Bersabar dan Hadapilah!

Terkadang Allah membuat waktu kita menjadi terasa sempit sekali agar kita tahu nikmatnya detik-detik bersama Quran..

Bersabarlah..

Faidza ‘azamta, fatawakkal ‘Alallah.. (Q.S 3:159)

Selama kita berusaha, membulatkan tekad juga bertawakkal, Allah akan meringankan beban hati kita…in syaa Allah…

Lembaran Para Penjaga

Aku melongok ke bawah balkon, melihat sebuah mobil taksi terparkir lengkap dengan pak supirnya yang kelihatannya sedang mengangkut tas-tas dengan muatan yang penuh sesak di dalamnya. Sesaat sebelum aku masuk ke dalam, sebuah suara hangat menyapa,

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumsalam.. wahh.. namanya siapa?” Tanyaku penasaran

“Maya, mbak. Sumayyah” logat Jawa Tengahnya begitu kental teriring dalam ucapnya.

“Oh iya, salam kenal, Maya, aku Rani, masih ada barang di bawah May?” jawabku tersenyum, membalas senyumnya.

“Ada, mbak. Bentar ya kuambil dulu”, ia pergi meninggalkan ruangan asramaku yang masih sunyi, hanya aku seorang di dalam.

Aku tercenung sesaat ketika melihat supir taksi di bawah sedang berusaha mengeluarkan barang-barang milik Maya. Tiba-tiba saja sebuah rekaman film terputar di dalam otakku. Film yang masih sangat jelas dalam ingatanku, Aku tak bisa menghentikan buliran air mata ketika mencoba kembali ‘menonton’nya, lidahku tercekat, menonton film yang direkam sekitar setahun silam..

Bajuku mulai basah terkena air hujan sore itu. Aku mulai panik karena tak kunjung menemukan kontrakan pak Haji Majun sementara sang awan terus menerus menjatuhkan muatannya dengan deras. Untunglah ponselku berdering, rupanya panggilan masuk dari kontak yang bertuliskan ‘Lingling IQF’.

“Kamu maju terus sampe ketemu gang x, aku disini ya di atas asrama”, kata suara di seberang sana.

“Ya kak, aku kesana bentar bentar ya, kayaknya aku nyasar nih” jawabku

Tak lama setelah itu, aku berjalan dan akhirnya melihat seorang perempuan melambaikan tangan padaku.

“Ah, kak Lingling!”, gumamku.

Hujan sore itu berhasil membuat kami berdua kelaparan hingga akhirnya…

“Ran, ada bakso disitu. Mau beli, nggak?”
“Mau, mau kaaak..” balasku semangat.
Kakak itu melenggang dengan cepat dengan payung di tangannya. Lima menit kemudian, bakso datang.

Alhamdulillah, baiknya kakak ini.. Kataku dalam hati.
Kakak ini, akhirnya aku mengenal sosoknya. Sosok berani dan tegas. Kuambil pelajaran darinya bagaimana cara mengingatkan orang lain, membuat sebuah peraturan kebersihan hingga belajar mengenai sebuah hal yang bernama kesetiaan. Tiga tahun ia luangkan waktu untuk mengurusi mungkin puluhan santri agar dapat optimal dalam proses menghafal. Kakak ini juga, yang ketika waktunya sempit, pulang kantor jam 11 malam dengan waktu tempuh berjam-jam, masih menyempatkan diri untuk pulang ke asrama dan kembali menyetorkan hafalannya, masya Allah.. Istilah gaulnya kalo buat aku, “da aku mah apa atuh, kuliah di teknik doang yang nggak jauh jauh amat, masih tergoda dengan alasan ‘capek’ “

———————–

Sebuah sapa hangat malam itu meluncur dari mulut saudariku, Sarah Karimah.. aku memang tak ingat persisnya seperti apa ucapan yang ia sampaikan, namun aku ingat ketika kakak itu mengenalkan diri dengan senyuman penuh keceriaan ditambah sedikit guyon yang mewarnai malam pertamaku saat mendarat di asrama putri IQF. Kakak itu menunjukkan kamar dimana aku tinggal. Aku segera memberikan ucapan terimakasih-ku yang pertama untuknya. Aku tidak menyangka malam itu adalah awal perjalanan aku dan kak Sarah berjuang melalui hari-hari membersamai Quran dengan penuh keceriaan dan tawa. I love her so much.. Kakak benar-benar mewarnai asramaku dengan tawa dan keceriaan serta menunjukkanku semangat menghafal Quran meski dalam keterbatasan waktu…meski malam sudah larut, kau masih saja sibuk membaca dan menghafalkan.. :”) You are so caring and kind.. Uhibbuki Fillah, kakak..

