He who knows our heart

He is The One who knows our heart…

Dia tau yang nampak dan tidak nampak.
Dia tau apa yang di dalam hati kecilmu, bahkan apa yang coba kau sembunyikan dari dirimu sendiri.
Dia yang menyemai bibit-bibit itu.
Dia pulalah yang memahami kapan bibit itu akan menjadi buah dan bisa dirasakan manisnya.

Daydreaming About Future Mothers

Bolehkah aku menyampaikan mimpi?

Di tengah kejenuhan menyelesaikan skripsi, saya banyak bergelut dengan hal-hal lain juga, salah satunya belajar menjadi muslimah yang baik. Qadarullah, beberapa hari lalu, saya baru saja menyempatkan diri untuk menonton kajian muslimah di Youtube oleh Ustadz Bachtiar Nasir. Judulnya bisa dicari di bagian ‘search’ Youtube yaitu “Wanita Dambaan Qur’an”. Beberapa pesan yang mampu saya tangkap dan saya pegang erat-erat adalah :

Kalau ibunya yang gak beres sekalipun suaminya itu Nabi, hasilnya seperti Kan’an. Atau seperti istrinya Nabi Luth AS, yang keturunannya seperti itu. Tapi jika istrinya sholihah, sekalipun suaminya adalah Fir’aun, jadilah Musa AS dan Siti Masyithah.”

Satu hal yang sudah menjadi perhatian saya sejak lama adalah soal perempuan dan wanita, bahkan dulu sempat punya pikiran untuk menjadi menteri pemberdayaan perempuan (ini sih masyaAllah) yang sepertinya bukan lagi pilihan saya. Hehe. Semoga bisa lebih fokus pada keluarga di rumah dan masyarakat sekitar , biarkan suami yang maju menjadi tokoh :)

Semua pelajaran dan perhatian mengenai perempuan berawal dari sebuah komunitas yang saya jalankan bersama teman-teman di Dreamdelion. Ya, Dreamdelion adalah komunitas bisnis sosial yang bermula dari pemberdayaan masyarakat utamanya ibu-ibu yang tinggal di daerah marjinal. Sedikit gambaran informasi mengenai ibu-ibu atau perempuan di daerah marjinal khususnya di daerah kumuh ibu kota, mereka kebanyakan tidak memiliki pekerjaan tetap alias serabutan. Sebagian bekerja sebagai buruh cuci, sebagian lainnya berdagang makanan atau sekedar membuka toko-toko kecil di pelataran rumah mereka, yang sebenarnya juga sangat terbatas lahannya. Sempit sekali.  

Berawal duduk di jabatan Marketing yang harus membantu teman-teman divisi produksi melakukan kontrol kualitas produk hingga Trainer menjahit ibu-ibu, saya jadi banyak membuka obrolan dengan para ibu. Banyak hal yang saya temukan khususnya pada ibu-ibu masyarakat Manggarai. Kebanyakan dari ibu-ibu tersebut, saya lupa teorinya apa, tapi yang jelas karena mereka tidak mengisi waktu kosong mereka dengan hal berguna, akhirnya sering gossip. Dari gossip, timbul banyaknya pertikaian, apalagi jarak rumah satu dengan lainnya benar-benar berdempetan. Kondisi masyarakat Manggarai yang saya ‘asuh’ pun memiliki mental peminta-minta bahkan turun hingga anak-anaknya. Pernah suatu kali diceritakan oleh Ibu RW, sewaktu Manggarai Banjir, Ibu RW harus membeli dus-dus mie sendiri untuk dibagikan ke warga sekitar karena biasanya jika stok mie hasil sumbangan orang luar tidak dibagi merata, maka yang ibu RW lah yang akan disalahkan, difitnah mengambil mie, dsb. Dan tahu kan siapa yang biasanya menyebar gossip dan fitnah? Ya, itu perempuan.

Tak hanya itu, dalam mendidik anak dan generasi, perempuanlah yang punya andil sangat besar dalam pendidikan keluarga. Mari kita ambil kasus Manggarai lagi. Dreamdelion, sebagai bisnis sosial, memiliki program-program pengembangan masyarakat salah satunya adalah sanggar belajar Dreamdelion untuk adik-adik Manggarai. Berawal dari ‘lelah’nya kami melihat anak-anak Manggarai yang kurang mendapat perhatian khusus soal pendidikan dari orangtuanya. Pertama, memang karena permasalahan ekonomi, kedua karena permasalahan minimnya motivasi orangtua terhadap pendidikan anaknya secara moral maupun pendidikan formal di sekolah. Sebagai contoh dari hasil ketidakpedulian orangtua terhadap pendidikan kepada anak adalah banyak sekali anak-anak yang berbicara kasar dan kotor kepada temannya, atau sekedar pukul-pukulan, bahkan beberapa anak rajin banget ikut tawuran! :’( sedihnya.. Dari sinilah, Dreamdelion memiliki solusi salah satunya adalah program parenting untuk ibu-ibu.

