Rindu dariku

Apakah kamu masih ingat denganku?

Dahulu kau begitu menginginkanku
Begitu Menggebu
Kau berharap menemuiku
Hingga menulis segala cara untuk menggapaiku

Dulu, kau tuliskan aku
Dalam setiap kertas yang ada di genggamanmu
Dulu, kau selalu menggantungku didalam pikiranmu
Sungguh aku tahu benar itu

Dulu, kau selalu menyebutku dalam doamu
Dulu, besar harapanmu padaku

Kau apakan aku kini?
Apa kau sudah lupa dengan janjimu dulu?
Kau tak lagi menginginkanku?
Atau kau lelah mengejarku?
Apakah diriku sesulit itu?

Entah, hanya Dia dan dirimu yang tahu

Dapatkah kau mengembalikan rasa itu?
Sungguh aku rindu dengan coretanmu itu
Coretan di dinding juga buku harianmu
Disitu kau selalu menyebutku
Berazzam untuk menemuiku

Dapatkah kamu seperti dulu lagi?
Entahlah, aku hanya mampu berharap
berharap agar dirimu merenung
Merenungi semua kata-katamu dulu, mimpi-mimpimu dulu, janjimu dulu

Aku hanya mampu berdoa agar dirimu kembali mendapatkan semangat itu, semangat menemuiku,

Dapatkah?
Tolong, aku sangat merindukanmu,

Dariku untukmu,

Mimpimu (re: hafidzhoh)

Midnight Story

Can i write something tonight?

Been a long time since my last post here, i kinda miss writing here again.

You know, when i choose to make a writing in english, it means that i am in a bad bad bad condition. I dont know why, but i’ve been using this since i was in high school.

My friend just told me that when you face a hard times, it means that Allah wants to give you ‘something’. I dont know what the thing is but i have to believe that it’s good for me.

“Wa ‘asaaa antakrohu syaiaw wa huwa khoirullakum”

Yap, you may not like it but it is good for you!

Just like Allah said in the Quran, “Bersama kesulitan ada kemudahan”,

O Allah, your words are just beautiful, even if i’ve heard those words million times, i’ve never got bored listening  Your words.

Just keep in mind that Allah will be there, He NEVER ASLEEP,

You dont have to be worried because When You ask about him, he will answer,

“Fainni Qariib”

Allah is very very very very close to you. So, dont worry because Allah, the King of the Heavens and the Earth, is always beside you, and if we feel bad or stress, it is just a reminder from Allah because Allah wants us to bewith Him, to remember Him every single time.
Remember that you do have Allah.

Hasbunallah wa ni’mal wakil..

Allah, :'( Forgive us…

Hanya Butuh 5 menit untuk Membaca Kisah Ini, Sahabat

Sebenarnya aku ingin sekali menulis tentang kisah-kisah perempuan. Sungguh, berbicara mengenai perempuan tak pernah ada habisnya. Aku selalu belajar dari kisah, karena Allah pun banyak mendidik kita dengan kisah-kisah di dalam Qur’an. Karena kisah mampu bercerita lebih banyak daripada apa yang terpapar dalam kata, setiap kepala mampu menangkap berbagai hikmah dari hanya satu kisah saja. Semoga menjadi pelajaran..

Kali ini, izinkan aku bercerita mengenai perempuan-perempuan inspiratif. Satu dua kisah mereka memang tak bisa mewakili siapa mereka sesungguhnya, namun satu dua kisah mereka mungkin mampu mengubah pandangan hidup seseorang. Termasuk diri ini, diri yang lemah ini.

Untuk diketahui, aku bukan ingin menceritakan atau mensaratkan tentang kisah-kisah pernikahan. Bukan. Aku hanya ingin menceritakan beberapa kisah, yang mungkin mampu menggetarkan hati, menelisik jiwa. Cerita yang mungkin mampu mengubah pandangan hidup kita, sebagai seorang muslimah, yang in sya Allah selalu belajar untuk menjadi hamba yang “Silmi Kaaaffah”. Yaitu untuk masuk islam secara keseluruhan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, atau Tafsir-tafsir lain surat Al-Baqoroh : 208)

Bismillah, kita mulai saja ya..

