Belajar agar Siap pada Waktunya (part I)

Kali ini ingin berbagi sebuah tulisan tentang “Menjadi Ibu yang Dicintai Allah dan Anak-anaknya” yang saya salin dari Mushaf Aminah. Semoga bermanfaat ya buat teman-teman wanita lainnya, para calon Ibu😀

 

Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi kepada para ibu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR Ahmad) Seseorang yang menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina.

 

Bila seorang muslimah menyadari betapa tinggi dan mulia peran ibu, niscaya ia tidak akan menukarnya dengan aktivitas-aktivitas yang hukumnya mubah. Sekiranya ia harus bekerja untuk membantu mencukupi nafkah keluarganya, maka ia akan mencari cara pelaksanaan aktivitas tersebut tanpa mengurangi keoptimalan peran keibuannya. Ia akan menjadi orang yang ingin melalui tahap demi tahap pertumbuhan anaknya di usia dini, sejak merawat kandungan, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya. Islam memberikan balasan atas aktivitas-aktivitas tersebut setara dengan pahala pejuang fisabilillah di garis depan medan pertempuran. 

Rasulullah SAW bersabda, “Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang di garis depan fisabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah mati syahid.” (HR Thabrani)

 

Sungguh, motivasi meraih kemuliaan inilah yang mendorong para ibu untuk mencurahkan kesungguhannya menjalankan peranannya. Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menggantikan nilai strategis peran ibu dalam pendidikan anak usia dini. Ibu adalah figur terdekat bagi anak. Kasih sayang sang ibu menjadi jaminan awal bagi tumbuh kembang anak secara baik dan aman. Sebab kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan. Kita tentunya mendambakan lahirnya generasi-generasi unggulan berkualitas pemimpin. Sudah saatnya harapan ini ditanamkan pada anak sejak usia dini. Ibulah harapan utama dalam mencetak generasi dambaan ini.

 

Jika sebagian ibu masih mengesampingkan peranan “ibu” ini, bahkan melalaikan dengan berbagai alasan yang tidak dibenarkan dalam Islam, maka masihkah layak dikatakan syurga di telapak kakinya?

 

Ibu memegang peran dan tanggung jawab yang terpenting pada anak-anak terutama dalam usia dini. Pada usia dini, keterikatan anak dan ibu terjalin kuat. Bahkan secara khusus Al-Qur’an menyebutkan adanya bakti kepada ibu, lebih dari ayah. Inilah pesan Islam yang terdalam mengenai keutamaan dan kemuliaan peran ibu pada anak-anak usia dini.

 

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman : 14)

 

Dari Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Jawab beliau, “Ibumu”. Dia bertanya, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Bapakmu”. (HR Bukhari Muslim)

 

Kasih ibu tak pernah terbalas oleh apapun juga. Yang bisa dilakukan anak hanyalah memberi penghormatan dan pelayanan, terutama ketika mereka sudah tua dan dalam keadaan lemah. Dengan alasan apapun, orang tua, terutama ibu harus mendapatkam penghormatan dan pelayanan utama. Sesibuk apapun, sesulit apapun, ibu harus tetap dihormati dan dilayani.

 

Begitu agung sosok seorang ibu. Keutamaan seperti ini tentu saja hanya akan diberikan kepada para ibu yang mengetahui hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah, pendamping suami, ibu dari anak-anak, bagian dari masyarakat, dan pencetak generasi yang Rabbani. Namun banyak sekali seorang ibu yang tidak mengerti dan bahkan tidak melakukan perannya sebagai seorang ibu.

Rasulullah SAW. bersabda, “Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggunjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadits tersebut mengatur peran ayah dan ibu dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu juga memiliki peran yang penting dan strategis dalam pendidikan anak di rumah.

Bersambung…

 

Semoga bermanfaat teman-teman. Karena kita harus belajar agar siap pada waktunya🙂

Image

Image

Image

Image

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s