Alhamdulillah, so happy to know You

Lama tak menulis lagi, rasanya rindu ingin berbagi cerita kembali sekaligus memotivasi diri agar tetap ingat pada-Nya, pada keluarga, pada impian-impian yang harus dicapai.

Hari ini aku mau bercerita ttg sebuah kisah panjang bagaimana seorang manusia menemukan sebuah hal yang sangat berharga dalam hidupnya dan bagaimana ia mensyukuri hal tersebut.

                Aku baru mengenal-Nya sekarang. Ya! Sulit untuk mengungkapkan rasa ini ketika tahu bahwa aku telah mengenal-Nya!

                Pasti kau mengerti perbedaan kata “tahu” dan “kenal”. Tahu dan kenal sangat berbeda dimana saat kau mengetahui sesuatu, belum tentu kau dapat mengenalnya. Menurutku, “tahu” itu sesuatu yang hanya “sekedar” belum mendalam seperti “kenal”. Haha sudahlah, pasti kau bingung dengan penjelasanku. Langsung saja ya..

                Anggap saja ketika itu aku masih buta. Tak kenal dengan-Nya.

               Aku tumbuh di keluarga sederhana. Ibuku seorang wanita karir yang tak pernah lupa mengingatkan semua anak-anaknya untuk tetap ingat pada-Nya. Sholat, mengaji, menutup aurat, sudah digaungkan oleh ibu dan bapak sejak aku kecil bahkan sejak Sekolah Dasar. Aku pun tumbuh  mengikuti apa yang diajarkan oleh keluarga. Mengaji sehabis maghrib, berpuasa saat Ramadhan. Namun jujur sekarang aku sadar aku belum mengenal-Nya.

               Awal duduk di bangku SMA, aku benar-benar seorang pemalu. Berbicara dengan lawan jenis pun jarang, hanya sekali-dua kali jika perlu. Mengikuti salah satu organisasi 3P, aku pun mulai berkembang. Bukan lagi seorang pemalu. Berpendapat di muka umum pun menjadi kebiasaanku, bergaul dengan semua orang, mencoba berbagai hal baru, menjalani hal yang terlihat sangat umum  pada seorang remaja.

              Banyak hal-hal buruk yang kuanggap tidak tabu lagi saat itu. Satu hal terburuk yang pernah kulakukan  ̶  menjalin hubungan dengan seseorang, hal yang kebanyakan remaja pikir sangat sangat biasa. Penampilan merupakan salah satu hal penting bagiku saat itu dan menyabet gelar putri sekolah, semakin mendorongku untuk terus menjaga penampilan setiap hari.

                Walau begitu, aku tetap mengisi hari-hariku dengan ibadah, tetap mengaji walaupun tak serajin saat SD dan SMP. Berjilbab walaupun dengan sehelai kain tipis yang kurasa saat itu sudah cukup untuk menutupi kepala dan rambut. Pernah sekali saat itu aku berpikir untuk apa mengenakan jilbab berlipat-lipat. Aku seorang perempuan yang tergolong simpel, tak suka hal ribet, tidak terlalu memusingkan apa yang aku kenakan walaupun sekali lagi, penampilan merupakan hal yang cukup penting bagiku saat itu.

                Berteman dengan bebas, laki-laki dan perempuan, siapapun. Aku tak terbatas saat itu. Sekali itu aku menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dua kali menjalin hubungan dengan orang yang sama. Sedikit perasaan senang yang dapat diambil, kebanyakan sedih. Dan hal yang terburuk adalah peringatan balasan dari-Nya yang saat itu kuacuhkan. Sekali aku pernah mengikuti mentoring, kegiatan yang saat itu kukenal sebagai pendalaman ilmu agama. Sekali dua kali aku ikut, entah mengapa aku berpikir saat itu tak pantas bagiku mengikuti mentoring sedangkan aku sendiri “punya hubungan”. Aku pun tak pernah hadir lagi.

                Masih mengenai hubungan itu, awalnya ibu sangat tidak setuju, namun lambat laun sepertinya ia lelah atau apa  ̶  aku tak pernah tahu.

                Masih tetap beribadah dan menjalankan perintah-Nya walaupun salah satu larangan-Nya tetap kulakukan.

                Kehidupan SMA menjadi “duniaku”. Dunia dimana aku dapat bebas mengekspresikan apa yang kumau. Waktu pun terasa lengang di depan mata, membuang waktu dengan hal-hal yang tak berguna, terlebih, hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Akademis saat itu bukan prioritas walaupun aku punya jiwa seorang achiever.

                Walau kehidupanku dulu begitu adanya, aku tahu Dia. Dia memang hadir dalam setiap bacaan doaku, sholatku. Tapi tetap saja aku belum mengenal-Nya. Hari-hariku masih kuisi dengan kesenangan hingga aku diterima di sebuah perguruan tinggi ternama, diterima pada jurusan yang sangat kuimpi-impikan sejak masuk SMA. Hubungan dengan laki-laki itu pun berakhir ketika aku memutuskan untuk fokus menjalani kuliah.

