Hikmah 10 Hari

Keindahan serta kesucian hati pada 10 terakhir Ramadhan 1434 Hijriah ini begitu melekat dalam diri.

Banyak hikmah kehidupan yang tersembul dan diungkap oleh Allah di hadapan mata. Kini aku coba mengabadikannya agar kisah-kisah di 10 terakhir Ramadhan tahun ini dapat terpatri dalam hati yang seringkali berkarat.

Kisah yang akan aku ceritakan tidak kudapat dari kitab maupun kajian manapun, ini kisah yang kualami sendiri, yang Allah singkap hikmahnya kepadaku.

 

                Ini mungkin Ramadhan terbaik yang aku punya. Ramadhan yang insyaAllah lebih  berkualitas yang disana pelajaran hidup benar-benar melekat dalam hati bahkan mungkin merubah hati ini yang tadinya kebingungan melihat arah menjadi hati yang lebih tegas untuk melangkah.

                10 Hari terakhir Ramadhan ini kuhabiskan bersama Allah, Malaikat-Nya serta orang-orang yang kucintai.

Alhamdulillah malam 20 Ramadhan aku mulai berbenah untuk melaksanakan i’tikaf di Masjid At-Tin bersama 7 orang teman dan 1 guru. 10 hari bertinggal di sana memberikan pelajaran yang tidak berbayar.

Masjid At-Tin pun menjadi saksi bisu kisah-kisah yang akan kuurai dalam poin-poin dalam tulisan ini. Semoga bisa menjadi penawar hati yang mungkin sedang kebingungan atau gelisah.

 

Pertama, tentang Al-Qur’an

                Al-Qur’an yang sejatinya adalah Hudan lil muttaqin selalu berusaha saya pelajari karena mempelajari Al-Qur’an adalah tentang pembelajaran seumur hidup, bahkan mempelajarinya tidak bisa dikuasai hanya dalam batas umur kita. Maka pelajarilah Al-Qur’an sedini mungkin, sebelum terlambat, sebelum engkau menangis terisak karena pernah meninggalkannya dalam waktu yang sangat lama. Dengan Al-Qur’an pula kita akan semakin memaknai kehidupan, waktu, dan Allah itu sendiri. Kurang lebih hikmah itulah yang saya dapat dari beberapa kisah yang akan saya ceritakan ini,

                Sore itu saya bersama 7 teman lain dan seorang guru sedang duduk meriung memuraja’ah hafalan kami. Tak lama kami memulai, datang seorang wanita paruh baya, teman guru saya. Usianya mungkin sekitar 45-50 tahun. Ia menghampiri kami dengan parasnya yang berseri dan tarikan senyuman lebar. Rupanya beliau adalah teman dekat guru kami. Ibu A, saya menyebutnya. Rupanya ia sangat antusias dengan yang sedang kami lakukan, cukup lama beliau memerhatikan kami yang sedang berusaha mengingat-ingat setiap kalimat Allah. Setelah kami selesaikan muraja’ah, guru kami pun memperkenalkan beliau pada kami begitu pun sebaliknya, guru kami memperkenalkan kami pada ibu A. Di tengah-tengah pembicaraan, sang ibu A menyatakan sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Kurang lebih seperti ini,

                                “Adek-adek bersyukur ya udah belajar Al-Qur’an dari umur segini. Kalo saya mah aduh ya.. dulu pas muda ngebuang waktu banget deh, bener deh saya nyesel.” Air muka beliau seketika berubah, matanya mulai berkaca-kaca.

                                “Ih, rasanya nyesel banget deh bener, saya rasanya mau nangis. Dulu menyia-nyiakan waktu. Pengen muda lagi deh beneran..” tandasnya sambil menyeka air mata yang mulai keluar dari ujung kedua matanya.

                Itu tadi kisah pertama, kisah yang tidak akan saya lupakan seumur hidup. Kisah kedua ini juga memberikan banyak sekali hikmah yang bersangkutan dengan Al-Qur’an.

                Ba’da Ashar di Masjid At-Tin, Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar tahsin langsung dengan seorang syekh dari Tanah Arab. Namanya syekh Abdullah.

                Dengan sebuah microphone, saya melantangkan bacaan Al-Kahfi di depan puluhan jama’ah sore itu. Alhamdulillah kesalahan makhraj dan tajwid saya tidak banyak rupanya.

