Kenapa Harus “Hollywood”?

Gambar

“Kenapa Harus Hollywood? Kenapa harus mereka?”,

“Why? Why? Why?”

Pertanyaan itu terus bergentayangan beberapa waktu belakangan. Ya, “mengapa harus hollywood?” “Kenapa harus Barat?”

Kenapa? Kenapa?

Hollywood dan negeri “Barat” mungkin sudah jadi bagian dari hidup kita, bahkan hampir seluruh umat manusia di muka bumi ini kenal yang namanya “Hollywood”. Ohya, Hollywood yang dimaksud dalam tulisan ini adalah industri perfilman Hollywood beserta aktris, penyanyi, dan segudang industri hiburan lain di dalamnya. Bukan ingin menyalahkan Hollywood, namun sekarang saya ingin mencoba mencari tahu mengapa kiblat kita – para remaja dan kaum muda, adalah Hollywood dan segala industri hiburan di Amerika. Kita banyak melihat anak muda saat ini lebih memilih mengagungkan para aktris dan aktor keluaran Hollywood ketimbang yang lain.

Apa buktinya?

Pertama, Fashion dan Lifestyle. Fashion, sudah menjadi “icon” dan “jatidiri” dari seseorang, oleh karena itu seorang manusia akan perhatian betul dengan apa yang ia kenakan karena pakaian yang ia pakai menjadi salah satu cerminan dirinya, meskipun di beberapa kasus, banyak yang berusaha melakukan “kamuflase jati diri” melalui fashion. Yang terjadi saat ini adalah gaya berpakaian kita, khususnya anak muda, kebanyakan berkiblat pada Hollywood dan atau Barat. Dan sekali lagi, kenapa harus mereka?

Yap, dunia pasca revolusi industri memang penuh trik dan siasat. Amerika sebagai salah satu negara superpower yang dielu-elukan, dianggap sebagai negara dengan fashion paling Up To Date . Industri fashion mereka sudah lama menggunakan artis hollywood, penyanyi ternama sebagai icon brand mereka. Mereka juga berlomba-lomba menjadi sponsor para aktris dan aktor terkemuka yang seringkali rela “menjual” tubuh mereka demi mendapatkan popularitas serta kekayaan tentunya. Dan kita, sebagai manusia “biasa”—yang notabenenya adalah manusia biasa, adalah korban para dalang industri fashion. Nah, sampai disini coba kita bertanya lagi. Kenapa harus Hollywood? Kenapa harus mengikuti mereka?

Kita yang mengelu-elukan para aktris dan aktor hollywood lah sebenarnya yang sedang ‘disihir’ oleh para pelaku industri fashion. Kita dibuat menggilai mereka dengan fashion yang begitu modis dan memukau. Strategi “Celebrity Branding” yang menjadi senjata mereka, sangat ampuh untuk menyihir kita— the followers. Mereka menyihir kita melalui media, mulai dari televisi, video musik, film, papan jalan, koran, majalah, dan masih banyak lagi. Pakaian minim, ketat, tembus pandang, bahkan menjadi pakaian yang didambakan dan digandrungi semua kaum mulai dari muda hingga dewasa—mungkin juga yang  sudah lanjut usia. Semua berlomba-lomba untuk menyamai para seleb, mulai dari kalangan biasa sampai tingkat atas seperti para pelakon hiburan. Lantas, sekali lagi. Untuk apa? Kenapa harus seperti mereka?

                Kedua, setelah fashion, ada bukti lainnya yaitu Lifestyle. Gaya hidup atau Lifestyle sangat erat kaitannya dengan fashion. Bahkan saking eratnya, lifestyle dan fashion ini disandingkan bersamaan dalam satu mata ajar dalam kuliah saya yang  judulnya “Fashion dan Gaya hidup”. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, fashion memengaruhi dan mencerminkan siapa diri kita, karakter kita, bahkan hingga perbuatan dan kegiatan kita sehari-hari. Gaya hidup, yang juga tidak terlepas dari fashion, banyak yang berkiblat pada hollywood dan barat. Kebanyakan kita mengikuti gaya hidup mereka, mulai dari tontonan sehari-hari, kegiatan-kegiatan mulai dari nongkrong, merokok, berbelanja secara brutal, pergi ke kedai dan restoran-restoran, pesta pora, minum, sampai  seks. So, why? Kenapa sih? Apa kerennya untuk terlihat seperti mereka?

                Sekarang, coba kita pahami, mengapa manusia di dunia ini senang berkiblat pada Barat? Mengapa kita senang sekali bahkan sampai mati-matian menggilai mereka, gaya hidup yang tinggi sampai gaya berpakaian mereka?