Tak usah jauh-jauh. Di Kapuk, tempat saya bermukim dua tahun terakhir ini, saya mendapatkan informasi bahwa memang ibu-ibu disini banyak yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, kebanyakan tinggal di rumah dan jika tugas rumah sudah selesai, mereka akan main-main sore di jalanan bersama ibu-ibu yang lainnya, yang entah menghasilkan apa. Di lingkungan sekitar tempat saya tinggal, ada beberapa anak yang saya kenal baik perangainya namun suka berkata kasar atau kotor, bahkan hal-hal yang membuat saya pusing mendengarnya, tidak layak bagi anak-anak usia SD, di masa-masa golden age mereka. Kalau ibu-ibu mereka beralasan, “iya mbak itu kan ketularan temennya”, sebenarnya nggak salah dan nggak betul juga. Bukti nyatanya, saya masih dapat melihat sebuah keluarga yang anak-anaknya terjaga secara kualitas karakter dan pendidikan formalnya di lingkungan tersebut. Saya memang belum pernah melakukan riset yang asli, tapi setidaknya tahu sedikit-sedikit dari bertanya kesana-sini dengan beberapa Ibu di sekitar Kapuk. Saya belum mau menduga-duga apa penyebabnya, tapi yang pasti ada kesalahan pada pola asuh anak-anak mereka.

Peran ibu dalam keluarga dan masyrakat sungguh sangat berpengaruh. Jika kita lihat kasus Manggarai yang bermula dari gossip dan kegiatan-kegiatan tidak berguna yang memicu pergesekan hingga pendidikan yang lemah pada anak-anaknya, utamanya muatan-muatan agama sangat minim di daerah-daerah Marjinal dan padat penduduk seperti ini. Mungkin dari luar terlihat banyak agenda-agenda keislaman yang sebenarnya — mungkin dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi – namun lebih banyak muatan makan-makan ketimbang muatan nasihatnya.

Lemahnya karakter dan pendidikan pada ibu-ibu Manggarai dan di daerah Kapuk, bisa jadi menjadi salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang  menyebabkan sebuah komunitas masyarakat begitu tertinggal. Tidak hanya tertinggal dari segi perekonomian namun juga tertinggal dari segi agama dan moral.

       Setuju kan jika sebuah peradaban bisa digenggam di tangan para Ibu? Terbayang tidak jika para Ibu lepas tangan begitu saja dengan pendidikan agama serta keilmuan anak-anak mereka? Satu generasi ke depan akan pergi tanpa arti bahkan mungkin meninggalkan beban-beban bagi para penerusnya. Kebayang nggak jika satu ibu melahirkan 10 anak tanpa dididik, kemudian dari 10 anak menghasilkan 50 anak yang tidak terdidik karena dulu para orangtuanya juga tidak mendapat pendidikan yang baik, dan begitu seterusnya. Terbayang tidak betapa rusaknya sebuah generasi hanya karena seorang ibu yang tidak terdidik? Lingkaran setan akan terus terjadi jika tidak ada upaya perbaikan di salah satu anak-anak atau generasinya, atas izin Allah.

Berbekal pengalaman saya dalam ajang Hult Prize di Dubai Maret lalu, saya jadi belajar banyak mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini. Pembaca dapat mengakses beberapa poin mengenai ‘EARLY CHILDHOOD EDUCATION’ di website HultPrize.org, disana saya banyak mendapat poin-poin penting:

1.       Early Childhood Education (Pendidikan Anak Usia Dini) sudah menjadi fokus dunia, PBB dan World Bank berdasar banyak riset sudah banyak memberikan kontribusi berupa upaya-upaya pendirian PAUD atau ECE sejenis.

2.       USA sebagai negara adidaya memiliki fokus dan perhatian yang paling besar pada ECE dibandingkan negara-negara lain di dunia sehingga bisa dilihat karakter kompetitif dan kecerdasan intelektual mereka dalam bidang sains sangat maju

3.       Perhatian pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini masih sangat rendah dan kini masih di tataran kebijakan-kebijakan saja.

