Words to Remember

Just wanna capture some words from Ust Salim A Fillah

“Buat apa suami… buat apa suami… jika,
Asiyah yang memiliki suami yang dahsyat kekafirannya dan Maryam yang bahkan tidak memiliki suami, mampu menjadi dua wanita terbaik dari empat wanita terbaik di syurga”

It is ourself who choose to be like this and that. To pleasure Allah, to be the best slave of Allah…

The Softest Heart

image

I wanna tell you something tonight because i don’t want us to forget one thing, that is, life balances.

Last afternoon alhamdulillah i still had time to read about Umar Ibn Khattab’s biography. I found so many great stories about him, how he help others, how easy he is to shed tears because of what he did, what he heard, and what he saw.
Contohnya ketika Umar menemukan ibu yang berpura-pura memasak untuk anaknya hingga anaknya terlelap dan lupa dengan rasa lapar atau ketika Umar melihat seorang anak kecil dizhalimi, atau ketika Umar melihat pengemis yang kelaparan sambil meringkuk di atas tanah, sambil menuangkan makanan, Umar pun menangis bahkan ikut tidur di sampingnya.

Hai, apakah cerita Umar itu hanya khayalan belaka? Apakah cerita Umar hanya cerita hiburan yang hanya menyentuh hati kita untuk sekedar ‘wah, MasyaAllah Umar! Coba pemimpin kita sekarang ada yang kayak gitu..’ or just cry to hear Umar’s story. Not that.. please.. not that. I am sure Allah wants to give us a very BIG hikmah for us through Umar’s life story. The Quran tells us to give and feed the Fakirs.

Wala tahaadduna ‘ala tho’amil miskiin..
(Al Fajr: 18)
Quran tells us to give and give. And that was what Umar did!

Nouman Ali Khan once said

“The two things that will keep your heart soft are how much you pray and how much you give”

And i’ve found the softest heart in Umar’s life..

How we can get that kind of heart? The softest heart and the strongest lawgiver and conqueror biidznillah.. The key are to pray and to give.

Now, there are so many hands who needs our help out there.. Saya semakin takut jika kepekaan ini akan membuat hati saya mengeras.. menganggap hubungan vertikal kepada Allah saja cukup. Padahal Allah banyak memerintahakan untuk memberi makan orang miskin.

Tidak punya uang? Hei.. kamu masih bisa makan es krim yang sebenarnya perutmu nggak membutuhkannya banget-banget, kok.. satu eskrim senilai 5000 rupiah bisa menolong satu sampai dua perut ibu dan anaknya di sepanjang jalan Margonda jika kamu mau menyusurinya malam-malam.
Umar, dengan makanan sederhana pun malah selalu mengusahakan untuk terus dapat membantu, walaupun memang hartanya melimpah, lantas ia tetap dengan kezuhudannya, makanannya sederhana, minumannya pun begitu.

Sementara kita dengan segala kebutuhan yang terpenuhi, alih-alih memberi dan bersyukur malah sukanya ngeluh..
Kok bisa, ya, kita masih nggak bersyukur dikala bahkan anak-anak nggak tau mau tidur dimana. ada yang di atas gerobak.. ada juga gerobak bertingkat dua dimana anak-anaknya tidur di tingkat dua sedangkan barang rongsok ia taruh di tingkat satu.
Kok bisa ya, masih mengeluhkan ‘aduh pusing, tidurku semalam kacau banget’ padahal masih bisa tidur di atas kasur dan melahap masakan yang enak pula sebelum tidur.

Hei, ingatlah, kisah Umar bukan hanya untuk diratapi, ditangisi, tapi kisahnya juga diteladani..

Hei, keseimbangan itu perlu. Karena hati yang lembut, adalah ia yang dekat dengan Allah dan ia yang dekat dengan ‘memberi…’

#ASuperNoteToMySelf

Catatan untuk Kita

image

Kita memang tak pernah tahu dengan siapa kita bertemu dan kita tak pernah ingin tahu siapa yang akan Allah perkenankan hadir dalam hidup kita.

Kita juga tak pernah tahu ujian apa yang ditakdirkan untuk kita,

Yang kita tahu kita hanya perlu melewatinya dengan cara-cara yang Dia sukai.

Allah, bukan tanpa sebab memberikan sebuah peristiwa dalam hidup kita,
Bahkan daun jatuh pun Allah takdirkan ia untuk jatuh karena sebuah sebab.