Sampai disini ceritanya?😀 hehe nggak dong, bukan di sini akhir ceritanya,

Seusai tahsin, saya baru hendak melanjutkan kegiatan lain sebelum sesaat sebuah tepukan di bahu kanan saya membuat sedikit terkejut.

Alhamdulillah dek,” kata sebuah suara yang sedikit serak dengan logat Jawa Tengah yang kental, langsung saya menoleh pada sumber suara. Rupanya seorang nenek, yang usianya mungkin sekitar 60-70 tahun. Ia mengajak saya untuk bersalaman.

Dek, tadi bagus banget bacaannya, ajari saya ya dek,” ia langsung memeluk, saya kaget.

Ajari saya ya dek, bacaan saya masih jelek sekali,” katanya sambil mengelus-elus tangan saya. Raut wajahnya menunjukkan rasa haru sekaligus sedikit kesedihan.

Alhamdulillah bu, saya juga masih belajar ini bu,” saya nyengir dan sedikit linglung mengapa Ibu ini se-begitunya dengan bacaan saya, padahal jujur ibu-ibu yang tahsin bersama saya sebelumnya jauh lebih jago.

InsyaAllah ya bu saya coba nanti dikit-dikit, memang Ibu nggak bisa dimana Bu?

Tajwid saya masih jelek sekali dek,

Ibu itu kemudian bercerita langsung, usianya kini 67 tahun-an (kalo nggak salah :D). Beliau bilang ia baru mulai mempelajari membaca Al-Qur’an saat usianya 60 tahun. Ia mengaku sedang belajar dengan seorang guru ngaji yang rutin ia lakukan setiap hari Selasa.

Saya sedih dek baru belajar, dulu waktu saya masih muda, belajar ngaji itu sulit sekali dek, harus jalan 6-7km buat sampai ke tempat ngajinya. Itu juga kadang kalo saya dateng, guru ngajinya udah pulang main bola. Jadi sulit sekali dulu. Baru-baru aja ini saya ini belajarnya

Saya merenung beberapa detik dengan perkataan yang ia sampaikan.

Ibu juga coba belajar artinya?” tanya saya penasaran,

Saya mah udah mau belajarnya ini aja, tajwid dulu aja, yang lain mah udah nggak usah

Oh begitu bu..

Setelah bercakap cukup lama, akhirnya beliau membaca surat Al-An’am yang katanya sangat ingin ia baca terus-menerus. Ketika beliau membaca satu sampai dua ayat, saya terkejut ternyata bacaannya lebih baik daripada yang saya bayangkan. Beliau kelihatan terengah-engah setiap membaca 4-5 kata, nafasnya tidak kuat. Walau begitu, saya sangat kagum dengan semangat belajar beliau yang tinggi. Ia bersikeras menghafalkan hukum tajwid seperti idghom, ihkfa, mad wajib, dll  yang sangat banyak aturan mainnya.

Kalo ada yang salah, langsung salahin saya aja ya dek,” Katanya sambil menunjuk sebaris ayat dalam Al-Qur’an yang tidak ada terjemahnya itu.

Iya bu,

 

Itu adalah kisah kedua yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup sampai Allah berkehendak yang lain.

Begitu melekat makna dari kedua kisah ini bagi saya. Rupanya Allah ingin menyampaikan pesan-Nya melalui dua kisah ini pada saya dan kamu agar tidak berhenti untuk mempelajari Al-Qur’an. Benar jika dimaknai secara mendalam bahwa mempelajari Al-Qur’an dari kecil pun tidak cukup, apalagi nanti ketika sudah tua. Pun belum tentu kan usia kita sampai pada usia tua.

 

                DON’T LEAVE QUR’AN!

“Iya, apalagi sih yang kita cari di dunia. harta? Kedudukan? Boleh tapi semua harus berorientasi pada Allah”

 

“Pun ketika kita sudah menginjak usia tua, pasti lebih memikirkan persiapan untuk kematian ketimbang pekerjaan, harta dan lain-lain”

 

“Al-Qur’an nggak boleh didiamkan, Al-Qur’an adalah kata-kata Allah yang isinya peringatan kasih sayang..”

 

“Iya, Allah sangat sayang sama kita, manusia yang hina dina saja masih coba diperingatkan lho. Bahkan cinta  Allah lebih besar dari cinta yang dimiliki oleh ibu kita yang selalu mengingatkan kita dalam kelalaian”

 

“Ilmu Allah itu banyaknya tak terhingga, kapan mau mulai mempelajarinya?”

 

“Mau tunggu tua untuk dekat sama Allah?”

 

  Bersambung …

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s