Kisah ini diceritakan oleh guruku, jika ada kesalahan dalam penyampaian dan ada ketidakvalidan cerita, tolong dikoreksi. Sejauh ini, aku mencoba mengambil hikmahnya saja.

Aku terkadang iri, pada perempuan-perempuan yang kesabarannya setinggi langit. Yang bahkan kita tak mampu membayangkan bagaimana bila menjadi dirinya. menjadi diri yang dikasihi Allah. Ia diberi ujian oleh-Nya, namun tetap tak ada keluh kesah setitik pun terlihat di wajahnya.

Perempuan ini, aku sebut saja Fulanah. Fulanah baru saja menikah, namun ia masih harus menjalankan kehidupannya di kampus sebagai mahasiswi. Ya, ia baru saja menikah dengan teman satu fakultasnya, yang juga masih harus bekerja keras mencari maisya (penghasilan) untuk menghidupi kehidupan mereka berdua. Sang suami, yang belum mampu menghasilkan pendapatan besar, membuat mereka harus tinggal di kontrakan yang kamar mandinya berbaur dengan lelaki. Aku lupa pastinya kenapa, namun pastinya mereka dengan terpaksa harus tinggal di tempat tersebut. Sang Fulanah, yang mengerti dirinya akan menemui risiko berpapasan dengan lelaki lain ketika mengggunakan fasilitas kamar mandi, akhirnya memilih untuk tidak mandi di tempat tersebut. Lalu bagaimana? Lantas ia tidak mandi?

Demi menjaga diri, fulanah ini akhirnya memakai kamar mandi fakultasnya untuk mandi dsb!

“Ckckck segitunyaaaa..”, mungkin hal ini yang terbersit di kepala kita, bukan?

7c99c791b7c88160c4b744f18e0b7ff3

Tafsir Fii Zhilalil Qur’an Al-Baqoroh : 214

Ya, kita memang tak tau seberapa pelik permasalahan mereka sehingga sang istri harus menggunakan fasilitas kamar mandi kampus untuk mandi sehari-hari. Teman-teman Fulanah pun sampai-sampai terheran, mereka hafal kalau fulanah-lah satu-satunya perempuan yang memakai fasilitas kamar mandi fakultas untuk ia membersihkan diri. Perempuan ini, ternyata tak pernah sedikit pun mengeluhkan keadaannya pada teman-teman sekitar. Tak ada raut wajah sedih atau menyesal melihat keadaannya kini. Sungguh tak pernah ada keluh kesah di wajahnya. Ia jalani dengan sabar.

Alhamdulillah, Allah memberi fulanah dan suaminya rizki yang berlebih setelah mereka bersabar. Sang suami sampai pada pria dengan penghasilan tertinggi di deretan alumni-alumni fakultasnya. Ahamdulillah..

Ternyata, begitu banyak perempuan yang mencapai titik kesabaran dan kesyukuran setinggi itu.. Allah aku malu sekali masih banyak mengeluh. Sungguh aku iri. Ternyata banyak sekali perempuan-perempuan sabar calon bidadari penghuni surga-Nya. Kesabaran mereka menghantarkan mereka pada surga-Nya Allah. Sungguh diri ini masih harus banyak belajar lagi.. Belajar menghadapi hidup ini, menjadi muslimah yang memegang islam secara utuh, bukan setengah-setengah lagi. Bismillah..

Masih banyaak lagi kisah-kisah mereka yang membuatku iri. Sangat. Yuk muslimah, kita ambil teladan dari kisah empat perempuan yang dijanjikan syurga yaitu Asiyah, Fatimah, Maryam, dan Khadijah..

Semoga kita termasuk yang meneladani mereka, ya. Bismillah..

Terdapat sebuah hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853 dan dinilai ad-Dzahabi: shahih sesuai syarat Muslim).