“Sebab-sebab” inilah yang dapat kita petik hikmahnya, hikmah yang mungkin akan kita kenang seumur hidup kita, hikmah yang akan menguatkan kita dalam menjalani ujian dan tantangan-tantangan yang lebih besar dalam hidup.

Seperti kata Allah dalam surah Al Baqarah 269

Yu’til hikmata mayyasyaa wamayyu’tal hikmata faqod uutiya khoiron katsiraa wa maa yadzakkaru illaa ulul albaab..
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Sebagai perenungan dari ayat tersebut, Allah jelas akan memberi hikmah pada siapapun yang Allah kehendaki, Allah punya hak penuh atas hal tersebut. Dan ketika kita mampu menangkap hikmah, Allah janjikan kita sebagai orang-orang yang menerima kebaikan yang banyak.

Sudah sepatutnya kita yang mengaku memiliki akal sehat ini mampu menangkap setiap hikmah dan menerimanya sebagai sebuah kebaikan, bukan kebaikan saja, tapi kebaikan yang banyak.

Begitupun setiap kejadian-kejadian dalam hidup kita baik kejadian yang menyenangkan hati kita karena apa yang kita mau sesuai dengan takdir-Nya, maupun kejadian yang kita mau tidak sesuai dengan takdir-Nya pastilah memiliki hikmah. Asal kita saja yang mau menerimanya atau tidak.. asal kita saja mau menangkap hikmah tersebut atau tidak.

Setiap pertemuan perpisahan atau pertemuan kembali pun pasti memiliki hikmah. Setiap kerisauan, kegundahan, kesenangan, bahkan mata yang mampu berkedip pun memiliki hikmah.

Jangan pernah luput dari hikmah yang Allah berikan. Karena hikmah itu ada untuk menguatkan kita di detik-detik kehidupan kita ke depan sampai yaumul akhir nanti, mungkin.

Kuatlah dengan hikmah, kuatlah dengan apa yang sudah Allah kehendaki sebagai “hikmah kita”. Kuatlah, karena Allah ingin melihat kita tersenyum di gerbang jannah-Nya. Kuatlah, karena Allah ingin menyambut kita di syurga-Nya.

Allahua’lam

Jangan Sampai Compang-Camping

11428017_1603830316553587_5218815952663095753_n

Saat melihat poster berisi quotes tersebut, saya benar-benar dibuatnya merenung. Merenung banyak hal, ah… mungkin terlalu banyak untuk diutarakan. Mulai dari Ramadhan, bersihnya hati, penuhnya kegiatan (sekarang lagi menyiapkan presentasi untuk sidang). Semoga perenungan ini bisa menjadi bekal untuk awal ramadhan yang lebih baik.

Ustadzahku pernah berkata, “Jangan sampai kita datangi Ramadhan dengan compang-camping”

Tak akan pernah terlupa, sungguh.

Pada bulan ini, Allah melihat akan melihat siapa yang paling bertakwa maka sebagai mu’min sudah seharusnya kita berlomba-lomba dalam kebaikan pada bulan Ramadhan ini. Target yang banyak? Alhamdulillah … baik… Tapi jangan lupa, apa landasan kita dalam melakukan targetan-targetan tersebut. Saya merasakan hal yang cukup berbeda ketika ramadhan tahun lalu saat saya ‘bernafsu’ untuk mengejar targetan, tak peduli apapun itu, pokoknya harus kejar targetan, sayang, saya lupa memahami esensi targetan-targetan tersebut.. sayang, saya sedikit sekali memahami kalamullah. Sungguh sayang seribu sayang.

Seperti perkataan Mufti Ismail Menk,

ada orang-orang yang mungkin tidak muncul sebagai kalangan dari muslim terbaik tapi usaha mereka untuk mendapatkan cinta Allah ternyata lebih besar daripada kalangan muslim yang baik dan hebat tadi…

Sungguh jika kita menganggap diri ini sudah berkontribusi banyak, sudah melakukan hal banyak, targetan-targetan Ramadhan yang banyak, tapi tahukah di luar sana ada orang-orang yang dengan tulus dan ikhlas bertaubat pada Allah, merintih di setiap malam-malamnya, senantiasa membersihkan hatinya, takut akan adzabnya, ingat dan berharap akan hari akhir, bersedekah dengan segala kekurangannya, berbuat dalam diamnya, hanya untuk mendapatkan cinta Allah…

Ramadhan, jangan sampai kita compang-camping dalam menyambutnya, pun jangan sampai koyak dalam menjalankan setiap amal di setiap detik-detiknya.

