We are truly Free

image

Tadi lihat pemandangan menyejukkan di CL menuju Bekasi..

Ada dua orang ibu duduk berdampingan, ibu A dan B katakanlah, ibu A yang duduk di sebelah kanan, memakai cadar hitam lengkap dengan abaya hitamnya, sedangkan ibu B terlihat lebih santai, segar, dan memakai sedikit riasan di wajah namun tetap memakai hijab yang menutupi. Masing masing dari mereka sama sama memangku anak anak perempuannya. Dua anak perempuan itu tertawa sambil berusaha memakan agar-agar Ina*o yang diberikan dari ibu A. Melihat pemandangan menggemaskan itu, Ibu B hanya tertawa sambil terlihat mengucapkan terimakasih pada ibu A. Keduanya tersenyum. Ah, sungguh indahnya :)

Dahulu di sekitar rumah masih banyak yang skeptis dengan perempuan bercadar, apalagi setelah tragedi bom bom di Indonesia. Sekarang alhamdulillah saya melihat banyak yang bisa memahami perbedaan pemahaman, di daerah Pocin misalnya, sudah banyak yang dapat berbaur dengan sekitar, bahkan berdagang dan berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya. Kini hijab, cadar, alhamdulillah mendapat respon baik, yang satu dapat menerima yang lain. Hidup dalam perbedaan itu indah jika dibarengi dengan ilmu. :)

Terimakasih pada para pejuang terdahulu yang banyak menyuarakan hak-hak seorang muslimah. Alhamdulillah ala kulli hal.

Sebuah Lirik dari Sami Yusuf, “FREE”
“Free”

What goes through your mind?
As you sit there looking at me
Well I can tell from your looks
That you think I’m so oppressed
But I don’t need for you to liberate me

My head is not bare
And you can’t see my covered hair
So you sit there and you stare
And you judge me with your glare
You’re sure I’m in despair
But are you not aware
Under this scarf that I wear
I have feelings, and I do care

So don’t you see?
That I’m truly free
This piece of scarf on me
I wear so proudly
To preserve my dignity…

My modesty
My integrity
So don’t judge me
Open your eyes and see…
“Why can’t you just accept me?” she says
“Why can’t I just be me?” she says
Time and time again
You speak of democracy
Yet you rob me of my liberty
All I want is equality
Why can’t you just let me be free?

For you I sing this song
My sister, may you always be strong
From you I’ve learnt so much
How you suffer so much
Yet you forgive those who laugh at you
You walk with no fear
Through the insults you hear
Your wish so sincere
That they’d understand you
But before you walk away
This time you turn and say:

But don’t you see?
That I’m truly free
This piece of scarf on me
I wear so proudly
To preserve my dignity
My modesty
My integrity
So let me be
She says with a smile
I’m the one who’s free

Jatuh (?)

Pandangan itu,
Pandangan yang tak bisa dielakkan itu,
Yakinlah akan melemahkan hati

Ah, sungguh tak enak ternyata
Jatuh (lagi)
Harap kemudian cemas,
Cemas kemudian harap,

Ini sudah suratan takdir,
Bahwa setiap insan akan jatuh,
Jatuh hati pada insan lain,

Bukan, bukan aku ingin membelot
Aku hanya sedang berkelit,
Berkelit dengan diriku sendiri

Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui
Engkau pasti tahu apa yang kami simpan rapat-rapat dalam hati,

Engkau jua yang tahu, apakah kebenaran atau kedzaliman yang kini sedang menawan hati

…Fayaghfiru limayyasyaa u wayu’adzibu mayyasyaa (Al Baqoroh : 284)

Bersabar dan Hadapilah!

Terkadang Allah membuat waktu kita menjadi terasa sempit sekali agar kita tahu nikmatnya detik-detik bersama Quran..

Bersabarlah..

Faidza ‘azamta, fatawakkal ‘Alallah.. (Q.S 3:159)

Selama kita berusaha, membulatkan tekad juga bertawakkal, Allah akan meringankan beban hati kita…in syaa Allah…

Lembaran Para Penjaga

Aku melongok ke bawah balkon, melihat sebuah mobil taksi terparkir lengkap dengan pak supirnya yang kelihatannya sedang mengangkut tas-tas dengan muatan yang penuh sesak di dalamnya. Sesaat sebelum aku masuk ke dalam, sebuah suara hangat menyapa,

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumsalam.. wahh.. namanya siapa?” Tanyaku penasaran

“Maya, mbak. Sumayyah” logat Jawa Tengahnya begitu kental teriring dalam ucapnya.