There are some people that we don’t know who they really are. Sometimes we just see the surface of a person’s deed, we don’t see what’s inside them.
Indeed, we can’t see it, but we have to be more aware to something like this. Too fast too judge… too fast to conclude…

Sometimes a person can make others expect too many good things upon them, sometimes others will think that this person is kind of amazing with their good deed, good achievement. The reality is this person dont realize that he has just became a slave by their own nafs.

Tujuan Hidup

Kali ini sudah tiba waktunya, untuk kita kembali tunduk dan khusyuk. Menjalani hari-hari ini dengan penuh tanggung jawab terhadap apa yang telah Allah berikan pada kita, yaitu kehidupan.

Kehidupan, setiap detik yang bertambah dari kehidupan berarti berkurangnya pula sisa-sisa kehidupan. Jika hidup ini tidak dimaknai untuk beribadah kepada Allah, maka untuk apa kita hidup?

Sebuah renungan, Yasmin Mogahed dalam buku best sellernya Reclaim Your Heart mengatakan,

“Berkaca pada peristiwa Isra’ Mi’raj, para ulama berpendapat bahwa proses pengurangan dari lima puluh ke lima rakaat merupakan sesuatu yang diatur, dimaksudkan untuk mengajari kita mengenai tempat sejati shalat di dalam hidup kita. Bayangkan sejenak jika kita benar-benar diwajibkan sembahyang selama lima puluh kali sehari. Apakah kita bisa melakukan hal lain selain shalat? Tidak. Itulah intinya. Apa ada cara lain yang lebih hebat daripada itu untuk menggambarkan tujuan hidup kita yang sebenarnya? Seolah-olah mengatakan, shalat adalah kehidupan sejati kita; semua kegiatan lain yang kita lakukan untuk mengisi hari hanyalah gerakan.”

Ya, seolah Allah ingin menyampaikan, seluruh waktu yang kita miliki setiap tarikan dan hembusan nafasnya adalah untuk mengingatnya, menyembah-Nya. Maka ketika setiap detik yang terlewat melenggang begitu saja tanpa diikuti niat beribadah kepada-Nya, lantas apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini?

Allah, maafkan kami yang banyak lalai dan lupa..

Memperbarui Hati

Nikmat Allah itu sungguh banyak sekali. Mungkin setiap awal mendapat sebuah nikmat, kita dapat menyadari nikmat tersebut dan sangat bersyukur sampai mungkin terharu jungkir balik. Namun tak jarang juga kebanyakan dari kita menjadi sering luput akan nikmat-nikmat yang ‘terlihat’ sepele di setiap harinya. Hal-hal ‘kecil’ seperti membalikkan tangan kita, membungkukkan badan, atau merasakan hangatnya mentari pagi tersering luput ketika hal tersebut dapat kita rasakan setiap harinya. Hal tersebut terus berulang sehingga kita biasa saja menanggapinya. Beda halnya ketika esok hari kita mendapatkan diri kita tak bisa lagi membungkuk, barulah kita menyadari betapa berharganya nikmat membungkuk itu.

Hal yang sama terjadi pada diriku belakangan waktu ini. Sehari-hari bertinggal di asrama IQF putri membuat hari-hariku dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang dapat mendekatkan diri dengan Qur’an, atau setidaknya membuat kebiasaan-kebiasaan sehari-hari di asrama menjadi lekat dengan ibadah-ibadah kepada Allah. Aku menyadari betul kebiasaan di asrama yang sudah kujalankan selama kurang lebih satu setengah tahun ke belakang adalah kebiasaan yang merubah total hidupku dari sebelum dan selama bertinggal di asrama. Dulu ketika sebelum di asrama, rutinitas beribadah tak tentu ditambah tugas-tugas yang mengharuskanku untuk begadang membuat jam tidur menjadi berantakan dan membuat kebiasaan tidur  juga hancur. Malam jadi pagi, pagi pun tetap pagi, hehe.. Singkat kata, saat aku masuk asrama dan menemukan habit yang luar biasa beda dan kerennya, aku begitu menggebu menjalani setiap rutinitas di dalamnya. Aku berusaha menyesuaikan sebisa mungkin jadwal-jadwal IQF karena aku percaya jadwal tersebut akan membentuk kebiasaan sehari-harinya. Nikmat berada dalam asrama pun sangat terasa, saya begitu bersyukur. Sangat senang rasanya, sungguh. Lalu hari demi hari pun berlalu, hingga hari ini aku memasuki tahun kedua di asrama IQF. Aku sangat menyadari menurunnya ‘rasa syukur dan bahagia’ akan nikmat berada di asrama ini. Aku sadar betul akhir-akhir ini tak mampu menyamai rasa semangat ketika pertama kali masuk asrama IQF, aku sadar betul habit yang terbentuk di asrama belum mampu diterapkan seratus persen di rumah atau di tempat-tempat lainnya.