Ramadhan, setiap detik, setiap hela nafas dapat menjadi doa, yang akan diijabah berkali lipat. Setiap detik yang jika kita menyebut namanya dan memohon dalam do’anya akan berkali lipat dihargai oleh Allah..

Allah, jangan sampai Ramadhan kusambut dengan kecompang-campingan amalku, jangan sampai ia kusambut dengan waktu yang sia-sia. Aku tak tahu kapan Allah memanggilku kembali ke pangkuannya, boleh jadi inilah… inilah Ramadhan terakhirku, boleh jadi inilah terakhir kalinya dosa-dosaku dihapuskan oleh Allah.

Allah, jangan sampai aku compang-camping dalam Ramadhan-Mu.

Bekal untukku I

[Notulensi Kajian Ahad Pagi Edisi Spesial Tarhib Ramadhan 1436 H]

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalaamu’alaykum Wr Wb

✨ TALK SHOW✨
“Membangun Keluarga Qur’ani di Bulan Ramadhan”

Bersama : Ustadz Agus Sujatmiko dan Bunda Ika Abriastuti beserta kedua anak kembar mereka  yang Hafidz Al Qur’an 30 Juz (M. Ismail dan M. Ishaq)

📅 Ahad, 14 Juni 2015
⏰ 08.00 -10.00 WIB
🏡 Aula Utama Masjid UI Depok

1⃣  Q : Seperti apa sebenarnya keluarga Qur’ani itu?
Bagaimana kita bisa membentuk keluarga Qur’ani dari rumah kita?
💎👉 Ustadz Agus : Keluarga Qur’ani adalah sebuah keluarga yg dekat dengan Al Qur’an, bersahabat dengan Al Qur’an, senantiasa berinteraksi dengan Al Qur’an. Dulu para sahabat ketika mendapat ayat demi ayat dari Rasulullah, mereka langsung membaca berulang-ulang sampai hafal, dan setelah hafal , mereka mencoba memahami, mempraktekkan, mengamalkan, dan setelah itu mengajarkannya.

2⃣ Q : Apa saja tips, kunci pondasi utama untuk membangun keluarga Qur’ani?
💎👉 Bunda Ika : Sebagai seorang istri ataupun ibu kita wajib melakukan Qiyamul Lail, sebagai “charger ruhiyah” kita. Hal ini yg pertama harus kita lakukan sehingga menjadi rutinitas. Sebelum berinteraksi dengan manusia, kita berinteraksi terlebih dahulu dengan Allah swt. Karena ini akan berpengaruh dengan kestabilan emosi kita. Orang yg terbiasa Qiyamul Lail akan lebih mudah untuk mengontrol emosinya. Misalnya, ketika seorang ibu masak kemudian dikomplain sama anaknya, dia tidak akan terburu marah, karena dia sadar inilah manusia, yang tidak sempurna, akan saja ada kesalahan yg dilakukan. Kepada Allah swt terlebih dahulu kita bangun hubungan yg baik, sehingga nantinya kita siap berinteraksi kepada sesama manusia.
Yg kedua selalu berusaha untuk senantiasa dekat dengan Al Qur’an, selain tilawah, kita juga baca terjemahannya, agar kita tidak sekedar hafal namun juga tahu akan maknanya. Setiap masalah yg hadir jawabannya ada di dalam Al Qur’an. Jadi ketika kita selalu membaca, insyaAllah kita akan selalu dekat dengan Allah, dan Allah selalu menjawab setiap permasalahan yg kita hadapi.
Setelah Qiyamul Lail, biasakanlah untuk menyentuh Al Qur’an dan membacanya , sehingga ketika anak-anak bangun yg dia dengar pertama kali adalah lantunan ayat suci Al Qur’an.

3⃣ Q : Sejak kapan menghafal Al Qur’an? Apa yg pertama dipikirkan saat pertama menghafal?
💎👉 Ismail : Saya suka dengan Al Qur’an ketika masih kecil, karena di keluarga selalu dibiasakan setiap ba’da shubuh untuk membaca Al Qur’an bersama Abi, Umi, dan Kakak-Kakak. Karena kami (Ishak & Ismail) belum bisa membaca Al Qur’an, maka kita hanya mendengarkan mereka membaca Al Qur’an. Waktu masih TK, kami mendengar potongan ayat di Q. S Al Baqarah : “… Wa ismaila wa ishaqa…”, kami merasa terpanggil, kami mendengar nama kami disebut-sebut oleh Umi. Dari mulai situlah kami mulai mencintai Al Qur’an, dan ketika kakak membaca Al Qur’an, kami selalu mendengarkannya.

