Sebuah Memoar untuk Diingat

Yang sedang merasa penat dan lelah cobalah beristirahat sejenak sambil melirik sedikit tulisan ini. Semoga bisa menjadi penawar jenuh, lelah, atau sedih yang sedang dirasakan.

Saat-saat seperti ini— saat kerjaan menumpuk dan harus diselesaikan sampai larut malam seperti sekarang ini, biasanya aku sering iseng mengecek handphone hanya tuk sekedar lepas penat. Ibu jariku menekan layar memilih satu dari sekian aplikasi media sosial di handphoneku. Sambil berselancar kesana kemari, mataku menangkap kata ’ibu’ pada layar, ibu jariku secara otomatis berhenti bergerak.  Mataku fokus tertuju membaca artikel ‘ibu’ itu. Baru membacanya sampai kalimat keempat, pipi ini tanpa disadari telah basah oleh air mata yang turun tiba-tiba.

                         ***

Saat ini, ketika kita merasa jenuh, sebal, kesal, lelah, mari sejenak membuka memoar masa lalu seorang malaikat yang penuh kasih sayang pada kita.
Memoar tentang seseorang, ibu kita.

Seperti yang kita tahu, sakit dan lelahnya ibu tak bisa dibandingkan dengan sakit dan lelah yang kita rasakan. Dimulai ketika Ibu mengandung kita dengan susah payah.

9 bulan mengandung, di bulan-bulan awal ibu sudah mual dan muntah-muntah, sehari bisa sampai 5 kali. Kalau kita muntah sekali saja biasanya langsung heboh. Lalu berlanjut ketika kandungannya mulai membesar, tidurnya sulit. Sulit berbaring di segala posisi. Belum lagi punggungnya yang lelah dan lemas karena selalu mencoba menahan beban di perutnya.

Proses itu masih berlanjut sampai persalinan. Darah tercecer, setengah mati ia berjuang demi kita, bertaruh nyawa. Pernahkah terpikir bertaruh nyawa untuk Ibu kita? Mungkin, iya.

Belum selesai sampai di situ. Ketika sudah lahir, matanya selalu terjaga mengawasi kita mulai dari pagi hingga pagi selanjutnya. Bahkan terkadang ibu hanya tidur 2-3jam.

Berlanjut ketika balita hingga remaja. Ibu, yang selalu mengkhawatirkan anaknya masih saja mendapat ujian. Kita yang nakal dan suka berbuat ulah selalu jadi bahan ujian untuk Ibu.

Hingga dewasa seperti sekarang ini, masih saja  Ibu dilupakan, menjadi nomorsekian bagi kita yang “sibuk dan lelah”. Padahal Ibu selalu menomorsatukan kita diantara orang-orang lain. Ia selalu memikirkan kita dengan hati dan nalurinya sebagai Ibu.
Terkadang telepon yang masuk dari Ibu malah kita sambut dengan perasaan datar dan biasa saja bahkan sesekali dibarengi kata “CK”, padahal di seberang sana hatinya sangat  rindu—selalu terpikir oleh buah hatinya. Rindu, cemas, khawatir, ah mungkin lebih dari itu karena aku pun belum bisa merasakan apa yang dirasakannya. Hei, apa itu balasan kita untuk seorang malaikat tulus yang diutus Allah untuk mengasuh dan menjaga kita?

Saat sekali ia minta untuk bercerita tentang kegiatan kita, terkadang rasa malas bahkan kekesalan yang kita balas padanya. Padahal sedari kita masih kecil  hingga sekarang., dengan sabarnya ia tetap meladeni pertanyaan-pertanyaan remeh yang kita lontarkan.

Seringkali air matanya jatuh diiringi dengan kalimat-kalimat “maaf” atas kesalahannya. Sedang kita yang sangat banyak menoreh luka di hatinya malu dan sungkan meminta maaf padanya, mungkin terhitung hanya sekali dua kali.
Ketika berdo’a, ia selalu mendoakan yang terbaik untuk kita hingga terkadang ia menangis terisak. Sedang kita sibuk dengan permintaan-permintaan duniawi sampai sering terlupa mendoakan kebaikan dunia dan akhirat untuknya.

Ibu, maafkan, Bu… maafkan..

Rasanya kisah demi kisah kasih sayangmu padaku tak dapat kutulis semuanya sekalipun dengan air di lautan sebagai tintanya. Tiap kata yang keluar, perlakuan yang kau lakukan terang-terangan hingga sembunyi-sembunyi untukku tidak bisa kutulis semua.

Penat yang kini kurasa nyatanya belum sebanding dengan rasa sakit yang telah kau dapatkan demi aku. Detik-detik lelah ini ternyata belum sebanding dengan milyaran detik lelah yang kau dapatkan. Sakit yang dirasa ini ternyata belum sebanyak sakit yang kau rasa.

Sahabat,
Ingatkah ketika kemarin ia selalu memikirkan kita di saat-saat kita melupakannya?

Ingatkah ketika kemarin ia berusaha memenuhi kebutuhan kita sekalipun ia sedang kekurangan?

Ingatkah lelah yang selama ini didapat belum bisa membahagiakannya? Membuatnya hatinya selalu tenang..

Ibu, maafkan, Bu… maafkan..

Hadiah terbesar untukmu akan kupersembahkan di surga nanti, Bu. Di surga, tempat dimana Ibu tak kan lagi mendapat kesakitan dan peluh seperti di sini.

Bahagiaku juga bahagiamu, Bu. Selalu..

Dari anakmu, Aku.

Teringat catatan hidup seorang laki-laki yang katanya selalu dekat dengan Ibunya. Yang Ibunya selalu ingat dan bahagia pada laki-laki itu bahkan di detik-detik terakhir hidupnya. Laki-laki itu kemudian bercerita, kurang lebih seperti ini,

“Saat itu ibu saya baru pulang dari rumah sakit dan minta dibaringkan di kamar. Ibu meminta saya agar selalu di dekatnya. Saat itu saya tau saat itu adalah detik-detik terakhir Ibu, maka saya memeluknya sambil memanjaatkan do’a untuknya. Di saat itu juga akhirnya Allah menjemput Ibu saya”

Kisah ini diceritakan langsung dari sumbernya, dari ustadz saat kajian di Fakultas.

Apa kuncinya agar ibu bahagia dengan keberadaan dan kehadiran kita? Do’a dan bakti, bukan sekadar materi atau segala sesuatu yang bersifat duniawi— yang tentunya hanya bersifat temporer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s