“Apa yang salah denganku? Apakah ada yang salah dengan niatku?”, selalu saya gumamkan dalam hati.

“Mengapa aku tak menemukan semangat seperti dulu pertama kali menjejakkan kaki di sini? Apa yang salah denganku?”

Segala puji bagi Allah, semoga benar Allah telah memberi saya sedikit petunjuk akan segala keraguan.

Petunjuk pertama, aku sangat menyadari niat adalah hal yang menjadi titik berat sebuah aktivitas beribadah atau beramal. Seperti yang telah dikatakan oleh Sa’id Hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs,

“Orang yang beramal, yang amalannya tidak ditujukan untuk Allah maka dia tidak akan pernah istiqamah dalam kehidupannya karena dia hanya beramal apabila dilihat atau diketahui perbuatannya.” – Sa’id Hawwa

Alhamdulillah Allah telah menunjukkan banyak sekali ilmu melalui buku ini. Aku baru membelinya beberapa waktu silam dan sedikit banyak ‘menusuk’ hati yang mungkin perlahan mengeras ini. Sungguh aku sadar betul niat adalah hal yang paling pertama dilihat oleh Allah dan hal paling pertama yang memengaruhi seberapa jauh usaha dan kegigihan seseorang untuk bertahan di setiap harinya dengan beramal dan beribadah. Ya, aku menyadari ada yang salah dengan niatku, niat awal di sini sedikit demi sedikit mulai luntur sehingga kebiasaan-kebiasaan baik di dalam IQF tidak lagi dapat saya terapkan dengan baik di tempat-tempat di luar asrama.

Kedua, aku telah luput tentang sesuatu. Tujuan berada di asrama bukan hanya sekedar menambah hafalan Qur’an atau berinteraksi dengan Qur’an. Aku baru ditampar-tampar tempo hari ketika mendengar cerita yang dituturkan langsung dari ex-santri IQF tahun lalu yang datang sebagai tamu ketika sesi inspirasi berlangsung. Mungkin momen bertemu dengannya kemarin adalah momen yang menyadarkan dan betul-betul membuka mata saya lebar-lebar, melunakkan hati yang sempat kebingungan, Alhamdulillah karena Engkau pertemukan aku dengannya, kakak yang dulunya adalah teman sekamarku.

Di dalam tulisan lain di blog ini, aku telah mendeskripsikan beberapa hal yang membuat saya selalu berdecak kagum dibuatnya. Aku melihat kesungguhannya dalam menghafal, beribadah, dan berkegiatan di luar itu. Hampir semua aktivitasnya baik dan tidak banyak membuang waktu. Hmm, diri ini selalu malu melihat amalan-amalan hariannya. Kini kakak itu sedang menempuh karir di sebuah bank syariah dan menjalani rutinitas sehari-harinya dengan bekerja berangkat pagi pulang petang. Rutinitas yang lebih menekan daripada sewaktu kakak itu masih di IQF. Ada beberapa hal dari ceritanya setelah tak lagi bertinggal di asrama IQF yang berhasil membuat saya tercenung larut begitu dalam dengan kisahnya,

“Aku nggak mau cuma dibilang pernah ngafal qur’an.”