                Dua dari sekian hal yang sangat mungkin menjadi faktor pemicu terjadinya kasus “peniruan” atau “ikut-ikutan” disini adalah kesenangan dan popularitas dalam tiap-tiap manusia. Tentu saja manusia suka kesenangan! Coba kita lihat, siapakah manusia yang senang dalam kesulitan? Eits, nanti dulu. Definisi kesenangan bagi kamus “dunia” itu memang segala hal yang kasat mata dan dapat dirasakan semisal harta, tahta, dan pasangan. Sebaliknya, kesenangan sebenarnya bisa berarti kesukaan dalam kesempitan. Sebagai contoh, seorang teman yang sewaktu itu sempat menginap di sebuah rumah di desa bersama-sama penghuninya mengatakan, “gue seneng banget bisa makan bareng-bareng sama mereka, walaupun cuma sama ikan teri sama sayur, beda rasanya kalo makan di rumah, makanannya enak, tapi gue makan sendirian”. Nah! Kasus “kesukaan dalam kesempitan” ini sebenarnya banyak terjadi namun jarang sekali yang bisa memaknai. Yang ada dan terjadi di era ini hanyalah kita dicekoki definisi “kesenangan” oleh para dalang perindustrian yang licik. Kesenangan adalah fashionable, kesenangan adalah pesta, kesenangan adalah makanan, kesenangan adalah boros, kesenangan adalah ini dan itu, kesenangan adalah bla bla dan segala hal yang berbau material.  So why?

                Faktor kedua yang mungkin muncul adalah, popularitas. Dalam artikel berjudul “The Society of Spectacle” atau “Masyarakat Tontonan” oleh Guy Debord, kita diperingatkan betul bahwa kondisi masyarakat abad ini adalah masyarakat yang ingin dilihat, yaitu masyarakat tontonan. Semua yang kita kenakan, makan, lakukan, dilakukan untuk menjadi tontonan. Kita ingin seperti artis, ditonton oleh banyak orang dari kursi penonton. Atau ingin seperti penyanyi, model, dan semua hal yang berbau popularitas. Oleh karena ingin ditonton, kita rela mati-matian membeli baju-baju, makanan, rumah, seperti para artis, penyanyi, atau orang kelas atas yang tinggi status sosialnya. Semua ingin dilihat, semua ingin terlihat. So why?

                Adakah sedikit keuntungan dari menjadi salah satu ‘pengikut’ mereka? Adakah?

                Jika kesenangan adalah hal-hal yang berbau materialisme, maka kesenangan itu akan cepat buyar. Baju. Makanan. Popularitas. Semua itu adalah hal yang bersifat temporer. Kita hanyalah korban dibalik strategi marketing dari perindustrian dunia ini. Lihat saja banyak industri semakin lama semakin berani memakai unsur pornografi sebagai alat pemasaran produk mereka sehingga kita terus dicekoki dan terjebak pada produk-produk yang merusak moral dan karakter. Begitu pula dengan artis, aktor, penyayi, dan orang-orang dengan status sosial yang tinggi, mereka semua alat untuk memasarkan produk mereka.

                So Why? Kenapa kita masih saja tergiur dengan ‘kesenangan’ dan ‘popularitas’ yang semu?

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al-An’am : 116)

 

“Kiamat ini tidak akan terjadi sampai umatku kelak meniru bangsa¬bangsa sebelumnya seperti sama persisnya jengkal dengan jengkal dan hasta dengan hasta. ” Maka, ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, seperti bangsa Persia dan Romawi?” Beliau bersabda: “Siapakah manusia itu selain mereka?” (HR. Bukhari (7319) Al-I’tisham bil-Kitab was-Sunnah). 

Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id: “Kami bertanya kepada Rasulullah: “Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa (jika bukan mereka) ?” (HR. Bukhari (3456) Muslim (2669.

‘Abdan Syakura

Pernah sekali melihat postingan menarik dari seorang senior mengenai “‘abdan syakura”, waktu itu saya masih belum tahu betul makna dari ‘abdan syakura sehingga hal tersebut membuat saya terpaksa surfing dan cari-cari di Al-Qur’an. Isi postingannya kurang lebih mengenai senior saya yang sedang merasa futur. Di tulisan tersebut ia memaparkan bagaimana ia — sebagai seorang muslim yang pada dasarnya sangat taat, sedang dilanda kegelisahan jauh dari rasa bersyukur pada Allah dan di akhir tulisan tersebut bahwa Allah akhirnya mengingatkannya untuk selalu menjadi ‘abdan syakura yang taat.

