannya berulang kembali. Begitulah manusia, akan selalu menemui pertemuan dan perpisahan.

Fase itu terus berlanjut, pilu tetap ada dan tinggal, pikiran masih terbayang olehnya, hati ini jadinya selalu didatangi kekosongan. Oh! Waktu kita terlalu berharga untuk memikirkan itu, sahabat.

Lalu dengan apa kita mengisi kekosongan hati kita? Siapa yang terbaik untuk menjadi “penghuni” pengganti?

Ada “sesuatu” yang tidak akan pernah meninggalkan kita, sesuatu yang tidak pernah menjauhi kita sampai kita mati bahkan selama-lamanya. “Dia”-lah yang berhak mengisi kekosongan ruang hati kita. Selalu. Tanpa kecuali. Siapa?

Dia yang Maha Kasih Maha Penyayang, Allah.

Terkadang kita lupa bahwa hati yang kosong ini hanya sepatutnya diisi oleh Allah, Rabb kita. Banyak diantara kita yang “salah fokus” menempatkan ruang kosong yang kita miliki dengan sesuatu yang tak kekal, tak jelas asal-usulnya, bahkan yang tak halal. Hal-hal tersebutlah yang mungkin selama ini, ketika ia pergi meninggalkan kita, membuat kita “seolah-olah” menjadi kosong. Padahal ada Yang Lain yang berhak untuk selalu menempati ruang hati kita.

Bagaimana caranya untuk menyadari bahwa hati kita sudah terisi oleh Allah?

Nah, Bukankah ada hal yang dinamakan “CINTA”?

Bagi saya makna “cinta” itu sendiri adalah rasa harap dan takut. Dua hal yang berkebalikan —mungkin, tapi sebenarnya ada korelasi yang cukup kuat diantara keduanya. Dengan harap, kita berharap selalu dekat, berharap selalu diperhatikan, berharap dikasihi, berharap ini dan itu. Sebaliknya takut, takut kehilangan, takut dijauhi, takut dibenci, takut tak dirindu, takut tak dikasihi, dsb. Dengan akumulasi rasa “harap dan takut” inilah, tumbuh rasa cinta. Hati kita akan selalu fokus memikirkan rasa harap dan rasa takut dari sesuatu yang telah berhasil merebut kekosongan hati kita. Kedua rasa ini saling isi.

Ya, saya percaya kita, sebagai manusia, selalu tak ingin merasa sepi, kosong, atau gundah. Jika itu semua mulai menghampiri, ganti dengan kecintaan kita pada Allah saja, karena kecintaan pada Allah akan menularkan atau menurunkan cinta kita pada yang lain. Belum percaya? Coba baca kisah hidup penuh kasih sayang dari seorang kekasih Allah, Rasullullah SAW, manusia yang paling mencintai Rabbnya.

Jatuh cinta lah dengan Sang Maha Kekal,


Ketika aku harus kehilangan,

Rasanya bagai pulau tak berpenghuni,

Sepi,

Yang terdengar hanya desiran pasir diiringi deburan ombak bersahutan,

Ketika aku harus kehilangan,

Rasanya bagai gua tanpa pengunjung,

Kosong,

Yang terdengar hanya gaung dan gema tetesan air yang jatuh ke tanah,

Tapi aku tahu,

Ketika aku harus kehilangan,

Ada Sesuatu Yang Selalu menungguiku untuk didekati,

Dia-lah Rabb-ku Yang Maha Kekal,

Huwa Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s