Sesaat sebelum meninggalkan asrama, sebuah sapa kembali menyapa.
Aku tak ingat betul persisnya seperti apa, tapi aku segera mengenali kakak itu karena rumahnya masih satu kota denganku, Dini Rahmawati. Kakak yang kukenal dengan sifat cool ala akhwat tangguh membuatku belajar bahwa ada kalanya kita mesti diam dan menjadi ‘cool’. Kakak juga yang menginspirasi gerak dakwah kampus. Selalu memperjuangkan amanah, tak segan membantu ketika aku sedang membutuhkan bantuan. . Proud of you kakak, :”)

————-

Aku memang tak melihat sosoknya pada malam-malam awal. Mungkin aku yang kurang perhatian. Kakak ini kutemui pertama kali saat sedang perkenalan di awal sebelum berjalannya program. Aku baru sadar, ialah kakak yang beberapa bulan lalu tersebar namanya melalui jarkom jarkom whatsapp.. Melly… Dewi Ratna Diana Amelia. Seorang kakak tangguh dari tanah Madura. Kakak yang begitu menginspirasi. Dalam diam, aku mengagumi sosoknya yang ceria, aktif, dan cerdas. Aku memang bukan seorang yang mahir merangkai kata indah langsung di depan mata, tapi perlu kakak ketahui bahwa aku sangat mengagumi kecerdasan dan prestasimu yang begitu gemilang. Dalam kesibukan dan tuntutan lain, kakak masih saja berusaha dekat dan menghafal kalam-Nya. Semoga kakak selalu dalam keberkahan dalam meraih presati akademik dan qur’ani..

————-

Yang terakhir pada potongan film ini adalah seorang kakak yang hampir setiap aktivitasnya begitu menginspirasi atau bahkan memengaruhi sebagian caraku beraktivitas dan menghafal.

Tak ingat persisnya seperti apa percakapan pertamaku dengannya. Yang aku ingat, aku mengenal sosok kakak yang awalnya sangat terlihat anggun dan cool. Tapi kemudian, kakak ini seru banget untuk diajak berdiskusi seputar keislaman dan ilmu-ilmu lainnya, we used to talk about politic to marriage issue *bocor banget*. Ialah yang paling banyak memberikan ilmu padaku, menawariku belajar bahasa arab hingga i’tikaf bersama. Kakaaak love youuu :”

Kak Rahma Suci Sentia, perempuan berdarah minang, yang selalu bangun pada awal waktu. Menggedor-gedor pintu saudari lain yang masih terlelap dalam tidurnya. Tak lelahnya ia mengingatkan setiap pagi.
Ingatan tentang kakak lagi, selalu, sebelum tidur. Murottal adalah hal wajib untuk diputar pada playlist ponselnya sampai ia tertidur lelap dan bangun di pagi hari.

Menghafal dan Quran adalah darahnya. Ia yang begitu membara dalam proses ini. Aku begitu terpukau, sumber energi macam apa yang membuatnya begitu gigih dan konsisten dalam menghafal. Sungguh diri ini seringkali malu dengan apa yang telah kakak perbuat..

Barakallahfikum kakakku, teman sekamar selama kurang lebih satu tahun lamanya. Aku begitu merindukan gedoran pintu penuh semangat di waktu shubuh.. :”)

————
Inilah film bagian pertama. Film yang kembali kuputar malam ini. Merekalah saudariku yang tangguh dan gigih yang pernah kukenal dimulai dari aku menginjakkan kaki di asrama tercinta.

Sekuel filmnya in sya Allah keluar besok yah.

Let’s continue to the 2nd part, :)

After Fajr

Everytime you wanna go back to sleep after fajr prayer, remember..
You will be a mother of ur kids who has to prepare their breakfasts, clean the house, washes all dishes and clothes, kiss them or bring them to school, and manyyyy mooorree jobs that u will do.