Kenapa ECE ini menjadi hal penting? Karena seorang manusia pada masa 0-8 tahun mengalami perkembangan otak yang paling pesat dalam hidupnya. Pada fase ini, anak-anak akan menyerap segala sesuatunya lebih cepat, maka dari itu pantaslah anak-anak kecil dapat menghafalkan quran dengan mudah dan cepat. ECE merupakan kewajiban yang mutlak diberikan kepada anak-anak, dan hak anak kita adalah mendapatkan pendidikan utama dari Ibu karena Ibu adalah sosok yang paling banyak berurusan dengan si anak, bukan guru, bukan pula caregiver di Daycare. Ibu mendidik anak bukan hanya saat golden age tapi hingga anak-anak tersebut berpisah di dunia dengan ibunya. Selayaknya pendidikan yang diberikan Rasulullah hingga akhir hayatnya pada Fatimah, selayaknya Luqman yang memberikan nasihat teguh pada anaknya. Selayaknya pendidikan dan wasiat Ibrahim pada anak-anaknya di detik akhir hidupnya,  ibu sebagai orang tua harus mendidik anaknya hingga Allah memisahkan mereka di dunia. Ibu yang Shalihah adalah kunci peradaban, ia adalah madrasah pertama dan terakhir bagi anaknya.

Menjadi Ibu, berarti menjadi kunci peradaban. Sebagai muslim, peradaban apakah yang kita impikan? Tentu peradaban yang maju seperti zaman-zaman keemasan Islam, zaman-zaman dimana Umat Islam menguasai dunia, zaman dimana cendekiawan-cendekiawan tumbuh dengan akidah yang kuat. Arsitek, Astronom, Fisikawan, Sastrawan, kesemuanya tetap berpegang pada Aqidah. Para Sultan dan pemimpin-pemimpin berpegang teguh pada ajaran Rasulullah SAW. Memang tidak banyak cerita-cerita mengenai ibu di zaman tersebut, tapi kita tahu seperti kisah-kisah istri nabi, bahwa istri dan ibu yang berpegang pada ajaran Allah akan menelurkan generasi-generasi baru yang tangguh dan siap memimpin dunia. Wah, kayaknya tinggi banget sih mimpinya.. hehe

Berbekal pengalaman dan ilmu yang saya serap selama ini ditambah kewajiban sebagai muslimah adalah bermanfaat untuk masyarakat di sektiranya, saya ingin melihat ibu-ibu di luar sana tak pernah memaki anaknya lagi dengan kata-kata kasar dan kotor, mendambakan ibu-ibu yang memulai pendidikan anak-anaknya dengan Al-Quran selayaknya pendidikan Al-quran yang dienyam terlebih dahulu oleh Mehmet II Al-Fatih sang penakluk di masa kecilnya, ibu-ibu yang akan  memotivasi anak mereka menjadi khalifah Allah yang sebenarnya di muka bumi!

Seperti halnya kang Emil yang telah mewujudkan coretan dan kegelisahannya dahulu sebelum menjadi walikota, saya ingin sekali kegelisahan ini menjadi aksi nyata. Semoga, Allah menunjukkan jalannya. InsyaAllah

Terimakasih, Dedaunan

Rupanya langit tak serumit kepalaku yang sedari pagi sudah seperti ditekan batu. Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk melihat birunya langit dan sejuknya angin hasil gesekan dedaunan nan rimbun. Kulihat beberapa daun berguguran berbingkai langit biru nun jauh di seberang kamarku. Aku meneliti dengan seksama, benar saja, dedaunan itu  jatuh tanpa kata, jatuh dengan pasrah. Tangkai daunnya yang rapuh mulai terlepas dari ranting-ranting yang juga sudah lapuk. Lepas begitu saja, karena tertiup angin.

“Tek”, begitu suara yang kau buat di penghujung hidupmu.

Bagaimana rasanya dihempaskan ke tanah dari tempat tinggi dan rindang disana? Sakit kah?

Ternyata ia diam saja, ia pasrah menerima takdirnya dari Allah sebagai ‘daun yang harus jatuh’ ke tanah.

Tapi, tunggu dulu. Nampaknya ada makna dan hikmah yang lebih besar dari sekadar kepasrahan dedaunan yang gugur tadi. Ternyata saat jatuh, daun itu semakin belajar bahwa jatuhnya ia ke tanah membawanya semakin menunduk dan dapat lebih  dekat dengan Rabb-nya, ya, karena masa hidupnya sebentar lagi sudah habis dimakan ulat.