“Oh iya, salam kenal, Maya, aku Rani, masih ada barang di bawah May?” jawabku tersenyum, membalas senyumnya.

“Ada, mbak. Bentar ya kuambil dulu”, ia pergi meninggalkan ruangan asramaku yang masih sunyi, hanya aku seorang di dalam.

Aku tercenung sesaat ketika melihat supir taksi di bawah sedang berusaha mengeluarkan barang-barang milik Maya. Tiba-tiba saja sebuah rekaman film terputar di dalam otakku. Film yang masih sangat jelas dalam ingatanku, Aku tak bisa menghentikan buliran air mata ketika mencoba kembali ‘menonton’nya, lidahku tercekat, menonton film yang direkam sekitar setahun silam..

Bajuku mulai basah terkena air hujan sore itu. Aku mulai panik karena tak kunjung menemukan kontrakan pak Haji Majun sementara sang awan terus menerus menjatuhkan muatannya dengan deras. Untunglah ponselku berdering, rupanya panggilan masuk dari kontak yang bertuliskan ‘Lingling IQF’.

“Kamu maju terus sampe ketemu gang x, aku disini ya di atas asrama”, kata suara di seberang sana.

“Ya kak, aku kesana bentar bentar ya, kayaknya aku nyasar nih” jawabku

Tak lama setelah itu, aku berjalan dan akhirnya melihat seorang perempuan melambaikan tangan padaku.

“Ah, kak Lingling!”, gumamku.

Hujan sore itu berhasil membuat kami berdua kelaparan hingga akhirnya…

“Ran, ada bakso disitu. Mau beli, nggak?”
“Mau, mau kaaak..” balasku semangat.
Kakak itu melenggang dengan cepat dengan payung di tangannya. Lima menit kemudian, bakso datang.

Alhamdulillah, baiknya kakak ini.. Kataku dalam hati.
Kakak ini, akhirnya aku mengenal sosoknya. Sosok berani dan tegas. Kuambil pelajaran darinya bagaimana cara mengingatkan orang lain, membuat sebuah peraturan kebersihan hingga belajar mengenai sebuah hal yang bernama kesetiaan. Tiga tahun ia luangkan waktu untuk mengurusi mungkin puluhan santri agar dapat optimal dalam proses menghafal. Kakak ini juga, yang ketika waktunya sempit, pulang kantor jam 11 malam dengan waktu tempuh berjam-jam, masih menyempatkan diri untuk pulang ke asrama dan kembali menyetorkan hafalannya, masya Allah.. Istilah gaulnya kalo buat aku, “da aku mah apa atuh, kuliah di teknik doang yang nggak jauh jauh amat, masih tergoda dengan alasan ‘capek’ “

———————–

Sebuah sapa hangat malam itu meluncur dari mulut saudariku, Sarah Karimah.. aku memang tak ingat persisnya seperti apa ucapan yang ia sampaikan, namun aku ingat ketika kakak itu mengenalkan diri dengan senyuman penuh keceriaan ditambah sedikit guyon yang mewarnai malam pertamaku saat mendarat di asrama putri IQF. Kakak itu menunjukkan kamar dimana aku tinggal. Aku segera memberikan ucapan terimakasih-ku yang pertama untuknya. Aku tidak menyangka malam itu adalah awal perjalanan aku dan kak Sarah berjuang melalui hari-hari membersamai Quran dengan penuh keceriaan dan tawa. I love her so much.. Kakak benar-benar mewarnai asramaku dengan tawa dan keceriaan serta menunjukkanku semangat menghafal Quran meski dalam keterbatasan waktu…meski malam sudah larut, kau masih saja sibuk membaca dan menghafalkan.. :”) You are so caring and kind.. Uhibbuki Fillah, kakak..

