Ah, Cerewet!

Wow ada apa dengan tulisan saya malam ini?
“Lagi marah ya?”

Hehe bukan kok..
saya mau bahas sedikit soal sifat cerewet berdasarkan analisa sederhana saya.

Cerewet atau bawel. Sifat yang sebenarnya kebanyakan melekat pada wanita. Yap, Sifat cerewet ini tentu juga tak luput pada saya sebagai wanita.

Saya memang termasuk orang yang banyak bicara di antara teman-teman di lingkungan. Hal ini juga dikarenakan karakter saya yang ‘sanguin’. Terbuka, suka cengar-cengir, sampai-sampai seorang teman SMA pernah mengatakan kalo hidup saya itu sepertinya senang terus. (padahal hidup mah naik turun ya dan menurut saya semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi setiap kesusahan atau kesenangan yang datang).

Back to cerewet, alhamdulillah salah satu sifat ini saya warisi dari Ibu yang memang saya akui tergolong ibu yang sangat cerewet, bahkan lebih dari saya. Tapi kecerewetan beliau nyatanya membuahkan hasil positif.

Saya sewaktu SMA yang aslinya kurang peduli dengan kebersihan karena lebih suka dan sering berkegiatan di luar kini sadar betapa pentingnya menjaga kebersihan dan kerapihan rumah atau area-area milik pribadi. Ini semua berkat Ibu yang tak pernah henti dan lelah mengingatkan saya untuk selalu rapi dan bersih. Btw, ibu saya memang orang yang super rapi dan bersih. Beliau bahkan tidak tahan melihat lap wastafel yang tidak dilipat dengan sebagaimana mestinya, jengah dengan baju yang digantung di dinding, juga jengah saat melihat lipatan baju-baju yang tidak sama panjang satu sama lain.

Beliau pula lah yang dengan kecerewetannya membuat saya selalu ingat makan pagi dan sore. Walau kadang masih mencolong waktu untuk tidak makan pagi :p
Beliau pula yang selalu mengingatkan mengenai kesehatan anak-anaknya bahkan sampai-sampai anak orang lain terkadang dicereweti. (karena beliau memang orang kesehatan).

Hal ini juga menurun pada saya, setiap teman yang sakit atau memang punya pantangan ketika sakit akan terus saya cereweti sampai ia benar-benar menghindari pantangan atau meminum obatnya. (Banyak teman sudah jadi korban kecerewetan saya dan mmg mengakui kalo saya cerewet)

Sifat “Cerewet” ini pasti punya sisi positif dan negatifnya masing-masing. Lagi-lagi kembali kepada sudut pandang masing-masing orang.

Ketika kita mencereweti orang lain dengan tujuan baik dan dengan cara yang benar tentu hal ini akan jadi positif. Namun cerewet juga bisa menjadi negatif ketika orang yang dicereweti malah menjadi malas mendengarkan cerewetan kita bahkan sampai kabur. Bila sudah seperti ini, orang yang mencereweti juga harus berkaca lagi apakah cerewetannya itu bermanfaat atau tidak, disampaikan dengan gaya yang baik atau tidak, tulus atau tidak, dan yang terpenting, dengan kasih sayang atau tidak.

Sama halnya cerewet para Ibu yang sayang pada buah hatinya. Ia lantas tak akan membiarkan anaknya mengarungi perjalanan kehidupan ini dengan begitu saja tanpa dibekali muatan-muatan positif. Cerewet inilah salah satu tools untuk menyampaikan bekal sang anak di perjalanan hidup yang cukup panjang. Apa jadinya kalau seorang Ibu malas mengingatkan/mencereweti anaknya untuk makan, mandi, atau sholat?
Silahkan bayangkan sendiri :))

Yap, at the end cerewet memang harus diracik dengan niat ikhlas dan positif, disempurnakan juga dengan bumbu kasih sayang layaknya kasih sayang milik ibu pada anaknya🙂

Be positive with cerewet! :))

2 thoughts on “Ah, Cerewet!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s