4⃣ Q : Metode apa yg ustadz gunakan untuk mendidik Al Qur’an kepada anak-anak selain yg nomer 6,7 (Ishaq & Ismail). Sejak kapan membiasakan diri untuk selalu berinteraksi dengan Al Qur’an?
💎👉 Ustadz Agus : Waktu kami menikah, kami mempunyai komitmen, bahwa pernikahan kami berlandaskan nilai-nilai keislaman dan perjuangan. Dan kami menentukan satu tujuan yaitu untuk membangun keluarga dakwah. Karena seperti yg kita tahu bahwa keluarga dakwah adalah keluarga yg punya urusan untuk umat, kami berupaya untuk menghidupkan Al Qur’an semampu yg kami bisa di dalam keluarga kami. Karena anak-anak itu sudah Allah berikan potensi yg sangat besar, Ibarat sebuah komputer yg masih kosong, kalau tidak diberikan/diisi dengan yg baik, maka outputnya juga tidak akan baik. Hal terbaik apa yg harus kami berikan kepada mereka? Maka kami memutuskan utk membangun keluarga yg cinta Al Qur’an. Membiasakan membaca Al Qur’an setiap hari, menjadi perhatian tersendiri. Apalagi ketika kita membaca ayat-ayat yg terkait dengan nama-nama mereka. Jangan mencontohkan kepada anak-anak kita kepada sesuatu yg negatif. Misalkan memutarkan yg negatif, karena akan sangat cepat terekam oleh mereka.

5⃣ Q : Ketika proses menghafal, apakah pernah ada perasaan bosan? Bagaimana cara menghilangkan rasa malas, rasa bosan tersebut?
💎👉 Ishaq : Waktu menghafal masih kecil, kami pernah merasa malas menghafal dan bosan. Kita mencari cara bagaimana mengatasi rasa malas tersebut. Dulu kami termasuk santri yg kecil, masih kelas 3 SD, sedangkan yg lain kelas 5. Ketika di pesantren ada keunikan, disana kami saling berkompetisi. Jika kita malas, kita selalu diingatkan dengan saingan kompetisi yg sudah hafal banyak, sehingga motivasi kita tumbuh kembali utk menghafal. Lingkungan yg ada interaksi dengan Al Qur’an perlu diciptakan. Karena ketika kita tidak mampu menyemangati diri sendiri, akan selalu ada orang lain yg akan menyemangati kita.

6⃣ Q : Sebelum masuk pesantren sudah diajarkan Al Qur’an. Kalau sedang malas, kiat-kiat apa yg dilakukan bunda?
💎👉 Bunda Ika : Allah swt itu mempunyai keluarga di dunia, siapaka dia?
Orang yg sering berinteraksi dengan Al Qur’an, maka akan menjadi keluarga Allah swt. Orang tua yg sukses adalah yg bisa membuat anaknya masuk surga. Ahlul Qur’an, Ahlul jannah adalah satu paket. Dari kecil saya sudah memberi label yg bagus untuk anak-anak. Saya selalu mengajak mereka untuk membantu saya menjadi umi yg sukses, “Ayo nak bantu umi untuk menjadi umi yg sukses.”
Ketika amal baik kita lebih berat dari amal buruk maka kita akan masuk surga, dan sebaliknya ketika amal buruk kita yg lebih berat, maka kita akan masuk neraka. Lalu bagaimana ketika amal baik dan amal buruk kita seimbang? Akankah kita masuk surga? Atau justru sebaliknya kita masuk neraka?
“Syafaat”,  ya kita butuh syafaat dari Rasulullah. Dan salah satu syafaat yg bisa kita peroleh di hari akhir nanti adalah dari Al Qur’an dengan syarat kita pun akrab dengannya. Di hari akhir nanti, Al Qur’an akan menjadi pengacara yg hebat, Al Qur’an akan membela pembacanya.