You can never be the best for them if you never prepare for it :”)

Guided by Quran

Ini bukan kali pertamanya saya menggerakkan jemari untuk menulis serangkaian paragraf mengenai Al-Qur’an. Sungguh tiap kali berniat untuk menulis bertemakan Qur’an yang terbersit dalam pikiran saya hanyalah untuk memotivasi diri saya sendiri. Saya juga tidak mengatakan tidak ingin memotivasi teman-teman pembaca, alhamdulillah saya coba niatkan juga untuk membuat tulisan yang dapat memberi semangat untuk selalu berdekatan dengan Kalamullah kepada diri sendiri maupun pembaca.

 

Pada tulisan kali ini, saya mencoba untuk flashback pengalaman saya dengan Al-Qur’an utamanya dengan pengalaman pribadi mengapa tumbuh cita untuk menjadi penjaga qur’an.

 

Pertama kali menyadari pentingnya Al-Qur’an untuk selalu hadir dalam lembar-lembar kehidupan adalah ketika saya memasuki semester ketiga. Saat itu saya sudah berlabel ADK atau aktivis dakwah kampus walaupun ilmu yang saya miliki masih minim sekali, benar-benar minim. Literally. *sekarang pun masih minim :”)* 

Berlabelkan ADK mengharuskan saya mengerjakan amanah-amanah organisasi hingga suatu hari saya ditugaskan untuk mewawancarai tiga tokoh organisatoris di fakultas saya yang berlabel ADK juga dan kuat sekali interaksinya dengan Al-Qur’an. 

Datanglah hari dimana saya bertemu dengan seorang senior, kakak X, yang terkenal selalu menjaga tilawahnya setiap hari, banyak hafalannya, dll. Ketika saya melontarkan pertanyaan pada beliau saya sadar selama ini masih sangat jauh dengan Al-Quran. Padahal Al-Quran sangat erat kaitannya dengan kehidupan seorang muslim. Mendengar penjelasan, saya sadar bahwa AlQuran dengan seorang muslim itu bak air dalam kehidupan kita sebagai manusia. Manusia tanpa air bisa kekeringan bahkan meninggal. 

Semenjak hari wawancara itu, saya tahu bahwa Allah mulai membuka hati ini untuk selalu berinteraksi dengan-Nya melalui Al-Quran. Target tilawah harian pun menanjak dari yang sebelumnya. Saat itu hafalan saya masih beberapa surat saja di juz 30. Sebelumnya saya sudah paham bahwa seorang anak yang berhasil menjadi hafiz/hafizoh berhak memberikan mahkota kemuliaan pada kedua orangtuanya. Pikiran saya saat itu akhirnya tertuju untuk bagaimana membahagiakan kedua orangtua dengan modal menghafal Quran. 

Sebulan, dua bulan, saya lalui dengan terus berinteraksi dengan Qur’an. Saat itu saya masih tertatih untuk selalu konsisten menghafal di sela-sela perkuliahan. Hingga suatu waktu saya dipertemukan dengan seorang kakak penghafal Quran yang saat itu baru lulus dari UI. Pertemuan itu terjadi bukan secara tatap muka melainkan di grup whatsapp. Saya takjub bukan main menyadari beliau adalah seorang anak dari seorang Ibu yang memiliki 10 anak penghafal Quran. Rasa takjub yang tak berhenti ketika saya bisa berinteraksi dan berkonsultasi dengan kakak tersebut walau hanya melalui whatsapp. Berbicara dengannya memberikan energi tersendiri bagi saya untuk selalu berdekatan dengan Quran termasuk dalam menghafal. Walau saat itu saya sudah lumayan banyak bertanya tentang kiat menghafal Qur’an, namun hafalan saya masih terpaku pada beberapa surat terakhir di juz 30, masih mandek. Rasanya saat itu sulit sekali mengahafalkan baris demi baris ayat dalam AlQuran. Walau begitu saya masih mencoba untuk terus melanjutkan hafalan meski tertatih karena alasan kesibukan.

 

Hari-hari berlalu hingga kira-kira H-1 bulan Ramadhan datang, seorang sahabat bercerita tentang kegelisahannya. Ia bingung soal tawaran ayahnya yang meminta ia untuk menghafal Quran di sebuah pondok selama dua bulan penuh pada pekan liburan. Saat itu saya menjawab bahwa tawaran menghafal Quran adalah tawaran yang sangat keren! Namun ternyata sahabat saya masih ragu walau sudah saya coba yakinkan.

