Memahami banyak hal dari “Ia Bermuka Masam”

Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan untuk berbagi apa yang saya pikirkan dalam-dalam mengenai sebuah surat dalam Al-Qur’an, dimana surat tersebut memberi kesan tersendiri kepada Rasulullah dan tentunya saya juga sebagai salah satu ummatnya (Aamiin Ya Rabb). Pertama mengenal surah ‘Abasa yang artinya “Ia bermuka masam”, saya tidak terlalu banyak berkeinginan untuk memperhatikan kandungan surat sampai tiba suatu waktu saat saya harus mengenal lebih dalam surat ini. 

Sudah saya tekadkan untuk membuat Al-Qur’an masuk kedalam hati saya, maka saya coba menghafalnya serta memahaminya. Biasanya sebelum menghafal sebuah surat, saya selalu membaca terjemahnya hingga tuntas dan saya lakukan juga ketika saya mencoba menghafal Surat ‘Abasa. Saya baru tahu ketika itu makna dari “‘Abasa” sendiri yaitu ketika Rasulullah diberi teguran oleh Allah karena ia bermuka masam terhadap seseorang. Hanya bermuka masam kah? Saya terangkan kisahnya dari tafsir fi dzilalil qur’an ya :D

Sebelum itu saya sangat menganjurkan teman-teman yang membaca postingan ini untuk membaca surat ‘Abasa dari ayat 1-16. Baru boleh lanjut ke penjelasan kisahnya ya :D
Segmen 1 (ayat 1-16) inilah yang membuat saya bertanya-tanya serta berpikir keras mengenai makna Islam serta Rasul itu sendiri.

“Segmen pertama memecahkan suatu peristiwa tertentu yang terjadi dalam sirah (perjalanan hidup) Rasulullah SAW., yaitu, ketika beliau sedang sibuk mengurusi segolongan pembesar Quraisy yang beliau seru kepada Islam, maka beliau datang didatangi Ibnu Ummi Maktum seorang laki-laki tunanetra yang miskin. Karena tidak mengetahui Rasulullah SAW sedang sibuk mengurusi kaum Quraisy itu, maka ia tetap meminta kepada beliau agar mengajarkan kepadanya apa yang telah diajarkan oleh Allah kepada beliau. Sehingga Rasulullah SAW merasa tidak senang atas kedatangan Ibnu Ummi Maktum, lalu beliau bermasam muka dan berpaling darinya.Maka, turunlah ayat-ayat Al-Qur’an pada permulaan surat ini yang mencela sikap Rasulullah SAW itu dengan keras. Ayat-ayat itu juga menetapkan hakikat Islam dengan menggunakan metode yang pasti, sebagaimana segmen ini juga menetapkan hakikat dakwah dan tabiatnya.”(Tafsir Fi Dzilalil Qur’an oleh Sayyid Quthb Juz XXX an-Naba’-an’Naas)

Nah, itu tadi penjelasan kisah dibalik turunnya ayat 1-16 surat ‘Abasa. Jika ingin tahu lebih detil, milikilah sumbernya (re: Tafsir Fi Dzilalil Qur’an) :D Lantas apa yang membuat saya berpikir keras pasca melihat surat ini? Coba kalian renungi, untuk apa seorang Nabi yang hakikatnya adalah penyebar ajaran Islam melalui firman Allah (Al-Qur’an) tetap bersikeras menyebarkan surat ‘Abasa ini yang isinya mencela dirinya sendiri. Jika Rasul Muhammad bukanlah seorang Rasul yang benar maka ia tidak akan menyebarkan surat, yang isinya celaan padanya, ini kepada siapapun. Coba dipikirkan dahulu teman-teman. Apabila Rasulullah adalah seorang pendusta atau sekedar penyair yang dikatakan orang-orang kafir, untuk apa beliau siarkan surat yang jelas sekali menegur kesalahan yang Rasulullah perbuat saat itu sampai-sampai seperti yang disebutkan dalam Tafsir, Rasulullah mengatakan, “Selamat jumpa orang yang karenanya aku dicela oleh Tuhanku”.