Sesaat sebelum meninggalkan asrama, sebuah sapa kembali menyapa.
Aku tak ingat betul persisnya seperti apa, tapi aku segera mengenali kakak itu karena rumahnya masih satu kota denganku, Dini Rahmawati. Kakak yang kukenal dengan sifat cool ala akhwat tangguh membuatku belajar bahwa ada kalanya kita mesti diam dan menjadi ‘cool’. Kakak juga yang menginspirasi gerak dakwah kampus. Selalu memperjuangkan amanah, tak segan membantu ketika aku sedang membutuhkan bantuan. . Proud of you kakak, :”)

————-

Aku memang tak melihat sosoknya pada malam-malam awal. Mungkin aku yang kurang perhatian. Kakak ini kutemui pertama kali saat sedang perkenalan di awal sebelum berjalannya program. Aku baru sadar, ialah kakak yang beberapa bulan lalu tersebar namanya melalui jarkom jarkom whatsapp.. Melly… Dewi Ratna Diana Amelia. Seorang kakak tangguh dari tanah Madura. Kakak yang begitu menginspirasi. Dalam diam, aku mengagumi sosoknya yang ceria, aktif, dan cerdas. Aku memang bukan seorang yang mahir merangkai kata indah langsung di depan mata, tapi perlu kakak ketahui bahwa aku sangat mengagumi kecerdasan dan prestasimu yang begitu gemilang. Dalam kesibukan dan tuntutan lain, kakak masih saja berusaha dekat dan menghafal kalam-Nya. Semoga kakak selalu dalam keberkahan dalam meraih presati akademik dan qur’ani..

————-

Yang terakhir pada potongan film ini adalah seorang kakak yang hampir setiap aktivitasnya begitu menginspirasi atau bahkan memengaruhi sebagian caraku beraktivitas dan menghafal.

Tak ingat persisnya seperti apa percakapan pertamaku dengannya. Yang aku ingat, aku mengenal sosok kakak yang awalnya sangat terlihat anggun dan cool. Tapi kemudian, kakak ini seru banget untuk diajak berdiskusi seputar keislaman dan ilmu-ilmu lainnya, we used to talk about politic to marriage issue *bocor banget*. Ialah yang paling banyak memberikan ilmu padaku, menawariku belajar bahasa arab hingga i’tikaf bersama. Kakaaak love youuu :”

Kak Rahma Suci Sentia, perempuan berdarah minang, yang selalu bangun pada awal waktu. Menggedor-gedor pintu saudari lain yang masih terlelap dalam tidurnya. Tak lelahnya ia mengingatkan setiap pagi.
Ingatan tentang kakak lagi, selalu, sebelum tidur. Murottal adalah hal wajib untuk diputar pada playlist ponselnya sampai ia tertidur lelap dan bangun di pagi hari.

Menghafal dan Quran adalah darahnya. Ia yang begitu membara dalam proses ini. Aku begitu terpukau, sumber energi macam apa yang membuatnya begitu gigih dan konsisten dalam menghafal. Sungguh diri ini seringkali malu dengan apa yang telah kakak perbuat..

Barakallahfikum kakakku, teman sekamar selama kurang lebih satu tahun lamanya. Aku begitu merindukan gedoran pintu penuh semangat di waktu shubuh.. :”)

————
Inilah film bagian pertama. Film yang kembali kuputar malam ini. Merekalah saudariku yang tangguh dan gigih yang pernah kukenal dimulai dari aku menginjakkan kaki di asrama tercinta.

Sekuel filmnya in sya Allah keluar besok yah.

Let’s continue to the 2nd part, :)

After Fajr

Everytime you wanna go back to sleep after fajr prayer, remember..
You will be a mother of ur kids who has to prepare their breakfasts, clean the house, washes all dishes and clothes, kiss them or bring them to school, and manyyyy mooorree jobs that u will do.

You can never be the best for them if you never prepare for it :”)

Guided by Quran

Ini bukan kali pertamanya saya menggerakkan jemari untuk menulis serangkaian paragraf mengenai Al-Qur’an. Sungguh tiap kali berniat untuk menulis bertemakan Qur’an yang terbersit dalam pikiran saya hanyalah untuk memotivasi diri saya sendiri. Saya juga tidak mengatakan tidak ingin memotivasi teman-teman pembaca, alhamdulillah saya coba niatkan juga untuk membuat tulisan yang dapat memberi semangat untuk selalu berdekatan dengan Kalamullah kepada diri sendiri maupun pembaca.