 

Belajar dari tulisannya, saya baru sadar. Belakangan ini saya sibuk. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, tugas, dan segala hal yang berbau duniawi dan hablum minannaas. Alhamdulillah saya sempat diingatkan oleh Allah melalui tulisan tersebut, Saya yang kemarin (insyaAllah hari ini dan seterusnya semoga tidak  lagi) sedang di bawah dan terasa betul dampaknya. Jauh dengan Allah, sedikit meresapi kalam-Nya. Ruh ini rasanya kering, tak ada asupan. Tubuh ini kelelahan, ia bekerja tanpa ruh yang “sehat”. Ia tak merasakan kenikmatan bersama ruh yang benar-benar hidup.

 

Semua ‘ulama setuju bahwa setiap insan pastilah naik turun kadar keimanannya, tinggal bagaimana kita terus tetap menyadari dan senantiasa berdoa pada Allah yang mebolak balikkan hati agar senantiasa menunjukkan kita pada jalan kebenaran.

 

Rasa syukur ini kemarin tidak diwujudkan dalam kenikmatan beribadah dan berduaan dengan-Nya. Kita semua tahu, rasa syukur bukan hanya terucap dalam kata tapi diwujudkan dalam amal ibadah pula. Seperti Rasulullah SAW yang selalu mewujudkan rasa syukurnya melalui ibadah sholat, puasa, zakat, serta ibadah-ibadah lainnya yang berhubungan dengan makhluk-Nya. Rasulullah SAW yang setiap malam memikirkan kita dan takut akan azab Allah dalam setiap sholat malamnya, itu semua perwujudan Rasul SAW dalam bersyukur kepada Allah. Rasa syukur yang tidak pernah terhenti dalam masa kerasulannya, Muhammad SAW, Sang Kekasih Allah.

 

Mari belajar untuk senantiasa menjadi ‘abdan syakura, hamba yang bersyukur..

Akhirnya!

Akhirnyaaaa! 2 Bulan tidak menulis disini, dan akhirnyaaa bisaaa :’D

Let me express lebay for a sec, kyaaaaa :3

Hehehe siap menulis lagi berbagi pengalaman dan hikmah

 

Musholla Teknik Fakultas Teknik UI,

Rabu, 12 ,Maret 2014

Pukul 17:37

Jika boleh saya…

Jika boleh saya mendeskripsikan cinta, kini izinkan saya membahasnya.

Walau bukan expert mengenai hal-hal berbau cinta, kini izinkan saya menggambarkannya.

CINTA, sebuah kata yang tak pernah habis tuk dibahas

CINTA, bukan saja soal rasa antara dua insan manusia,
CINTA juga milik Tuhan Yang Satu kepada hamba-hamba-Nya
CINTA juga milik Ibu pada buah hatinya
CINTA juga milik anak pada orang tuanya
CINTA juga milik sahabat pada sahabatnya
CINTA juga milik semua!

CINTA, bagiku cinta itu layaknya gelombang tenang di dalam air — arusnya tenang, tak terlihat, hangat
CINTA, seperti gelombang tenang di dalam air, pabila melihat gelombang itu dari atas permukaan, maka cinta kan sulit dirasakan, sulit ditebak kemana arahnya,
namun, pabila kita ingin merasakannya, maka kita hanya perlu melihat lebih dalam, cobalah celupkan tubuh kita ke dalam air, agar kita tahu, seperti apa itu CINTA

Kerapkali kita salah tentang CINTA, sulit me”rasa”kan cinta yang hadir, karena selama ini kita hanya melihatnya dari permukaan sehingga sulit dirasakan. Jika ingin merasakannya, celupkanlah mata, telinga, atau mungkin seluruh tubuh hingga hati kita, dengan ini, mungkin kita dapat merasakan cinta..

Cinta — kita hanya perlu melihat cinta lebih dalam untuk dapat merasakannya.

Cita-cita Misterius

Image

Maafkan……

karena blog ini sudah sekian minggu tidak diisi, sudah sangat usang sekali kelihatannya, ya?

Ah, kali ini saya isi deh dengan sebuah tulisan mengenai sebuah cita-cita misterius saya. Haha, ceritanya sok banget misterius

 

Mengapa saya buat judulnya “Cita-cita misterius?”. Begini, hingga detik saya menulis ini, saya masih berjibaku dengan pikiran saya sendiri mengenai hal apa yang sangat potensial dari diri saya. Maka dari itu hingga detik ini saya masih terus berjalan mencari fokus atau spesialisasi saya kelak.