“Aku usahakan untuk selalu muraja’ah atau menambah hafalan baru sesuai jam QT (Qur’an Time) di asrama IQF, walaupun lagi desak-desakan di kereta, aku usahakan agar jam QT ku nggak diundur-undur. Karena takutnya malah excuse dan beneran gak jalan. ”

“Aku kangen banget sama suasana IQF”

“Aku pengen IQF lagi”

Satu hal yang terbesit ketika mendengar pernyataan-pernyataan tersebut adalah bagaimana denganku? Aku lupa suatu saat tidak akan disini lagi, aku harus berhadapan dengan waktu dan cambuk untuk diriku sendiri. Aku harus berhadapan dengan hawa nafsuku sendiri. Tak ada lagi yang memaksaku menyetorkan hafalan di setiap harinya, tak ada lagi mungkin sosok-sosok yang membangunkanku di kala mataku berat untuk bangun shalat malam. Tak ada lagi mungkin sosok-sosok yang membuatku tetap terjaga di shubuh hari membersamai Qur’an dan terjaga untuk mengingat-Nya di pagi hari. Tak ada lagi mungkin sosok pengingat di kala kujauh dengan Qur’an. Sekali lagi,

“Bagaimana denganku nanti ketika tak lagi disini?”

“Sungguh, aku harus melawan diriku sendiri nanti, melawan hawa nafsuku”

“Banyak sekali waktuku yang terbuang sia-sia, aku sadar betul itu”

Ternyata aku lupa, aku lupa tujuanku bukan hanya menambah dan memuraja’ah hafalan. Aku lupa ternyata bukan hanya mengikuti peraturan asrama. Aku lupa suatu saat akan keluar dari tempat ini dan harus bersungguh-sungguh melawan hawa nafsuku sendirian. Aku lupa!

Bagaimana denganku nanti? Dua hal yang kusadar perlu dengan segera dilakukan. Pertama, kembali meluruskan niat dan membersihkan hati. Kedua, membiasakan diri sebisa mungkin, sejak hari ini hingga nanti ketika Allah memanggil, untuk selalu mengisi hari-hari dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan selama bertinggal di asrama dan melakukannya dengan kesungguhan bahkan mengimprove beberapa kegiatan yang selama ini sudah dilakukan di asrama.

Aku tahu setelah ini harus lebih memperketat dan tegas kepada diri sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang membuang waktu. Ketika kita sudah berkomitmen dengan Qur’an, hati kita harusnya sadar betul setiap detik yang berpotensi diisi dengan kegiatan yang sia-sia dapat digunakan untuk membersamai Qur’an. Aku jadi sadar mengapa banyak teman-teman yang dulunya pernah mengenyam asrama Qur’an malah tidak terlihat bekas-bekas habit yang pernah diajarkan di asrama-asrama Qur’annya. Ya, mungkin mereka lupa mempersiapkan diri sesaat sebelum pergi meninggalkan asrama, bahwa kegiatan beramal dan beribadah juga perlu pembiasaan. Tak bisa hanya dilakukan sekali dua kali. Untuk mendapatkan habit shalat tahajjud di tiap malam, membiasakan habit dhuha di setiap pagi, membiasakan dzikir pagi dan petang, membiasakan membaca Qur’an minimal satu juz, membiasakan untuk memuraja’ah hafalan, membiasakan menghafal di setiap harinya. Semua perlu pembiasaan dan perlu kesungguhan dan kemauan yang kuat karena Allah.

Satu nasihat lagi dari Sa’id Hawwa yang mungkin bisa mengingatkan diri yang lalai mengingat Allah dan memanfaatkan waktu dengan baik dengan memberikan metode Musyarathah (persyaratan) pada diri sendiri di setiap pagi sebelum beraktivitas :

Aku hanya punya barang dagangan berupa umur dan jika ia habis maka habislah modal sehingga tidak ada harapan untuk melakukan perdagangan dan mencari keuntungan. Di hari yang baru ini Allah telah memberikan tempo padaku. Dia memperpanjang usiaku dan melimpahkan nikmat kepadaku dengan usia tersebut. Seandainya Allah mematikan aku maka aku sangat berharap sekiranya Dia berkenan mengembalikanku ke dunia barang sehari saja agar dapat beramal saleh. Maka anggaplah wahai jiwa bahwa engkau telah meninggal, kemudian Allah berkenan mengembalikan lagi ke dunia untuk beramal saleh. Jadi janganlah sampai menyia-nyiakan hari ini karena setiap napas adalah mutiara yang tiada terkira nilainya. Ketahuilah wahai jiwa, dalam sehari semalam ada 24 jam maka bersungguh-sunggulah pada hari ini untuk mengumpulkan bekalmu dan janganlah biarkan perbendaharaanmu kosong. Janganlah bermalas-malasan atau bersantai-santai. Sebab dengan keduanya engkau tidak akan dapat meraih derajat ‘illiyyin’ seperti yang telah diraih orang lain”