7⃣ Q : Apa program spesial yg biasa ustadz adakan di bulan ramadhan?
A : Ramadhan itu adalah istimewa, bulan ramadhan adalah syahrul Qur’an. Sikap kita sebagai seorang muslim harus memiliki Skala prioritas terhadap Al Qur’an Ketika kita bersikap istimewa terhadap bulan ramadhan, maka bulan itu juga akan bersikap istimewa dengan kita. Yg mengesankan, kami mengunjungi palestina, yaitu di jalur Gaza, pada tahun 2012. Kami (saya, bunda ika, dan 3 anak kami) ,3 santri, dan satu guru kami melakukan study banding, di jalur gaza. Kita ingin melihat secara langsung  bagaimana setiap bulan Ramadhan mereka bisa mencetak 10000 penghafal Al Qur’an.
Orang bisu, tuli pun bisa menghafal Al Qur’an. Bagaimana caranya? Mereka menghafal dengan cara menulis.
“Bulan Ramadhan itu sangat istimewa. Ketika kita memuliakan ramadhan, Allah akan memberikan keberkahan2 di dalamnya.”

8⃣ Q : Selama ini dalam membersamai anak, apa kesulitan terbesar? Misalnya anak yg ingin main, batas waktu?
💎👉 Bunda Ika : Saya membuat aturan terhadap waktu. Kuncinya membuat kesepakatan, misalnya ketika nonton televisi hanya 1 jam . Kemudian komitmen dengan kesepakatan tersebut.

Keunikan di keluarga kami, saat 10 hari terakhir saya menyediakan makanan yg enak adalah saat sahur, untuk memudahkan mereka ketika bangun sahur.  Dalam 10 malam terakhir itu Allah memberikan satu malam. Ketika kita sedang membaca Al  Qur’an maka kita akan mendapat pahala senilai dengan 1000 bulan. Dan kalau kita sedang berdoa, itulah yg akan merubah takdir kita, karena disaat itu malaikat jibril dan malaikat-malaikat yg lain sedang turun ke bumi untuk menyaksikan hamba-hamba Allah yg sedang beramal shalih.

[Question~Answer]
1⃣ Q : Bagaimana utk menyiasati hal-hal yg merusak hafalan seperti televisi, gadget dan hal lainnya yg bisa mengganggu?
A : Kita tidak bisa melepaskan diri dari faktor tersebut, itu adalah bagian dari tantangan. Prinsip dasarnya, mari menjadikan tantangan sebagai peluang. Dalam menghafal 1 hal yg mendasar yg bisa menghancurkan/merusak hafalan adalah kemaksiatan. Maka jauhilah segala kemaksiatan. Alat-alat yg sebagai sahabat yg sekiranya bisa melalaikan dari Al Qur’an kita tinggalkan perlahan-lahan. Kita harus pandai-pandai menyiasatinya.

“Letakkan dunia di dalam tanganmu, bukan didalam hatimu.”

Televisi, dengan tidak memiliki televisi bukanlah solusi. Anak tetap harus dikenalkan teknologi, namun kita buat rambu-rambunya. Kita tumbuhkan kesadaran. Kalau kita pandai menyiasati, insyaAllah teknologi tersebut akan memberi manfaat. Untuk menjaga hafalan, maka lagu-lagu harus dikurangi.

2⃣ Q : Mengapa fenomena yg ada,  banyak yg menghafal Al Qur’an, namun belum mengaplikasikan sesuai dengan semestinya?
A : Mengahafal bukanlah segala-galanya, namun bagaimana anak-anak bisa mengamalkan apa yg dihafalkan.
Hafal bukanlah akhir dari sebuah interaksi dengan Al Qur’an, justru merupakan awal. Untuk itu, waktu yg paling tepat menjadikan seorang anak menjadi penghafal Al Quran adalah ketika anak masih anak-anak. Anak usia 5 tahun, membaca Al Qur’an dan hafal juz 30, sehingga masa SD bisa hafal 30 juz. .
Sekarang ada metode, anak bisa hafal 30 juz. Syaratnya balita sudah hafal juz 30. Sekarang ada TAUD (Tahfidz Anak Usia Dini) bukan paud lagi. Kelas 1 SD bisa hafal 30 juz. Memberikan pendidikan kepada anak tidak bisa dengan paksaan, tapi dengan kesadaran.
Menghafal Al Qur’an itu harus bisa ditanamkan ketika balita. Ketika baligh, kita mulai menanamkan nilai keislaman yg terkandung didalamnya, kita naikkan tingkatannya, dari yg sudah tahsin, menghafal, kemudian kita ajak untuk memahami, kemudian mengamalkan yg selanjutnya bisa mengajarkan dengan bimbingan guru. Sepintar apapun seseorang ketika tidak punya guru, maka tidak akan punya  keteladanan. Dan Pengalaman yg ada pada seorang anak biarkan ada didalam bawah sadarnya.
Kalau mengajari/mendidik anak itu yg ikhlas. Doa orang tua itu sangat mustajab, maka doakan dengan doa-doa terbaik kepada anak-anak kita. Kondisi badan yg akan tidur adalah kondisi dimana gelombang otak sangat siap menerima apapun utk dihafal.