Sepenggal episode hidupku hari ini mengatakan bahwa aku harus seperti dedaunan yang gugur tadi. Terjatuh. Aku belajar dari dedaunan gugur itu  mengenai kepasrahan dan ketundukan pada takdir-Nya.

Sepenggal episode singkat penuh makna hari ini, walau di awal terlihat menyakitkan, tapi sebenarnya ada hikmah kebaikan yang nilainya lebih besar berkali lipat dibandingkan rasa sakit akibat jatuhnya, yaitu kita semakin dapat pasrah dan tunduk yang akan menimbulkan kedekatan  kepada Allah ‘Azza Wa Jalla karena aku semakin dekat dengan waktu penghujung hidupku, aku jadi tahu harus mendekat terus-menerus kepada-Nya.

Terimakasih, dedaunan gugur. Aku sudah mendapatkan pelajaran yang  banyak dari takdirmu sebagai daun yang gugur. Kan kuambil hikmah dan pelajaran tentang kepasrahan dan ketundukanmu yang akan kulekatkan di hatiku seumur hidup. InsyaAllah

Bila

Bila pikiranmu kini digentayangi sesuatu yang bahkan belum pasti terjadi,

Bila kini kamu lebih banyak berangan-angan daripada beraksi,

Bila kini hati sudah terkotori dengan pemikiran-pemikiran yang hanya menyakiti,

Bila kini hatimu dipenuhi rasa rendah diri,

Bila kini hatimu lupa dengan kata ‘mati’ yang sudah pasti,

Mungkin kamu bisa merenungi ayat ini:

Al Ahzab:  21

image

Ya, ternyata kamu perlu meneladaninya, Rasulullah S.A.W

Yang selalu mengharap rahmat Allah dan hari kiamat,

Juga sebagai penekanan bahwa kita tak perlu risau memikirkan hal-hal yang tak pasti, gantungkanlah pikiranmu hanya untuk Allah.. ya, dengan memperbanyak mengingat Allah adalah obat terbaik untuk menyembuhkan tinggi angan-angan dan harapan kosong.

Pilihan Tetap Jatuh di Tangan Allah

Saya belum pernah melewati fase ini, fase dimana Allah sepertinya mempercayakan aku untuk belajar lebih. Belajar berkomunikasi, belajar meluruskan niat, belajar menjernihkan hati, belajar.. belajar.. dan belajar.

Meski tak tahu apakah ini tetap berlangsung atau tidak, Allah pastilah memberikan sebuah hikmah. Apapun hikmah itu, sayangnya aku belum mampu menangkapnya secara utuh.

Allah tak mungkin memilihkan sesuatu yang tidak baik untuk hamba-Nya, sekalipun terlihat seperti sebuah penderitaan, pastilah Allah ingin memberi pelajaran agar kita senantiasa mengingat-Nya.

Kini aku hanya perlu berhusnudzan kepada Allah, dan orang-orang di sekitarku. Bahwa pilihan siapapun — selama ia masih manusia, tak lebih baik hasilnya dengan pilihan Allah. Pada akhirnya pilihan kita semua dalamm hidup ini kan tetap jatuh di tangan Allah. Allah-lah yang memiliki hak prerogatif atas semua kejadian pada hidup kita. Jadi, tak perlu khawatir, ya.. :)

Bismillah, luruskan niat lagi, ya :)

Rindu dariku

Apakah kamu masih ingat denganku?

Dahulu kau begitu menginginkanku
Begitu Menggebu
Kau berharap menemuiku
Hingga menulis segala cara untuk menggapaiku

Dulu, kau tuliskan aku
Dalam setiap kertas yang ada di genggamanmu
Dulu, kau selalu menggantungku didalam pikiranmu
Sungguh aku tahu benar itu

Dulu, kau selalu menyebutku dalam doamu
Dulu, besar harapanmu padaku

Kau apakan aku kini?
Apa kau sudah lupa dengan janjimu dulu?
Kau tak lagi menginginkanku?
Atau kau lelah mengejarku?
Apakah diriku sesulit itu?

Entah, hanya Dia dan dirimu yang tahu

Dapatkah kau mengembalikan rasa itu?
Sungguh aku rindu dengan coretanmu itu
Coretan di dinding juga buku harianmu
Disitu kau selalu menyebutku
Berazzam untuk menemuiku

Dapatkah kamu seperti dulu lagi?
Entahlah, aku hanya mampu berharap
berharap agar dirimu merenung
Merenungi semua kata-katamu dulu, mimpi-mimpimu dulu, janjimu dulu

Aku hanya mampu berdoa agar dirimu kembali mendapatkan semangat itu, semangat menemuiku,

Dapatkah?
Tolong, aku sangat merindukanmu,

Dariku untukmu,

Mimpimu (re: hafidzhoh)

Midnight Story

Can i write something tonight?