Semoga menjadi pengingat diri yang masih sangat lalai ini. Semoga tulisan ini dapat mengembalikan rasa semangat dan kesyukuran atas nikmat yang paling indah ini, nikmat membersamai Qur’an dan berdekatan dengan Allah..

Allahua’lam.

Untuk penanya ask.fm

Pertanyannya sangat sulit, sehingga saya sendiri belum mampu menjelaskan dengan ilmu saya yang pas-pasan bgt ini. Jadi saya copaskan nasihat dan pengetahuan ttg apa yg kamu tanya dari buku Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) oleh Sa’id Hawwa. Semoga bermanfaat utk kamu dan saya juga ya. Bismillah, sama2 belajar n mengingatkan :)

“Orang yang beramal, yang amalannya tidak ditujukan untuk Allah maka dia tidak akan pernah istiqamah dalam kehidupannya karena dia hanya beramal apabila dilihat atau diketahui perbuatannya.” – Sa’id Hawwa

ada empat tingkatan dalam riya’, salah satunya adalah orang yang riya’ tapi masih punya keinginan untuk mendapatkan pahala, di mana keinginan mendapat pahala dan riya’ sama besarnya. Orang jenis ini apabila salah satu dari dua keinginannya tersebut tidak ada maka ia urung beramal. Namun ketika kedua hal tersebut ada semua maka muncullah keinginan untuk beramal. Orang jenis ketiga ini diharapkan dapat selamat. Dia akan mendapat pahala sebagaimana dia mendapat siksa. Namun zahir hadits menunjukkan bahwa orang yang seperti ini selamat.

Obat Riya’ dan cara mengobati hati :

Tingkatan pertama adalah mencabut akar dan pangkal riya’. Pangkal sifat riya’ kni adalah cinta pangkat dan jabatan. Ketika diperinci lagi maka terdapat tiga hal, yaitu kenikmatan pujian, menghindari sakitnya celaan, dan tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa menunjukkan bahwa riya’ disebabkan oleh sebab-sebab ini.

Terkadang seseorang tidak tertarik dg pujian dan tidak berharap mendapatkannya, namun dia sangat takut dan tidak mampu menahan sakitnya celaan.

Ketika seseorang mengetahui bahwa sesuatu itu nikmat saat ini namun tidak nikmat di kemudian hari maka mudah baginya meninggalkan rasa suka terhadap sesuatu tersebut. Misalnya ketika sesorang tahu bahwa madu enak rasanya, namun ketika ternyata dia mengetahui bahwa di dalamnya terdapat racun maka dia akan berpaling darinya.

Barangsiapa di hatinya dipenuhi dengan akhirat, dipenuhi dengan kenikmatannya yang abadi dan maqam yang tinggi di sisi Allah maka dia akan menganggap rendah apa yang berhubungan denhan makhluk dengan segala kekeruhan dan kenistaannya. Tekadnya BULAT dan hatinya secara UTUH tertuju kepada Allah serta berlepas diri dari kerendahan riya’. Posisi makhluk menjadi rendah di hatinya dan hilanglah penyebab riya’ sehingga tertanamlah pohon ikhlas. Inilah obat riya’ secara teoritis.

Secara teknis, obat riya’ adalah dengan membiasakan diri menyembunyikan amal ibadah dan menutup pintu rapat-rapat agar tidak diketahui orang sebagaimana pelaku perbuatan keji yang menutup pintu rapat-rapat agar tidak diketahui.