 

Pada tulisan kali ini, saya mencoba untuk flashback pengalaman saya dengan Al-Qur’an utamanya dengan pengalaman pribadi mengapa tumbuh cita untuk menjadi penjaga qur’an.

 

Pertama kali menyadari pentingnya Al-Qur’an untuk selalu hadir dalam lembar-lembar kehidupan adalah ketika saya memasuki semester ketiga. Saat itu saya sudah berlabel ADK atau aktivis dakwah kampus walaupun ilmu yang saya miliki masih minim sekali, benar-benar minim. Literally. *sekarang pun masih minim :”)* 

Berlabelkan ADK mengharuskan saya mengerjakan amanah-amanah organisasi hingga suatu hari saya ditugaskan untuk mewawancarai tiga tokoh organisatoris di fakultas saya yang berlabel ADK juga dan kuat sekali interaksinya dengan Al-Qur’an. 

Datanglah hari dimana saya bertemu dengan seorang senior, kakak X, yang terkenal selalu menjaga tilawahnya setiap hari, banyak hafalannya, dll. Ketika saya melontarkan pertanyaan pada beliau saya sadar selama ini masih sangat jauh dengan Al-Quran. Padahal Al-Quran sangat erat kaitannya dengan kehidupan seorang muslim. Mendengar penjelasan, saya sadar bahwa AlQuran dengan seorang muslim itu bak air dalam kehidupan kita sebagai manusia. Manusia tanpa air bisa kekeringan bahkan meninggal. 

Semenjak hari wawancara itu, saya tahu bahwa Allah mulai membuka hati ini untuk selalu berinteraksi dengan-Nya melalui Al-Quran. Target tilawah harian pun menanjak dari yang sebelumnya. Saat itu hafalan saya masih beberapa surat saja di juz 30. Sebelumnya saya sudah paham bahwa seorang anak yang berhasil menjadi hafiz/hafizoh berhak memberikan mahkota kemuliaan pada kedua orangtuanya. Pikiran saya saat itu akhirnya tertuju untuk bagaimana membahagiakan kedua orangtua dengan modal menghafal Quran. 

Sebulan, dua bulan, saya lalui dengan terus berinteraksi dengan Qur’an. Saat itu saya masih tertatih untuk selalu konsisten menghafal di sela-sela perkuliahan. Hingga suatu waktu saya dipertemukan dengan seorang kakak penghafal Quran yang saat itu baru lulus dari UI. Pertemuan itu terjadi bukan secara tatap muka melainkan di grup whatsapp. Saya takjub bukan main menyadari beliau adalah seorang anak dari seorang Ibu yang memiliki 10 anak penghafal Quran. Rasa takjub yang tak berhenti ketika saya bisa berinteraksi dan berkonsultasi dengan kakak tersebut walau hanya melalui whatsapp. Berbicara dengannya memberikan energi tersendiri bagi saya untuk selalu berdekatan dengan Quran termasuk dalam menghafal. Walau saat itu saya sudah lumayan banyak bertanya tentang kiat menghafal Qur’an, namun hafalan saya masih terpaku pada beberapa surat terakhir di juz 30, masih mandek. Rasanya saat itu sulit sekali mengahafalkan baris demi baris ayat dalam AlQuran. Walau begitu saya masih mencoba untuk terus melanjutkan hafalan meski tertatih karena alasan kesibukan.

 

Hari-hari berlalu hingga kira-kira H-1 bulan Ramadhan datang, seorang sahabat bercerita tentang kegelisahannya. Ia bingung soal tawaran ayahnya yang meminta ia untuk menghafal Quran di sebuah pondok selama dua bulan penuh pada pekan liburan. Saat itu saya menjawab bahwa tawaran menghafal Quran adalah tawaran yang sangat keren! Namun ternyata sahabat saya masih ragu walau sudah saya coba yakinkan.

Liburan datang, sebuah sms masuk dari sahabat saya yang tempo lalu gelisah perihal mengahafal Quran saat liburan. SMS beliau masih berkutat soal kegelisahannya dengan tawaran Ayahandanya. Saya sempatkan membalas pesan singkat itu berapa kali hingga keluar kesepakatan dalam diri ini untuk ikut serta menghafal bersama sahabat saya selama ramadhan penuh.

