Surat untukmu

Dik, tahukah kamu bahwa aku baru saja mendapat pelajaran berharga hari ini?

Izinkan aku memberitahumu, semoga Allah meridhoi kita. Semoga cerita ini bermanfaat untukmu dan semua ummat-Nya, Dik.

Dahulu ada seorang pemuda, ia manusia biasa, bukan siapa-siapa. Tak punya kekuatan, tak punya kelebihan, padahal usaha yang dilakukannya terbilang cukup, walau belum maksimal. Lingkungan sekitar pun biasa-biasa saja memperlakukan dirinya. Nothing special.

Hingga pada suatu saat, sebuah kejadian mengubah dirinya.

Kala itu sang pemuda diremehkan kemampuannya oleh lingkungan sekitarnya. Ia dianggap tidak punya kemampuan apa-apa, kualitas hidupnya pun biasa saja, usaha yang ia jalankan belum pernah membuahkan hasil, stagnan–kata mereka. Berbagai kejadian lain pun menimpa dirinya, gadis yang ia sukai pun ikut meremehkannya.
Hidupnya saat itu bagaikan telur diujung tanduk. Tak ada satupun orang yang mendukungnya atau membangkitkan semangatnya.

Hingga pada akhirnya, Allah mengangkat bebannya, memberinya kemudahan. Melalui kuasa-Nya, Allah pun terus memudahkan jalan sang pemuda ini. Namun tanpa sadar, pemuda ini tak pernah ingat bahwa semua keringanan ini bersumber dari-Nya.

Sampai suatu waktu, ketika ia sedang menuju puncak kesuksesan, pemuda itu berkata dalam hati, “Hai kalian semua yang pernah meremehkanku, lihatlah suatu saat siapa yang akan menangis di akhir cerita!”

Pemuda itupun melanjutkan kegiatan mencari kesuksesan hidup. Seluruh jiwa raga ia curahkan untuk fokus pada pencapaian kesuksesannya. Membantu sesama juga termasuk dalam agenda hidupnya sehari-hari. Jatuh bangun ia rasakan dalam perjalanan menuju suksesnya. Hingga suatu waktu, kejayaan pun menghampirinya.
Pemuda itu menjadi salah satu sosok tersohor di negerinya. Terbilang sebagai sosok yang menginspirasi atas kesuksesannya. Harta dan kekuasaan pun sudah ia genggam erat di tangannya.

Sang pemuda pun sekarang berada di titik paling tinggi pada roda kehidupannya.

Tak lama semenjak kejadian itu, ia pun diberi ujian oleh Allah. Ia dilanda sakit keras sehingga mngharuskan dirinya menjalani pengobatan secara terus-menerus. Hari demi hari, tahun demi tahun sakitnya pun bukannya kian membaik, malah makin menggerogoti jasad yang dulunya sangat sehat bugar. Hartanya pun terkuras habis untuk membayar biaya pengobatan. Kini ia hanya terus mengeluh tetang nasibnya. Ia sering mengelu-elukan dan merindukan kejayaan yang dulu pernah ia dapat. Ia kerap malu jika harus menemui kawan-kawan lama yang dulu pernah memuja-mujanya saat ia masih pada masa keemasannya. Kehidupannya kini pun terasa gelap baginya.

Hai Dik, apa yang dapat kau ambil?

Awal sekali sang pemuda pernah jatuh dalam keterpurukan, kemudian ia ingin membuktikan pada orang-orang yang pernah meremehkannya. Ia pun berhasil membuktikan pada orang-orang yang pernah mengejeknya, hingga ia kembali kepada keterpurukan. Pemuda itupun kembali meratapi keterpurukan dirinya.

Dik. apa yang salah? Padahal sang pemuda sudah mencoba berbuat kebaikan dengan membuktikan jika dirinya baik dan bisa mencapai kesuksesan. Namun apakah yang salah dengan dirinya?

Niat, Dik.

Dari awal sekali, niat yang ia tekadkan adalah untuk membuktikan kesuksesannya pada orang yang pernah meremehkannya. Walhasil ia dapat meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya hingga dielu-elukan. Namun di akhir cerita, ia harus kembali merenungi keterpurukannya.