3⃣  Q : Bagaimana kita mendidik seorang anak yg bisu, yg orang tuanya berharap dia menjadi penghafal Quran?
A : Yakin kepada Allah, bahwa Allah akan selalu menolong dan memberikan yg terbaik bagi hambanya. Surga itu dari banyak pintu, tapi kita harus berusaha, bahwa kita bisa menjadi hafidz Qur’an. Azzam, doa, upaya l, kita lakukan terus menerus.
Pahala Allah swt itu berbanding lurus, dengan tingkat kepayahan yg kita alami . Jadikanlah anak ibu sebagai tiket menuju surga, dan jangan lupa kita senantiasa mensyukuri atas apa yg sudah Allah berikan. “Positif thinking”, karena hanya yg positif yg akan menarik yg positif juga.

4⃣ Q : Kalau melihat kondisi saat ini tidak seperti dulu. Bagaimana cara menjaga anak-anak yg diluar rumah?
A : Memperkenalkan islam, mulai umur 4 tahun. Ketika berumur 7 tahun harus lebih intens, hak kita sebagai orang tua memukul anak ketika dia tidak sholat pada umur 10 tahun. Pembiasaannya harus dari kecil. Karena kalau sudah baligh, mereka sudah terkondisikan oleh lingkungan. Kebiasaan-kebiasaan yg baik pasti akan memberikan efek jika dilakukan terus menerus.

5⃣ Q : Apa saran utk yg akan mempunyai anak atau yg akan menikah, sehingga nantinya bisa menciptakan generasi yg baik  ?
A : Hak pertama seorang anak itu adalah dengan mencarikan ibu yg shalihah/ibu yg baik.
Idealny seorang laki – laki yg shalih, ketika dia mencari seorang istri, istri yg shalihah.
Apa yg dirasakan, apa yg dimakan, pada seorang ibu hamil, akan sangat berpengaruh kepada anak yg dikandungnya. Ibu dan ayah punya saham dalam pembentukan karakter seorang anak. Jadi ketika kita menemukan anak kita melakukan kesalahan, jangan langsung menyalahkan, namun kita sebagai orang tua harus introspeksi diri, barangkali sebab anak melakukan kesalahan itu karena kita sebagai orang tua tidak memberikan pendidikan yg baik. Pada dasarnya semua anak istimewa. Sebagai orang tua tidak cukup hanya menasehati, namun kita juga harus mendoakannya, meminta kepada Allah yg terbaik.

✨Point yg perlu kita tanamkan kepada anak-anak, kita harus mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak kita sejak dalam kandungan. “Letakkan Al Qur’an di dadamu, maka akan kau genggam dunia ditanganmu.”
Tanamkan Al Qur’an itu sejak kecil dengan menghafal, ketika balita sudah bisa membaca, hafal juz 30. Saat SD menghafal 30 juz, dan setelah itu fokus menanamkan nilai2 keislaman dengan cara mencarikan guru yang bisa membimbing. karena belajar memerlukan guru sebagai tauladan. Seorang anak akan terdidik menjadi anak yg sholih asal ada kemauan.✨

Wallahu A’lam Bish shawab
✨Karena kami tidak sekedar memberi informasi tapi senantiasa untuk selalu menginspirasi 😄

Wassalaamu’alaykum Wr. Wb.

🌏 : mesjidui.ui.ac.id
📹 : bit.ly/mesjidui
🐤 : @masjidUI

Ia Datang untuk Menguatkan

“Ya Allah, kenapa ini harus terjadi pada saya?”
“Kenapa, ya Allah?”

Biasanya hal-hal tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan ketika kita ditimpa musibah atau diuji dengan kesusahan.