Sejak SMA hingga sekarang, jujur saya masih ragu apa sebenarnya keahlian atau spesialisasi yang saya miliki hingga saya benar-benar bisa maksimal dalam satu bidang. Well, saya sendiri memang suka sekali mencoba hal-hal yang baru. Jadi memang masih banyak coba-coba! :D Sampai suatu hari saya tetap pada kesimpulan ingin memfokuskan diri menjadi pengusaha atau nama beken zaman ini yaitu “entrepreneur”. Yap, itu mimpi besar saya, satu.

Namun, belakangan ini saya baru mencicipi sebuah dunia baru, dunia yang sangat mengasyikkan. Dunia itu saya sebut “World of Imagination n Reality”. Dunia Imajinasi dan Realita.

***

Akhir-akhir ini, saya baru menyadari salah satu potensi yang saya miliki yaitu potensi dalam dunia bahasa atau linguistik. Semenjak kecil, nilai bahasa saya selalu paling bagus, entah mengapa menirukan dan mempelajari tata bahasa begitu asyik dan tak pernah menjemukan. Maka dari itu nilai bahasa Sunda, bahasa Perancis, bahasa Inggris saya selalu diatas rata-rata semasa sekolah dulu. Yang saya herankan sekali lagi, saya tak pernah menyadari bakat dan potensi saya dalam dunia bahasa yang isinya penuh dengan susunan kata, aturan, dan kalimat-kalimat menjelimet. Saya baru menyadari potensi ini justru ketika saya mulai banyak menulis. Entah, saya juga tidak tahu apakah mempelajari bahasa-bahasa akan ada pengaruhnya pada proses menulis, namun sejauh yang saya alami, ya, ada.

Saya tidak punya background atau track record yang baik dalam bidang kepenulisan. Yang saya tahu, dulu sewaktu SMA, saya pernah ingin membuat sebuah novel sederhana bertemakan roman dengan setting Eropa dan Indonesia pada zaman kolonial, namun sayang seribu sayang semua hanya berakhir di bab 1 karena saya menemukan banyak kendala.

Semasa awal kuliah, saya begitu aktif di berbagai organisasi, banyak mimpi dan karya yang ingin saya torehkan di masa muda. Alih-alih dari iseng menulis mimpi dan motivasi untuk diri sendiri, saya malah kepincut pada kegiatan menulis dan ingin menajamkan kemampuan menulis saya. Sebulan, dua bulan berlalu, saya malah semakin tertarik untuk menebar manfaat lewat jalan menulis. Barulah setelah setahun lebih suka sekali mengisi blog, saya pikir menulis adalah satu hal yang sangat mengasyikkan, dan bisa jadi potensi yang sangat baik apabila terus dikembangkan. Sempat terbesit beberapa waktu ingin sekali membuat tulisan pada blog ini menjadi naskah-naskah yang utuh. Menjadi penulis pun menjadi cita-cita misterius saya karena datangnya memang tidak disangka dan tidak pernah terpikir sebelumnya.

Bukan sekedar suka nulis kemudian terpikir menjadi penulis. Saya juga sangat merasakan banyak manfaat dari kegiatan menulis. Menulis menjadi labuhan saya ketika emosi sedang memuncak, entah dalam keadaan senang maupun susah. Menulis membuat saya terus berpikir mengenai dunia dan perputaran waktu di dalamnya, menulis juga membuat saya banyak merenung dengan kesalahan atau perbuatan-perbuatan tidak terpuji lainnya yang pernah saya perbuat. Dari menulis, manfaatnya bisa datang pada diri saya sendiri dan juga orang lain. dari menulis, saya juga dapat menyalurkan imajinasi serta ide-ide tentang kisah dan hikmah hidup. Pokoknya, manfaat menulis itu banyak sekali sehingga saya memutuskan menjadi penulis adalah salah satu cita-cita saya yang mungkin selama ini terpendam, tidak pernah saya ungkap sebelumnya pada sesiapapun termasuk diri saya sendiri.

Saya pun sering berpikir, kedepannya ingin sekali dapat terus menerus menelurkan tulisan-tulisan bermanfaat, yang karyanya dapat dibaca banyak orang. Walau begitu, saya tahu menjadi penulis yang karyanya dapat dinikmati banyak kalangan tidaklah mudah. Perlu proses serta aksi nyata. Saya tahu sekali untuk mengejawantahkan mimpi-mimpi ini perlu waktu dan pesakitan terlebih dahulu. Seorang penulis tidak boleh takut karyanya dicemooh atau tidak digubris, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menebar manfaat lewat tulisan-tulisan yang pernah kita goreskan dengan pena ini dengan kesungguhan.