Niat selama mencari kesuksesan adalah selain untuk menghidupi diri dan keluarga, namun masih tersisip niat untuk mencapai penghargaan dari manusia semata. Ternyata sang pemuda lupa oleh Sang Maha Pemberi Rizki. Yang terpikir olehnya hanyalah mendapat penghargaan dan sanjungan dari manusia. Ia lupa bahwa sanjungan yang harus ia cari adalah dari Sang Pencipta. Dan ketika ia harus terpuruk lagi, ia menderita dan malu bila bertemu dengan orang-orang yang pernah mencacinya dahulu kala.

Dik, tak dapat kita pungkiri bahwa sifat alamiah manusia adalah ingin mendapat pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Namun, kita harus tetap ingat pada pemilik segala-galanya. Bahwa penghargaan yang kita harapkan haruslah hanya dari-Nya. Jika kita sudah bisa berpikir demikian, insyaAllah kondisi seterpuruk apapun bisa kita buat untuk tetap mendapat penghargaan dari-Nya.

Dan jangan lupa dik, niatkan semua perbuatan hanya untuk mengharap ridho-Nya, hanya untuk kebaikan agama kita, Islam.

Mengenai peraihan kesuksesan, Dik. Jangan lupa untuk selalu mencari rezeki-Nya dimanapun kamu berada, jadilah sukses dan jadilah teladan. Tentu teladan yang kumaksudkan tidak hanya teladan yang hebat dan piawai dalam masalah duniawi, tapi juga akhirat. Karena dengan menjadi teladan seperti itu, akan banyak orang-orang yang meneladanimu, baik dari kemampuan pribadimu maupun dari tingkat keimananmu.

Dik, kesuksesan itu bersifat temporer, hanya beberapa tahun saja kau benar-benar dapat menikmati kejayaanmu itu, jadi jangan menjadikan kesuksesan duniawi adalah tujuan utama engkau hidup di dunia ini. Sungguh kesuksesan di kehidupan yang kekal yang seharusnya menjadi tujuan utama engkau berada di dunia.

Dik, tahukah engkau segala yang kuucapkan ini tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits?

1. Hadits Ke 1: Amal Perbuatan Tergantung Niat
AMAL PERBUATAN TERGANTUNG NIAT

‘an amiiril mu’miniina abii hafshin ‘umarobni khoththoobi rodhiya allahu ‘anhu qoola: sami’tu rosuulallahi shollallahu ‘alaihi wa sallam yaquulu: ” innamal a’maalu binniyaati, wa innamaa likullimri’im maa nawa, famang kaanat hijrotuhu ila allahi wa rosuulihi fahijrotuhu ila allahi wa rosuulihi, wamang kaanat hijrotuhu lidunyaa yushiibuhaa awimro’atin yangkihuhaa fahijrotuhu ila maa haajaro ilaihi ” rowaahu imaaman al-muhadditsiina abuu ‘abdillahi muhammad ubnu ismaa’iil abni ibroohiim abnil mughiirot abni bardizbah al-bukhooriyyu, wa abul husaini muslim ubnul hajjaj ibni mulumil qusyairiyyu an-naisaabuuriyyu fii shohiihaihimaa al-ladzaini humaa ashohhul kutubil mushonnafati.

1. Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia telah berkata: Saya pernah mendengar Rosuulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niyatnya, dan bagi seseorang tergantung apa yang ia niyatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rosulnya [mencari keridhoannya] maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rosulnya [keridhoannya]. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita maka hijrahnya itu tertuju kepada yang dihijrahkan.” [HR Imamnya Ahli Hadits Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi dalam kedua kitab shohihnya yang merupakan kitab tershohih dari kitab kitab hadits yang ditulis.

Dan dalam An-Nazi’at:46
“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.”

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا 46

Ingat dik, bila kamu hanya berharap pujian dan ingin dipandang oleh manusia, itu hanya akan membuatmu tersiksa di dunia dan akhirat.
Satu pesanku lagi, tetap jadilah sosok teladan terbaik. Tetap jadilah dirimu apa adanya🙂

success

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s