Liburan datang, sebuah sms masuk dari sahabat saya yang tempo lalu gelisah perihal mengahafal Quran saat liburan. SMS beliau masih berkutat soal kegelisahannya dengan tawaran Ayahandanya. Saya sempatkan membalas pesan singkat itu berapa kali hingga keluar kesepakatan dalam diri ini untuk ikut serta menghafal bersama sahabat saya selama ramadhan penuh.

Singkat cerita, ramadhan itulah yang menghantarkan saya pada sebuah mimpi yang saya goreskan di buku catatan harian, mimpi menjadi seorang penjaga, pengahafal Quran. Ramadhan tahun lalu membuka dan menyingkap bagaimana saya, sebagai seorang muslim, harus memperlakukan Al-Quran. Saya belajar banyak hal. Membaca, Menghafal dengan metode yang mudah dan cepat. Saya pun jadi tau bahwa kekuatan menghafal juga bersumber dari doa, bukan sekadar bakat atau kemampuan yang datang dari diri sendiri. Kemauan yang kuat juga menjadi salah satu faktor cepat atau tidaknya seseorang menghafal. Saya belajar banyak mengenai adab-adab dengan Quran pula disana.

 

Ramadhan usai, akhirnya saya harus berhenti mengikuti program menghafal tersebut. Saya pikir akan mudah menjalani hari-hari setelah ramadhan dengan menghafal Qur’an pasca Ramadhan kali ini. Perbuatan kadang sulit sejalan dengan perkataan dan pemikiran. Lagi-lagi saya mulai kehilangan konsistensi. Fyuh, berat rasanya menjalani hari tanpa kembali memurajaah. Rasanya saya sudah melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup saya. Saat itu saya seringkali bergumam dalam hati, “Mau dikemanakan mimpi kamu untuk menjadi seorang hafizah?”

 

Ternyata Allah berkehendak lagi. Siang hari saat sedang beristirahat di sebuah kamar hotel dengan seorang sahabat tercinta, (saat itu kami sedang pergi ke Lombok untuk kepentingan lomba) saya menerima sebuah jarkoman singkat mengenai program hafalan Quran harian di daerah Depok. Saya sangat tertarik saat itu namun melihat kondisi daerah yang cukup jauh dengan fakultas karena program tersebut mengharuskan saya bertinggal di sebuah asrama. Karena itu awalanya saya malah mengurungkan niat untuk mendaftar hingga sahabat saya membujuk saya untuk segera mendaftar. Dengan niat yang belum sepenuh hati, akhirnya saya coba-coba untuk mendaftar.

 

Ternyata beberapa hari kemudian setelah menginjakkan Pulau Jawa, saya diundang oleh pihak lembaga tahfidz tersebut untuk tahap seleksi santri. Awalnya saya kaget karena timingnya begitu cepat.

Alhamdulillah, akhirnya saya coba datang ke tempat tersebut. Awalnya saya pikir tempatnya cukup strategis dan dekat dengan kampus, namun ternyata jauh sekali. saya hampir menghabiskan waktu 30 menit berjalan kaki dari jalan raya hingga tempat tersebut ditambah saya selalu bertanya arah kepada warga sekitar di sepanjang perjalanan.  

Tes pun berhasil dilaksanakan, beberapa kakak-kakak senior akhwat memberi wejangan usai tes,

“Perjalanan jauh kamu kesini jangan dihitung sebagai lelah, hitung saja ini sebagai jihad kamu”, satu nasihat yang selalu terngiang hingga detik ini.

 

Saya tak manyangka kini Allah terus pertemukan dengan Al-Quran, Allah kirimkan orang-orang yang selalu bersemangat dan dekat dengan Qur’an. Teman sekamar saya di asrama pun adalah salah satu santri yang paling bersemangat dalam menghafal. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari beliau yang sangat ‘alim dan semangat. Saya juga ditawari teman untuk bergabung dalam grup whatsapp untuk menghafal satu ayat setiap harinya, alhamdulillah walau kadang masih tertatih, namun setidaknya saya masih diberikan kesadaran oleh Allah untuk selalu kembali pada kalam-Nya.

 

Malam ini, dengan memoar yang kutulis ini, saya berharap selama darah di dalam tubuh saya mengalir, selama jantung saya masih berdetak, selama nafas ini masih berembus, selama kesadaran saya masih penuh, agar Allah selalu perkenankan diri ini, diri yang masih tertatih ini menjajaki dunia, untuk selalu dekat dengan kalam-Nya

we are what we..