Yap, bismillah. Doakan semoga suatu hari saya dapat menelurkan banyak karya yang bermanfaat ya, Terimakasih sudah mau melihat tulisan mengenai cita-cita saya yang mungkin sok misterius tapi serius ini. Hehe semoga manfaat

Bicara

Hari ini, hari yang cukup mengesankan.
Aku dan Ibu banyak berbicara soal masa depan. Ya, terutama masa depanku.
Aku kagum sekali dengan Ibu, yang selalu menjadi pendengar setia, penasihat terbaikku.

Setiap kata yang kulantunkan pada Ibu didengarnya dengan seksama dan penuh kesabaran..

Tiap kata..

Ibu selalu ingin yang terbaik untuk aku, anakmu yang sering membuatmu kecewa..
Ibu selalu ingin aku bahagia kelak.. Hidup penuh makna tanpa penyesalan

Ibu juga tak pernah arogan sebagai Ibu, jika ada masukkan atau saran dariku, Ibu termenung dan mencoba memahami tiap kata yang keluar dari mulutku..

Kami lebih dari sekedar ikatan Ibu-Anak, kami seperti sahabat,
Walaupun aku tau cinta Ibu pasti lebih besar, pengorbanan Ibu lebih banyak, kesusahan dan kepayahan yang Ibu alami jauh lebih besar jika dibandingkan dengan aku.

Ibu, Ibu yang jadi jembatanku. Jembatan antara Allah dan aku. Ternyata benar Bu, jika ada orang yang bilang, ‘Ibu adalah malaikat yang dititipkan Allah pada anaknya’..
Aku takkan bisa sejauh ini tanpa Ibu..

Ibu, kita akan bertemu lagi kan Bu di surga Allah? Aku yakin, Bu.. Aku yakin bu karena tangis yang kita pecahkan bersama maghrib ini adalah satu bukti kecintaan kita pada-Nya, Bu.. Aku yakin, Bu..

Sampai jumpa nanti kelak di Firdaus-Nya, Bu.. Bersama Bapak juga Adik..

Saya percaya se…

Saya percaya seorang perempuan yang dekat dengan Rabb-Nya akan dipertemukan dengan pria tangguh yang dekat dengan Rabb-Nya pula.

Karena perempuan inilah yang akan senantiasa menjadi salah satu sumber kekuatan sang pria ketika ia dilanda permasalahan-permasalahan dunia.

Perempuan yang dekat dengan Rabb-Nya senantiasa cerdas memberikan solusi dalam menghadapi semua permasalahan, menjadi cahaya di tengah kesemrawutan permasalahan di luar yang pelik.

Karena si perempuan cerdas ini adalah perempuan yang dekat dengan kalam-Nya. Karena si perempuan tahu, pada kalam-Nya lah, ia dapat menemukan segala jenis obat untuk permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi bersama sang pria dalam bahtera rumah tangganya.

Perempuan cerdas ini tahu visi misi kehidupannya adalah untuk akhirat sehingga segala aspek kehidupan dan perbuatannya diorientasikan pada kehidupan yang kekal nanti.

Perempuan ini juga senantiasa menjadi reminder saat sang pria jatuh atau lebih jauh bergelut di dunia luar, dunia fana.

Perempuan inilah yang senantiasa menjadi reminder saat anaknya mulai besar, ia tak kehabisan waktu untuk memerhatikan tiap perilaku anaknya dalam pertumbuhannya hingga anaknya dewasa kelak.

Perempuan inilah yang senantiasa mengobarkan api semangat kepada sang pria dan anak-anaknya agar selalu mengikuti suri tauladan terdahulu, para Rasul, Sahabat, Tabi’in Tabi’ut.

Perempuan inilah yang tak pernah berhenti mengajarkan kalam-Nya kepada anak-anaknya nanti.

Perempuan lah yang akan membentuk cikal bakal pemimpin-pemimin dunia.

Oh perempuan, ternyata sungguh besar peranmu, banyak sekali pe-er menantimu.
Persiapan adalah hal yang sangat penting hai perempuan, karena di tanganmulah — peradaban menggantungkan nasibnya.

Hei, tak usahla…

Hei, tak usahlah kau perhatikan yang lain,
Lihat waktu yang terbuang,
Lihat sunnah yang malas kau hidupkan,
Lihat targetan tilawah yang banyak gagal tercapai,
Lihat buku-buku yang masih teronggok di rak yang telah penuh debu,

Hei, jangan malas,
jangan terbuai,
waktumu tak banyak