Mimpi Kemenangan

Disini malam hangat ditemani camilan manis, di atas tempat duduk empuk dan hati penuh ketenteraman aku mencoba menenggelamkan diri ke masa lampau lewat buku-buku para ksatria Islam yang hidup ratusan tahun lalu.

Tiap kali membuka lembar demi lembar dan mengunyah kisah penuh darah para pejuang Allah,
aku bergidik, dahiku mengerut tiap kali membandingkan apa yang sedang kulakukan detik ini dengan apa yang sedang dilakukan para pejuang di masa lampau di bilangan jam yang sama.

Tiba-tiba aku berada di tempat lain —

Aku berdiri di tengah gemuruh takbir yang dipekikkan oleh sekitar ratus ribuan ksatria Allah di medan laga. Lututku melumpuh. Mulutku ternganga bulat.

Seakan tak percaya dapat melihat panji-panji yang tergantung serta bendera-bendera bertuliskan kalimat tauhid yang disematkan di ujung setiap tombak, dengan langkah seringan debu aku mencoba  menelusup ke celah-celah kerumunan prajurit.

Mungkin kedengarannya aneh, tapi begitulah..

aku berhasil berdiri mendengar khutbah dan orasi para panglima perang mengenai Al-Fath , sambil melihat ke depan dan membayangkan  takbir yang dilantangkan sekeras-kerasnya atas kemenangan yang akan diperoleh.
“Allahuakbar!! Allahuakbar!! Allahuakbar!!”
Rindunya..

Di samping kanan kiriku tak ada wajah yang tertunduk ke tanah, semua wajah menatap lurus penuh harap. Dari mulut mereka terdengar lantunan do’a mengharap kesyahidan yang dinantikannya sejak lama. Pedang mereka yang terhunus dan siap diayunkan dengan garang seolah di lem tak bisa dilepaskan dari genggaman.
Bukan wajah bengis yang mereka tunjukkan namun wajah penuh keikhlasan dan kobaran api jihad.

Di shaf terdepan semua prajurit tidak terlihat berat memegang perisai di tangan kiri sekaligus tombak di tangan kanan, semua tetap kokoh di tangan mereka. Ratusan Trebuchet dan meriam sudah disiapkan di berbagai titik, para pemanah pun siap siaga melempar anak panahnya dari bawah langit. Badan mereka tak ada yang membungkuk, semua dada kaku membusung.

Orasi selesai, sang panglima berteriak “Allahuakbar!!”,

Kami membalas, “Allahuakbaaar!!!”

Dengan meninggikan pedang yang terhunus sampai melebihi kepala,
kami semua berhambur bagai singa yang baru dilepaskan dari kandang. Bunyi letusan meriam yang memekik kalah dengan derap kaki kami. Aku terus maju …

BAM!!

“ah, rupanya mimpi…”, aku tercenung.

“ingin sekali aku mencicipi detik-detik itu..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s