Tapi, ingatlah..
Bahwa Ujian dari Allah itu datang bukan untuk melemahkan

Sekali lagi, ujian itu datang bukan untuk melemahkan kita.
Ujian itu datang untuk menyempurnakan kita
Ujian datang untuk mengubah kita menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah, pribadi yang lebih tangguh, pribadi yang lebih kuat menghadapi dunia ini.

Ujian itu datang untuk dilalui, bukan untuk ditangisi saja.
Ya, ujian itu datang bukan untuk melemahkan, melainkan menguatkan.
Terima ujian dari Allah sebagai tantangan bahwa diri ini bisa lebih kuat, lebih baik, lebih tangguh dalam menjalani perintah-perintah Allah di muka bumi ini.

Allahua’lam

#renunganmalam

Selangkah Lebih Dekat dengan Mimpi!

Boleh cerita sedikit nggak?

Alhamdulillah Allah (lagi-lagi) menunjukkan jalan-Nya.  :’))

Jadi ceritanya kemarin ada pesan WA di sebuah grup yang menginformasikan seputar Ma’had yang namanya Ma’had Hujjatul Islam. Awalnya santai, tapi setelah saya skrol kebawah, keliatan deh materi2 dan pengajarnya, beberapa mata kuliah yang akan diajarkan di ma’had tersebut memang sangat mencuri perhatian saya terlebih ketika saya melihat daftar pengajarnya yaitu Dr. Adian Husaini! Waaa langsung bergetar cetar membahana (maaf berlebihan)

Saya, walaupun belum punya satupun buku beliau, ada sih, ebook, sering banget baca2 tulisan yang beliau share, sampai2 sempat kepikiran ‘ya Allah mau deh suatu saat berada di peneliti INSIST atau seenggaknya berdekatan sama mereka’.  Karena saya seneng banget bahas tentang yang berbau teologi, sejarah, dkk.  Saya jadi jatuh cinta sama tulisan pak Adian Husaini dan pak Hamid Fahmy Zarkasyi. Biasanya saya cuma dapet dari jarkoman bapak-bapak yang jualan bukunya pak adian husaini atau pak hamid fahmy z, trus saya lempar isunya di grup grup angkatan, walaupun nggak banyak yang tertarik sepertinya  :’)) atau belum tertarik…

Terus, alhamdulillah lagi, akhirnya hari ini  Allah ijinin utk ikut tes wawancaranya dari Ma’had tersebut .: ‘) semoga bisa lolos.. pas ditanya imam ttg siapa itu imam Al Ghazali, huaa gatau apa apa :’) terus ditanya madzhab juga gatau apa apa..  :’)

Yaudah, pasrah aja sama ketentuan Allah…

Nah, karena saya belum persiapan dan belum cari2 ttg ma’had tersebut, anehnya saya, setelah wawancara baru deeeh surfing ttg ma’had nya. Siapa aja detail pengajarnya. Daaaan alhamdulillah banget baru sadar kalau yang ngajar itu peneliti-peneliti INSIST.  :’)))))

Ya Allah, ga pernah bayangin bisa selangkah lebih dekat dengan cendekiawan2 :’) ga pernah mimpi juga bisa setidaknya ada kesempatan langsung buat belajar sama mereka.. 

:’)))) alhamdulillah….

This is Love

This is love.

And so there are some who spend their whole lives seeking. Sometimes giving, sometimes taking. Sometimes chasing. But often, just waiting. They believe that love is a place that you get to: a destination at the end of a long road. And they can’t wait for that road to end at their destination. They are those hearts moved by the movement of hearts. Those hopeless romantics, the sucker for a love story, or any sincere expression of true devotion. For them, the search is almost a lifelong obsession of sorts. But, this tragic ‘quest’ can have its costs—and its’ gifts.
The path of expectations and the ‘falling in love with love’ is a painful one, but it can bring its own lessons. Lessons about the nature of love, this world, people, and one’s own heart, can pave this often painful path. Most of all, this path can bring its own lessons about the Creator of love.

Those who take this route will often reach the knowledge that the human love they seek was not the destination. Some form of that human love, can be a gift. It can be a means. But the moment you make it the End, you will fall. And you will live your whole life with the wrong focus. You will become willing to sacrifice the Goal for the sake of the means. You will give your life to reaching a ‘destination’ of worldly perfection that does not exist.
And the one who runs after a mirage, never gets there; but keeps running. And so too will you keep running, and be willing to lose sleep, cry, bleed, and sacrifice precious parts of yourself—at times, even your own dignity. But you’ll never reach what you’re looking for in this life, because what you seek isn’t a worldly destination. The type of perfection you seek cannot be found in the material world. It can only be found in God.