Been a long time since my last post here, i kinda miss writing here again.

You know, when i choose to make a writing in english, it means that i am in a bad bad bad condition. I dont know why, but i’ve been using this since i was in high school.

My friend just told me that when you face a hard times, it means that Allah wants to give you ‘something’. I dont know what the thing is but i have to believe that it’s good for me.

“Wa ‘asaaa antakrohu syaiaw wa huwa khoirullakum”

Yap, you may not like it but it is good for you!

Just like Allah said in the Quran, “Bersama kesulitan ada kemudahan”,

O Allah, your words are just beautiful, even if i’ve heard those words million times, i’ve never got bored listening  Your words.

Just keep in mind that Allah will be there, He NEVER ASLEEP,

You dont have to be worried because When You ask about him, he will answer,

“Fainni Qariib”

Allah is very very very very close to you. So, dont worry because Allah, the King of the Heavens and the Earth, is always beside you, and if we feel bad or stress, it is just a reminder from Allah because Allah wants us to bewith Him, to remember Him every single time.
Remember that you do have Allah.

Hasbunallah wa ni’mal wakil..

Allah, :'( Forgive us…

Hanya Butuh 5 menit untuk Membaca Kisah Ini, Sahabat

Sebenarnya aku ingin sekali menulis tentang kisah-kisah perempuan. Sungguh, berbicara mengenai perempuan tak pernah ada habisnya. Aku selalu belajar dari kisah, karena Allah pun banyak mendidik kita dengan kisah-kisah di dalam Qur’an. Karena kisah mampu bercerita lebih banyak daripada apa yang terpapar dalam kata, setiap kepala mampu menangkap berbagai hikmah dari hanya satu kisah saja. Semoga menjadi pelajaran..

Kali ini, izinkan aku bercerita mengenai perempuan-perempuan inspiratif. Satu dua kisah mereka memang tak bisa mewakili siapa mereka sesungguhnya, namun satu dua kisah mereka mungkin mampu mengubah pandangan hidup seseorang. Termasuk diri ini, diri yang lemah ini.

Untuk diketahui, aku bukan ingin menceritakan atau mensaratkan tentang kisah-kisah pernikahan. Bukan. Aku hanya ingin menceritakan beberapa kisah, yang mungkin mampu menggetarkan hati, menelisik jiwa. Cerita yang mungkin mampu mengubah pandangan hidup kita, sebagai seorang muslimah, yang in sya Allah selalu belajar untuk menjadi hamba yang “Silmi Kaaaffah”. Yaitu untuk masuk islam secara keseluruhan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, atau Tafsir-tafsir lain surat Al-Baqoroh : 208)

Bismillah, kita mulai saja ya..

Kisah ini diceritakan oleh guruku, jika ada kesalahan dalam penyampaian dan ada ketidakvalidan cerita, tolong dikoreksi. Sejauh ini, aku mencoba mengambil hikmahnya saja.

Aku terkadang iri, pada perempuan-perempuan yang kesabarannya setinggi langit. Yang bahkan kita tak mampu membayangkan bagaimana bila menjadi dirinya. menjadi diri yang dikasihi Allah. Ia diberi ujian oleh-Nya, namun tetap tak ada keluh kesah setitik pun terlihat di wajahnya.

Perempuan ini, aku sebut saja Fulanah. Fulanah baru saja menikah, namun ia masih harus menjalankan kehidupannya di kampus sebagai mahasiswi. Ya, ia baru saja menikah dengan teman satu fakultasnya, yang juga masih harus bekerja keras mencari maisya (penghasilan) untuk menghidupi kehidupan mereka berdua. Sang suami, yang belum mampu menghasilkan pendapatan besar, membuat mereka harus tinggal di kontrakan yang kamar mandinya berbaur dengan lelaki. Aku lupa pastinya kenapa, namun pastinya mereka dengan terpaksa harus tinggal di tempat tersebut. Sang Fulanah, yang mengerti dirinya akan menemui risiko berpapasan dengan lelaki lain ketika mengggunakan fasilitas kamar mandi, akhirnya memilih untuk tidak mandi di tempat tersebut. Lalu bagaimana? Lantas ia tidak mandi?