Singkat cerita, ramadhan itulah yang menghantarkan saya pada sebuah mimpi yang saya goreskan di buku catatan harian, mimpi menjadi seorang penjaga, pengahafal Quran. Ramadhan tahun lalu membuka dan menyingkap bagaimana saya, sebagai seorang muslim, harus memperlakukan Al-Quran. Saya belajar banyak hal. Membaca, Menghafal dengan metode yang mudah dan cepat. Saya pun jadi tau bahwa kekuatan menghafal juga bersumber dari doa, bukan sekadar bakat atau kemampuan yang datang dari diri sendiri. Kemauan yang kuat juga menjadi salah satu faktor cepat atau tidaknya seseorang menghafal. Saya belajar banyak mengenai adab-adab dengan Quran pula disana.

 

Ramadhan usai, akhirnya saya harus berhenti mengikuti program menghafal tersebut. Saya pikir akan mudah menjalani hari-hari setelah ramadhan dengan menghafal Qur’an pasca Ramadhan kali ini. Perbuatan kadang sulit sejalan dengan perkataan dan pemikiran. Lagi-lagi saya mulai kehilangan konsistensi. Fyuh, berat rasanya menjalani hari tanpa kembali memurajaah. Rasanya saya sudah melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup saya. Saat itu saya seringkali bergumam dalam hati, “Mau dikemanakan mimpi kamu untuk menjadi seorang hafizah?”

 

Ternyata Allah berkehendak lagi. Siang hari saat sedang beristirahat di sebuah kamar hotel dengan seorang sahabat tercinta, (saat itu kami sedang pergi ke Lombok untuk kepentingan lomba) saya menerima sebuah jarkoman singkat mengenai program hafalan Quran harian di daerah Depok. Saya sangat tertarik saat itu namun melihat kondisi daerah yang cukup jauh dengan fakultas karena program tersebut mengharuskan saya bertinggal di sebuah asrama. Karena itu awalanya saya malah mengurungkan niat untuk mendaftar hingga sahabat saya membujuk saya untuk segera mendaftar. Dengan niat yang belum sepenuh hati, akhirnya saya coba-coba untuk mendaftar.

 

Ternyata beberapa hari kemudian setelah menginjakkan Pulau Jawa, saya diundang oleh pihak lembaga tahfidz tersebut untuk tahap seleksi santri. Awalnya saya kaget karena timingnya begitu cepat.

Alhamdulillah, akhirnya saya coba datang ke tempat tersebut. Awalnya saya pikir tempatnya cukup strategis dan dekat dengan kampus, namun ternyata jauh sekali. saya hampir menghabiskan waktu 30 menit berjalan kaki dari jalan raya hingga tempat tersebut ditambah saya selalu bertanya arah kepada warga sekitar di sepanjang perjalanan.  

Tes pun berhasil dilaksanakan, beberapa kakak-kakak senior akhwat memberi wejangan usai tes,

“Perjalanan jauh kamu kesini jangan dihitung sebagai lelah, hitung saja ini sebagai jihad kamu”, satu nasihat yang selalu terngiang hingga detik ini.

 

Saya tak manyangka kini Allah terus pertemukan dengan Al-Quran, Allah kirimkan orang-orang yang selalu bersemangat dan dekat dengan Qur’an. Teman sekamar saya di asrama pun adalah salah satu santri yang paling bersemangat dalam menghafal. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari beliau yang sangat ‘alim dan semangat. Saya juga ditawari teman untuk bergabung dalam grup whatsapp untuk menghafal satu ayat setiap harinya, alhamdulillah walau kadang masih tertatih, namun setidaknya saya masih diberikan kesadaran oleh Allah untuk selalu kembali pada kalam-Nya.

 

Malam ini, dengan memoar yang kutulis ini, saya berharap selama darah di dalam tubuh saya mengalir, selama jantung saya masih berdetak, selama nafas ini masih berembus, selama kesadaran saya masih penuh, agar Allah selalu perkenankan diri ini, diri yang masih tertatih ini menjajaki dunia, untuk selalu dekat dengan kalam-Nya

we are what we..