Dari kisah Rasul dengan Ibn Ummi Maktum ini dapat kita tarik salah satu benang merahnya yaitu kebenaran. Kebenaran jelas dimiliki oleh Al-Qur’an yang datangnya dari Allah SWT maka tidak ada lagi keraguan padanya. Rasulullah sebagai salah satu manusia paling dihormati dan dilindungi oleh kaum muslim saat itu sebenarnya sangat mudah untuk menyembunyikan apa yang Allah sampaikan di surat ‘Abasa jika ia memang pendusta (a’udzubillahiminassyaitanirajiim). Namun, kenyataannya ia memang benar-benar MESSENGER OF GOD, pesuruh Tuhan. Setiap apa yang disampaikan Allah selalu disampaikan kembali kepada ummatnya, tanpa ditutup-tutupi.

“Pengumuman ini merupakan sesuatu yang besar dan tidak dapat dilakukan kecuali seorang Rasulullah, dari sisi manapun kita melihatnya. Ya, tidaka ada seorang pun yang mampu kecuali Rasulullah untuk mengumumkan kepada manusia bahwa dia dicela demikian keras dengan bentuk yang unik ini karena suatu kekeliruan yang dilakukannya. Cukuplah bagi orang besar manapun, selain Rasulullah, untuk mengakui kesalahan ini dan memperbaikinya di masa yang akan datang. Akan tetapi, ini adalah persoalan nubuwwah (kenabian), persoalan yang lain, dan ufuk yang lain pula.”
(Tafsir Fi Dzilalil Qur’an oleh Sayyid Quthb Juz XXX an-Naba’-an’Naas)

Berbeda dengan kita yang cenderung menutup habis-habisan semua kesalahan di depan publik apabila ditegur orang lain. Dalam tafsir juga disebutkan hanya di surat inilah dari seluruh Al-Qur’am Rasulullah SAW tercinta benar-benar mendapat perkataan “Kalla” yang artinya sekali-kali jangan demikian, yaitu perkataan untuk membentak. Lalu pikiran saya berujung, berarti Al-Qur’an jelas datangnya bukan semata-mata dari Rasulullah melainkan dari Yang Lain, Allah SWT. Maka, apa masih ada teman-teman muslim yang meragukan perkataan Allah dalam Al-Qur’an barang sedikit saja misalnya mengenai qisas atau hukum menutup aurat? Dan apakah masih ada terbesit tanpa kita sadari di dalam hati kecil kita bahwa Al-Qur’an bukan datang dari Tuhan melainkan dari Nabi Rasulullah SAW atau yang lain? Na’udzubillah..

Dari ‘Abasa inilah saya mendapat perenungan serta peneguhan hati bahwa Al-Qur’an, Islam, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini benar datangnya dari Allah SWT, tanpa terkecuali. Untuk teman-teman dan saya juga, saya ingin mengingatkan bahwasanya Al-Qur’an ini adalah pedoman dari Allah yang isinya harus kita amalkan kepada kehidupan sehari-hari, jika kita malas dalam sehari saja untuk membaca Al-Qur’an, pertanyakan pada diri kita masing-masing, apakah kita sebenarnya sudah percaya terhadap Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an memang datangnya dari Allah atau belum. Apa masih ada keraguan pada-Nya? Ataukah masih sekedar malas padahal sangat jelas Allah memerintahkan kita untuk selalu membaca Al-Qur’an dalam surat Fatir:29. Coba direnungi kembali surat ‘Abasa ayat 1-16 ini, pikirkan bagaimana mungkin Rasulullah adalah seorang pendusta sedang yang ia lakukan adalah penuh kebenaran dan kejujuran, pikirkan pula bagaimana hebatnya Rasulullah dalam berdakwah, penuh kejujuran tanpa diada-adakan dan tanpa ditutup-tutupi.

Untuk pemahaman lebih lengkap mengenai surat ‘Abasa, saya sangat-sangat menganjurkan teman-teman untuk buka http://tafsirzilal.files.wordpress.com. Semoga Allah selalu membukakan pintu hidayah pada kita ya teman-teman. Semangat mempelajari Al-Qur’an! :) 

“Berkatalah Rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan” (QS Al-Furqan : 30)

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s