That image of human love that you seek is an illusion in the desert of life. So if that is what you seek, you’ll keep chasing. But no matter how close you get to a mirage, you never touch it. You don’t own an image. You can’t hold a creation of your own mind.
Yet, you will give your whole life, still, to reaching this ‘place’. You do this because in the fairy tale, that’s where the story ends. It ends at the finding, the joining, the wedding. It is found at the oneness of two souls. And everyone around you will make you think that your path ends there: at the place where you meet your soul mate, your other half—at the point in the path where you get married. Then and only then, they tell you, will you ever finally be complete. This, of course, is a lie because completion cannot be found in anything other than God.

But the lesson you’ve been taught since the time you were little—from every story, every song, every movie, every ad, every well-meaning auntie—is that you aren’t complete otherwise. And if—God forbid—you are one of the ‘outcasts’ who haven’t gotten married, or have been divorced, you are considered deficient or incomplete in some way.

The lesson you’re taught is that the story ends at the wedding, and then that’s when Jennah (paradise) begins. That’s when you’ll be saved and completed and everything that was once broken will be fixed. The only problem is, that’s not where the story ends. That’s where it begins. That’s where the building starts: the building of a life, the building of your character, the building of sabr, patience, perseverance, and sacrifice. The building of selflessness. The building of love.

And the building of your path back to Him.

But if the person you marry becomes your ultimate focus in life, your struggle has just begun. Now your spouse will become your greatest test. Until you remove that person from the place in your heart that only God should be, it will keep hurting. Ironically, your spouse will become the tool for this painful extraction process, until you learn that there are places in the human heart made only by—and for—God.

Among the other lessons you may learn along this path—after a long road of loss, gain, failure, success, and so many mistakes—is that there are at least 2 types of love. There will be some people you love because of what you get from them: what they give you, the way they make you feel. This is perhaps the majority of love—which is also what makes much of love so unstable. A person’s capacity to give is inconstant and changing. Your response to what you are given is also inconstant and changing. So if you’re chasing a feeling, you’ll always be chasing.  No feeling is ever constant. If love is dependent on this, it too becomes inconstant and changing. And just like everything in this world, the more you chase it, the more it will run away from you.

But, once in a while, people enter your life that you love—not for what they give you—but for what they are. The beauty you see in them is a reflection of the Creator, so you love them. Now suddenly it isn’t about what you’re getting, but rather what you can give. This is unselfish love. This second type of love is the most rare. And if it is based in, and not competing with, the love of God, it will also bring about the most joy. To love in any other way is to need, to be dependent, to have expectations—all the ingredients for misery and disappointment.

So for all those, who have spent their life seeking, know that purity of any thing is found at the Source. If it is love that you seek, seek it through God. Every other stream, not based in His love, poisons the one who drinks from it. And the drinker will continue to drink, until the poison all but kills him. He will continue to die more and more inside, until he stops and finds the pure Source of water.

Once you begin to see everything beautiful as only a reflection of God’s beauty, you will learn to love in the right way: for His sake. Everything and everyone you love with be for, through and because of Him. The foundation of such love is God. So what you hold onto will no longer be just an unstable feeling, a fleeting emotion. And what you chase will no longer be just a temporary high. What you hold, what you chase, what you love, will be God: the *only* thing stable and constant. Thereafter, everything else will be through Him. Everything you give or take or love or don’t love, will be by Him. Not by your nafs. It will be for Him. Not for your nafs.

This means you will love what He loves and not love what He does not love. And when you do love, you will give to the creation—not for what you can get in return from them. You will love and you will give, but you will be sufficed from Him. And the one who is sufficed by God, is the richest and most generous of all lovers. Your love will be by Him, for Him, and because of Him. That is the liberation of the self from servitude to any created thing. And that is freedom. That is happiness.

That is love

Originally Posted by Yasmin Mogahed

He who knows our heart

He is The One who knows our heart…

Dia tau yang nampak dan tidak nampak.
Dia tau apa yang di dalam hati kecilmu, bahkan apa yang coba kau sembunyikan dari dirimu sendiri.
Dia yang menyemai bibit-bibit itu.
Dia pulalah yang memahami kapan bibit itu akan menjadi buah dan bisa dirasakan manisnya.