 

aristotle-success-large

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. — Aristotle

 

Jika kita perhatikan dengan baik-baik apa yang dikatakan Aristotle, kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa apa yang menjadi keseharian kita adalah buah dari kegiatan-kegiatan yang secara berulang-ulang kita lakukan.

Dari kalimat yang ia nyatakan pada “we are what we repeteadly do“, saya memecah menjadi beberapa kegiatan yang biasa kita lakukan bersama anggota tubuh yang kita gunakan. Kegiatan tersebut bisa berupa: melihat (membaca, menonton), mendengar (menyimak), berpikir (memahami), merasakan (memegang, menggenggam, berjalan), berbicara (berdiskusi) dan masih banyak lagi kegiatan yang dapat kita lakukan setiap harinya.

Dari kegiatan-kegiatan di atas, kita dapat mengetahui bahwa kita adalah kegiatan yang kita lakukan secara berulang-ulang. Yap, ternyata begitu banyak kegiatan yang mampu mengubah karakter kita, sifat kita, dan mungkin bahkan apa yang orang lain interpretasikan terhadap kita.

Dengan begitu, saya jadi memahami jika kita hari ini belum mampu membentuk diri kita menjadi yang terbaik, maka itu adalah kesalahan kita sendiri, kesalahan yang kita lakukan secara berulang-ulang. Hmm, betapa banyak sekali perbuatan yang mesti kita perbaiki ya, apalagi hidup ini hanya sebentar saja. Jika kegiatan yang kita lakukan sehari-harinya belum maksimal, terlebih sebagai worshipper dan slave of Allah, maka mau jadi apa kita nanti di hadapan Allah? Astagfirullah…

 

Jika dalam seminggu saja kita :

 

Banyak MENDENGAR kata-kata buruk,

Banyak MENDERNGAR musik-musik yang melalaikan kita untuk mengingat Allah,

Banyak MENDENGAR ghibah,

WE ARE WHAT WE LISTEN,

THAT’S WHO WE ARE.

 

Banyak MELIHAT pemandangan keji,

Banyak MENONTON yang tidak bermanfaat (hiburan saja) apalagi yang maksiat,

WE ARE WHAT WE SEE,

THAT’S WHO WE ARE.

 

Banyak BERBICARA kotor,

Banyak BERBICARA mengenai aib orang lain,

Banyak BERBICARA yang tidak ada dampak positifnya sama sekali,

WE ARE WHAT WE SPEAK,

THAT’S WHO WE ARE

 

Banyak BERPIKIR kotor,

Banyak BERPIKIR duniawi, harta, kecintaan pada dunia,

Banyak BERPIKIR kikir, takut mati,

Banyak BERPIKIR agar ‘ingin dilihat’

WE ARE WHAT WE THINK,

THAT’S WHO WE ARE

 

Banyak MENGGENGGAM yang bukan hak,

Banyak MENGGENGGAM apa yang seharusnya diberi,

Banyak MENGGENGGAM yang haram,

WE ARE WHAT WE HOLD,

THAT’S WHO WE ARE

 

Banyak BERJALAN menuju tempat-tempat yang melalaikan dalam mengingat Allah

Banyak BERJALAN pada tempat-tempat ‘hiburan’

Banyak BERJALAN untuk menghamburkan uang bukan untuk Allah

WE ARE WHAT WE DO (Going to some places)

THAT’S WHO WE ARE

 

Dear brothers and sisters, We are what we do..

Truly, it’s a powerful reminder to me..

 

Semoga tulisan ini juga dapat menjadi reminder kepada teman-teman pembaca sekalian.

Allahua’lam

I Need A Reminder!

Sungguh kita, sebagai manusia, memerlukan reminder setiap hari, bahkan setiap waktu karena sejatinya manusia itu pelupa.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk selalu mendapat reminders tersebut. Salah satu reminder tools yang sangat bermanfaat menurut saya adalah surfing dan tonton video-video di youtube seperti yang terdapat pada akun-akun berikut, :

http://www.youtube.com/user/TheDailyReminder
http://www.youtube.com/user/TheMercifulServant
http://www.youtube.com/user/TheProphetsPath
http://www.youtube.com/user/NAKcollection
http://www.youtube.com/user/QuranWeekly
http://www.youtube.com/user/LoveAllah328
http://www.youtube.com/user/SoldierOfAllah2

Semoga bermanfaat :)