Demi menjaga diri, fulanah ini akhirnya memakai kamar mandi fakultasnya untuk mandi dsb!

“Ckckck segitunyaaaa..”, mungkin hal ini yang terbersit di kepala kita, bukan?

7c99c791b7c88160c4b744f18e0b7ff3

Tafsir Fii Zhilalil Qur’an Al-Baqoroh : 214

Ya, kita memang tak tau seberapa pelik permasalahan mereka sehingga sang istri harus menggunakan fasilitas kamar mandi kampus untuk mandi sehari-hari. Teman-teman Fulanah pun sampai-sampai terheran, mereka hafal kalau fulanah-lah satu-satunya perempuan yang memakai fasilitas kamar mandi fakultas untuk ia membersihkan diri. Perempuan ini, ternyata tak pernah sedikit pun mengeluhkan keadaannya pada teman-teman sekitar. Tak ada raut wajah sedih atau menyesal melihat keadaannya kini. Sungguh tak pernah ada keluh kesah di wajahnya. Ia jalani dengan sabar.

Alhamdulillah, Allah memberi fulanah dan suaminya rizki yang berlebih setelah mereka bersabar. Sang suami sampai pada pria dengan penghasilan tertinggi di deretan alumni-alumni fakultasnya. Ahamdulillah..

Ternyata, begitu banyak perempuan yang mencapai titik kesabaran dan kesyukuran setinggi itu.. Allah aku malu sekali masih banyak mengeluh. Sungguh aku iri. Ternyata banyak sekali perempuan-perempuan sabar calon bidadari penghuni surga-Nya. Kesabaran mereka menghantarkan mereka pada surga-Nya Allah. Sungguh diri ini masih harus banyak belajar lagi.. Belajar menghadapi hidup ini, menjadi muslimah yang memegang islam secara utuh, bukan setengah-setengah lagi. Bismillah..

Masih banyaak lagi kisah-kisah mereka yang membuatku iri. Sangat. Yuk muslimah, kita ambil teladan dari kisah empat perempuan yang dijanjikan syurga yaitu Asiyah, Fatimah, Maryam, dan Khadijah..

Semoga kita termasuk yang meneladani mereka, ya. Bismillah..

Terdapat sebuah hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853 dan dinilai ad-Dzahabi: shahih sesuai syarat Muslim).

There are some people that we don’t know who they really are. Sometimes we just see the surface of a person’s deed, we don’t see what’s inside them.
Indeed, we can’t see it, but we have to be more aware to something like this. Too fast too judge… too fast to conclude…

Sometimes a person can make others expect too many good things upon them, sometimes others will think that this person is kind of amazing with their good deed, good achievement. The reality is this person dont realize that he has just became a slave by their own nafs.

Tujuan Hidup

Kali ini sudah tiba waktunya, untuk kita kembali tunduk dan khusyuk. Menjalani hari-hari ini dengan penuh tanggung jawab terhadap apa yang telah Allah berikan pada kita, yaitu kehidupan.

Kehidupan, setiap detik yang bertambah dari kehidupan berarti berkurangnya pula sisa-sisa kehidupan. Jika hidup ini tidak dimaknai untuk beribadah kepada Allah, maka untuk apa kita hidup?

Sebuah renungan, Yasmin Mogahed dalam buku best sellernya Reclaim Your Heart mengatakan,

“Berkaca pada peristiwa Isra’ Mi’raj, para ulama berpendapat bahwa proses pengurangan dari lima puluh ke lima rakaat merupakan sesuatu yang diatur, dimaksudkan untuk mengajari kita mengenai tempat sejati shalat di dalam hidup kita. Bayangkan sejenak jika kita benar-benar diwajibkan sembahyang selama lima puluh kali sehari. Apakah kita bisa melakukan hal lain selain shalat? Tidak. Itulah intinya. Apa ada cara lain yang lebih hebat daripada itu untuk menggambarkan tujuan hidup kita yang sebenarnya? Seolah-olah mengatakan, shalat adalah kehidupan sejati kita; semua kegiatan lain yang kita lakukan untuk mengisi hari hanyalah gerakan.”

Ya, seolah Allah ingin menyampaikan, seluruh waktu yang kita miliki setiap tarikan dan hembusan nafasnya adalah untuk mengingatnya, menyembah-Nya. Maka ketika setiap detik yang terlewat melenggang begitu saja tanpa diikuti niat beribadah kepada-Nya, lantas apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini?

Allah, maafkan kami yang banyak lalai dan lupa..