Ketika terbesit bisikan dalam diri bahwa dia sedang dilihat oleh orang lain atau ada sekelebat harapan ingin dilihat orang lain maka dengan segera dia harus menolaknya dengan mengatakan, “Apa urusannya dengan manusia. Baik mereka tahu maupun tidak, sesungguhnya Allah Mahatau terhadap kondisimu. Apa manfaatnya diketahui oleh selain Allah?”

Dan ketika muncul keinginan untuk mendapatkan pujian maka seseorang hendaklah segera mengingat pengetahuan yang tertanam kuat di dalam hati di waktu sebelumnya mengenai bahaya riya’.

(Tazkiyatun Nafs Hal 215-220 oleh Sa’id Hawwa)

Boleh di lain waktu saya share ttg fenomena media sosial dan dampaknya thdp hati. Hehe tulisan dr ust Yasmin mogahed. Terimakasih buat yang bertanya. :D

Kurasa sudah saatnya episode ini diakhiri
Aktor dan aktrisnya tidak lagi ada
Kalau ada waktunya, pasti akan bersambung

Ah, tidak. Episode harus tetap berjalan meskipun harus mencari pengganti
Ya, kisah ini harus tetap dilanjutkan dengan cara apapun…

Lupa

Terkadang kita terlalu pongah dengan pencapaian-pencapaian ala dunia. Lupa bahwa Allah sedang menguji dan terlibat dalam apa-apa yang kita raih. Sesudah itu, kita pun jadi lupa caranya bersyukur, syukur yang tulus dari hati seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Terkadang kita terlalu pongah, merasa puas karena manusia menghargai kita. Tapi kita lupa siapa diri kita sebenarnya, lupa diri ini akan menemui kubur, menemui-Nya. Sesudah itu, kita pun menyesal, sesal yang terdalam karena tak lagi bisa memutar waktu.

Terkadang kita terlalu takut, takut dengan apa yang disangkakan manusia terhadap kita. Lalu berusaha sekuat mungkin ‘terlihat’ baik di depan mereka. Tapi kita lupa, lupa dengan sebaik-baik Hakim, sebaik-baik Pengawas. Sesudah itu, kita dilenakan oleh puji-puji yang kita tidak tahu jua apakah ia membuahkan kebaikan atau malah kepongahan.

#RefleksiMendalam

Sudah Berbakti Kepada Orang Tua (?) Part I

“Jika kita belum bisa sabar dengan orang tua kita, maka kita harus belajar agama lagi”,

Kalimat itu tadi sore baru dilantunkan oleh guruku saat kami duduk berdua dalam lingkaran majelis ilmu. Begitu menyesakkan mendengarnya.
Kalimat pendek namun penuh makna tadi begitu menempel, melekat dalam otak. Seketika aku terdiam.

“Sudah sampai mana aku belajar agama? Sepertinya aku belum benar-benar belajar”.

Aku tercenung di antara kerumunan manusia di stasiun sore ini, kembali mengingat, perbuatan-perbuatanku yang menyakiti ibu dan bapak. Jadi teringat tentang sebuah kisah. Kisah ini bukanlah karangan atau hanya isapan jempol saja. Kisah ini nyata, tentang seorang anak dan orangtuanya.

                             ***********

Pagi ini seperti biasa aku bangun di subuh hari, bahkan lebih pagi dari biasanya. Aku biasa melakukan kegiatan-kegiatan sehabis sholat shubuh, tapi kali ini aku lelah, ingin istirahat saja rasanya. Pagi ini aku diminta ibu untuk membantu menjemur, suara ibu yang nyaring dan keras malah membuatku enggan untuk segera melaksanakan perintahnya.

“haah, capek nih harus bantu jemur”, aku gusar dalam hati.

Wajahku pasti terlihat tersungut-sungut dan kisut.
Aku langsung bergerak dengan gontai, mengambil jemuran dengan hati yang dipenuhi keluhan. Capek, ngantuk, mau tidur lagi. Usai menjemur pakaian di lantai dua, aku langsung duduk di ruang makan. Tak ada salahnya menghibur diri, aku memilih untuk menyalakan televisi. Tak biasanya aku menonton teve pagi-pagi begini. Pun aku sudah tak akrab lagi sebenarnya dengan teve semenjak masuk kuliah. Tak ada satupun teve di tempat kos. Aku lebih akrab dengan laptop. Channel yang kunyalakan adalah Tr**ns7. Ternyata sedang berlangsung program teve pagi ini yang berjudul ‘Khazanah’. Aku senang menonton hal-hal yang berkaitan dengan ilmu islam. Banyak pengetahuan baru yang bisa didapat.

