Belum cukup

Hangatnya selimut tak membiarkan sang pelayan itu tetap terlelap. Segera ia sadar betapa inilah waktu yang tepat untuk kembali merindu. Ia bangun sebelum ia sempat merenung sesaat. Dalam benaknya terbesit cerita tentang Rasul yang selalu bangun di sepertiga malam akhir untuk kembali menemui-Nya, merindu-Nya.

Segera ia membasuh anggota tubuhnya, sebelum itu ia membaca ta’awudz agar wudhunya sempurna.

Ia laksanakan perjumpaan dengan-Nya dengan perjuangan untuk mencapai kekhusyukan. Setiap butir kata ia coba maknai, setiap hela nafas yang ia hirup coba ia sadari bahwa mungkin itulah tarikan atau hembusan nafas terakhirnya di dunia.
Air mata mengalir deras hingga jatuh pada sajadahnya yang terbentang di atas lantai dingin malam itu.

Sang pelayan masih takjub dengan kondisinya saat ini. Ia masih ternganga mengetahui bahwa ia dapat mengecap indahnya iman hingga tahap ini. Dahulu saja ia sulit membayangkan bisa menangis penuh takut dan harap dalam sholat, namun dalam beberapa waktu terakhir ia dapat mewujudkannya bahkan dalam sholat malam. Subhanallah kasih-Nya pada sang pelayan begitu indah. 

Masih hina, munafik, itulah yang coba ia ingatkan pada dirinya sendiri agar ia tahu bahwa amalannya belumlah cukup. Sangat belum cukup.

Ia sadar ia hanya hidup dalam sebuah era. Era yang nantinya akan berlalu dan memusnahkan dirinya. Sadar bahwa ia akan menemui-Nya suatu hari.

“Belum, belum cukup sampai disini amalanku”, tandasnya dalam hati. Ia sadar kontribusi dan konsistensinya dalam Islam masih sangat minim. Tak sebanding para syuhada pendahulu.

Berlanjut sholat Fajr bersama kawan seperjuangan. Dalam sholat Fajr, ia merasakan ketenangan batin luar biasa. Namun ia tak sampai hati untuk menangis saat itu karena tahu bacaannya akan tersendat kala mengimami kawannya.

Berlanjut tilawah dan hafalan qur’an. Interaksi sang pelayan tidak cukup dengan sholat. Impian menjadi hafidzah selalu ia tekankan agar selalu konsisten dalam mengingat Kalamullah. Merasa belum dapat berbakti pada kedua orangtuanya, ia selalu memimpikan dapat mengantar keduanya ke syurga-Nya untuk kemudian kembali berkumpul bersama.

Ia sadar sederet perbuatannya dari malam hingga fajr hari ini hanyalah secuil kebaikan di dalam gundukan dosanya. Sehingga selalu ia tanamkan dalam diri,
“Belum cukup, belum cukup sampai hari ini amalku”

Depok, 06:44
5 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s