                Tak perlu panjang lebar lagi, kampusku mengadakan kegiatan besar untuk setiap mahasiswa baru. ESQ, yang saat itu aku hanya ikut-ikutan saja. Awalnya kupikir acara tersebut sangat biasa, namun itulah titik awal dari perkenalanku dengan-Nya. Isak tangis dari sekitar ratus ribuan mahasiswa baru kudengar saat kegiatan ESQ. Inti dari acara tersebut adalah “perkenalan dengan-Nya” dan sejak saat itu aku benar-benar ingin mengenal-Nya. Sempat terpikir usai ESQ itu, aku merasa sangat bahagia karena tidak memutuskan untuk tetap menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Aku merasa terus dibayang-bayangi oleh-Nya.

“Mungkin Dia benar-benar membuka pintu lebar-lebar untukku agar aku bisa mengenal-Nya lebih dekat”, pikirku.

 Sejak saat itu, aku berusaha mencari-cari buku, hingga kutemukan sebuah buku berjudul “Belajar Mencintai Allah” ̶  buku yang sangat indah bagiku hingga sampai saat ini.

                Perbedaan signifikan kurasakan sebelum dan setelah mengenal-Nya. Tiap sholatku, ngajiku, puasaku, benar-benar kuniatkan untuk-Nya. Biarkan aku tekankan sekali lagi, mengenal-Nya membuat semua yang kulakukan adalah benar-benar untuk-Nya. Bukan untuk siapapun. Berbeda sekali saat aku hanya mengetahui-Nya. Walaupun saat itu aku sudah merasa mengenal-Nya, godaan demi godaan tetap datang padaku. Entah apapun bentuk godaannya, aku tetap mempertahankan diriku agar tidak terlena, agar tidak kembali pada situasi “hanya tahu Dia”. Aku terus mencari hal-hal yang membuat aku tetap teguh pada-Nya, bahkan mengenal-Nya lebih dalam. Aku benar-benar ingin istiqomah dalam iman islamku, bahkan inginnya meningkat. Perkenalan dengan-Nya pun tak sebentar, butuh waktu yang sangat lama berbulan-bulan, bahkan sampai setahun.

                Segala macam cara kucari demi mengenal-Nya lebih jauh. Mendekati teman teman sepaham. Boleh dibilang mendekati orang-orang sholeh, insyaAllah.

                Pernah suatu kali aku ingin sekali bergabung dengan sebuah organisasi dakwah dalam kampus, namun aku masih merasa belum pantas untuk masuk ke dalamnya. Namun, Dia memang terus-menerus membukakan pintu lebar-lebar untukku. Sebuah sms ajakan untuk bergabung di organisasi dakwah tersebut yang kudapat dari senior langsung kusambut dengan senang hati.

                “INI JALANKU!”, Teriakku dalam hati.

                Di lain sisi, Dia juga menuntunku untuk berbuat baik terhadap sesama, peduli dengan yang membutuhkan. Pengabdian Masyarakat, BEM FTUI. Lewat organisasi itulah, aku semakin dituntun untuk peka terhadap sesama. Dituntun untuk banyak bersyukur. Dia juga menuntunku untuk benar-benar terjun langsung pada masyarakat lewat komunitas bernama Dreamdelion. Ya, semuanya patut untuk aku syukuri.

                Saat aku masih sekedar “tahu”, aku mengaji saat ada waktu saja. Namun Dia menuntunku, sekali lagi.

               Suatu hari aku ditugaskan untuk melakukan wawancara dengan senior-senior di ft yang dikenal memegang amanah besar di kampus namun tetap mengaji (tilawah). Dari wawancara itu, aku mulai sadar urgensi akan Al-Qur’an. Hingga akhirnya kumulai interaksi dengan Al-Qur’an, aku biasakan untuk selalu membacanya.

                Memutuskan menggunakan busana yang benar menurut islam tak pernah terpikir sebelumnya olehku. Namun sekali lagi, Dia ingin membukakan pintu selebar-lebarnya untukku agar dapat mengenalnya lebih jauh. Satu hari aku hanya coba-coba memakai jilbab yang menurutku, cukup menutupi dan tidak tipis seperti sebelumnya lagi. Setelah hari itu selesai, keesokan harinya aku berpikir bahwa harus ada perubahan. Sejak hari itu dan seterusnya, aku mencoba untuk selalu istiqomah.

                Perbaikan-perbaikan selalu ingin kulakukan begitu aku mengenal-Nya. Aku bahagia telah mengenal-Nya. Aku ingin selalu dekat dengan-Nya walaupun dalam proses perjalanan pendekatan ini banyak sekali batu yang menghadang.

                Sejak aku mengenal-Mu, wahai Rabb, Tuhan Semesta Alam, aku jadi tahu untuk apa aku hidup di dunia. Aku jadi tahu betapa keberadaanku di dunia sangatlah sia-sia jika aku hanya sekedar mengetahui-Mu, mengenal-Mu, namun tak pernah mendekati-Mu. Aku jadi tahu betapa hidupku akan sia-sia jika aku tak ingin lebih memasuki pintu yang telah kau buka lebar-lebar sejak saat itu.

                Ya Allah Tuhan yang memiliki seluruh alam, semoga semakin banyak manusia yang mengenal-Mu. Semoga semakin banyak manusia yang ingin mendekati-Mu. Aamiin Ya Rabb

                Ya Rabb, ijinkan aku mendekati-Mu, mengingat-Mu, mencintai-Mu.

 

Yap! Usai sudah ceritanya!🙂

Semoga bermanfaat, teman, ini kisah nyata lho hehe🙂

Maaf jika ceritanya tiba-tiba menyinggung perasaan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s