Ternyata bahasan Khazanah pagi ini adalah mengenai orangtua khususnya tentang ‘ibu’.
DEG! Rasanya setengah kaget dan terkejut. Baru saja aku mengeluh karena diminta membantu ibu. DEG! Benar-benar menghunjam diri. Aku tak mengira bahwa bahasan pagi ini adalah tentang ibu. Dikisahkan pada awalnya mengenai Uwais Al Qarni yang terkenal di langit karena salah satu amalannya yaitu berbakti pada ibu.
Uwais dari Qarn, adalah seorang miskin yang tinggal di Yaman di daerah Qarn. Ia hanya tinggal dengan ibunya dan memilih mendedikasikan banyak waktunya untuk sang ibu yang sudah tua lagi buta. Uwais selalu menaati apa yang dikatakan ibunya, seperti dikisahkan saat Uwais sangat ingin bertemu Rasulullah SAW , ia, setelah mendapat restu dari sang ibu, mencoba pergi menemui Rasulullah di Madinah. Jauh-jauh datang dari Yaman dengan bekal makanan yang sedikit, ternyata sesampainya di Madinah ia tak bisa bertemu Rasul karena beliau sedang pergi ke luar Madinah. Dengan berat hati, ia harus kembali ke Yaman karena ibunya memintanya untuk segera kembali ke rumah. Inilah salah satu bakti yang dilakukannya. Walaupun ia, dengan kecintaan dan kerinduannya akan Rasulullah, tidak bersikeras lama-lama menunggu sampai tibanya Rasul di Madinah. Uwais, sampai akhir hayatnya tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW demi menuruti permintaan ibunya.

“Masya Allah, adakah pernah aku seperti itu? Mendahulukan kepentingan ibu daripada hal-hal lain yang sebenarnya tidak begitu penting?” gumamku.

Kemudian sang narator Khazanah berkata lagi kurang lebih seperti ini, “masihkah kita tega membiarkan ibu kita mengerjakan pekerjaan rumah sendiri? Tanpa kita bantu? Seharusnya kita tidak membiarkan orang tua kita mengerjakan semuanya sendiri, terlebih jika ia sudah tua, kitalah yang seharusnya menggantikan pekerjaan rumah mereka”

Tak terasa air mata mengalir deras. Membanjiri  jiwa pagi ini. Pagi yang tak seperti biasanya aku menonton teve, dan sekali-kalinya menonton teve, aku menemukan bahasan tentang ibu. Ibuku, yang baru saja aku berikan wajah dan hati yang tak ikhlas dalam membantu satu pekerjaan rumah. Seperti baru ditampar-tampar. Aku yakin, program teve ini adalah salah satu bentuk peringatan kasih sayang Allah untukku. Ya, pesan ini tak boleh tak digubris. Ini sudah peringatan langsung. Peringatan yang tak boleh aku lupakan seumur hidupku.

Aku berjanji dalam hati akan sekuat tenaga merubah diri, berazam bahwa setiap hari tak boleh ada hati yang tak ikhlas membantunya, jika sudah lelah, aku harus kembali ingat bahwa setiap perbuatanku ini jika diniatkan untuk Allah dan beribadah pastilah akan berbuah kebaikan, in syaa Allah. Semenjak hari itu hari-hariku kumulai dengan wajah baru, kumulai dengan langkah baru, kumulai dengan niat-niat baru.

Aku salah mengira hari itu akan berlalu, hari dimana Allah mengingatkan aku tentang bakti kepada orangtua. Ternyata, tak cukup sampai di hari itu saja, Allah masih memberikan aku kejutan lainnya di dua hari selanjutnya.

(Bersambung)