 

aristotle-success-large

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. — Aristotle

 

Jika kita perhatikan dengan baik-baik apa yang dikatakan Aristotle, kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa apa yang menjadi keseharian kita adalah buah dari kegiatan-kegiatan yang secara berulang-ulang kita lakukan.

Dari kalimat yang ia nyatakan pada “we are what we repeteadly do“, saya memecah menjadi beberapa kegiatan yang biasa kita lakukan bersama anggota tubuh yang kita gunakan. Kegiatan tersebut bisa berupa: melihat (membaca, menonton), mendengar (menyimak), berpikir (memahami), merasakan (memegang, menggenggam, berjalan), berbicara (berdiskusi) dan masih banyak lagi kegiatan yang dapat kita lakukan setiap harinya.

Dari kegiatan-kegiatan di atas, kita dapat mengetahui bahwa kita adalah kegiatan yang kita lakukan secara berulang-ulang. Yap, ternyata begitu banyak kegiatan yang mampu mengubah karakter kita, sifat kita, dan mungkin bahkan apa yang orang lain interpretasikan terhadap kita.

Dengan begitu, saya jadi memahami jika kita hari ini belum mampu membentuk diri kita menjadi yang terbaik, maka itu adalah kesalahan kita sendiri, kesalahan yang kita lakukan secara berulang-ulang. Hmm, betapa banyak sekali perbuatan yang mesti kita perbaiki ya, apalagi hidup ini hanya sebentar saja. Jika kegiatan yang kita lakukan sehari-harinya belum maksimal, terlebih sebagai worshipper dan slave of Allah, maka mau jadi apa kita nanti di hadapan Allah? Astagfirullah…

 

Jika dalam seminggu saja kita :

 

Banyak MENDENGAR kata-kata buruk,

Banyak MENDERNGAR musik-musik yang melalaikan kita untuk mengingat Allah,

Banyak MENDENGAR ghibah,

WE ARE WHAT WE LISTEN,

THAT’S WHO WE ARE.

 

Banyak MELIHAT pemandangan keji,

Banyak MENONTON yang tidak bermanfaat (hiburan saja) apalagi yang maksiat,

WE ARE WHAT WE SEE,

THAT’S WHO WE ARE.

 

Banyak BERBICARA kotor,

Banyak BERBICARA mengenai aib orang lain,

Banyak BERBICARA yang tidak ada dampak positifnya sama sekali,

WE ARE WHAT WE SPEAK,

THAT’S WHO WE ARE

 

Banyak BERPIKIR kotor,

Banyak BERPIKIR duniawi, harta, kecintaan pada dunia,

Banyak BERPIKIR kikir, takut mati,

Banyak BERPIKIR agar ‘ingin dilihat’

WE ARE WHAT WE THINK,

THAT’S WHO WE ARE

 

Banyak MENGGENGGAM yang bukan hak,

Banyak MENGGENGGAM apa yang seharusnya diberi,

Banyak MENGGENGGAM yang haram,

WE ARE WHAT WE HOLD,

THAT’S WHO WE ARE

 

Banyak BERJALAN menuju tempat-tempat yang melalaikan dalam mengingat Allah

Banyak BERJALAN pada tempat-tempat ‘hiburan’

Banyak BERJALAN untuk menghamburkan uang bukan untuk Allah

WE ARE WHAT WE DO (Going to some places)

THAT’S WHO WE ARE

 

Dear brothers and sisters, We are what we do..

Truly, it’s a powerful reminder to me..

 

Semoga tulisan ini juga dapat menjadi reminder kepada teman-teman pembaca sekalian.

Allahua’lam

I Need A Reminder!

Sungguh kita, sebagai manusia, memerlukan reminder setiap hari, bahkan setiap waktu karena sejatinya manusia itu pelupa.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk selalu mendapat reminders tersebut. Salah satu reminder tools yang sangat bermanfaat menurut saya adalah surfing dan tonton video-video di youtube seperti yang terdapat pada akun-akun berikut, :

http://www.youtube.com/user/TheDailyReminder
http://www.youtube.com/user/TheMercifulServant
http://www.youtube.com/user/TheProphetsPath
http://www.youtube.com/user/NAKcollection
http://www.youtube.com/user/QuranWeekly
http://www.youtube.com/user/LoveAllah328
http://www.youtube.com/user/SoldierOfAllah2

Semoga bermanfaat :)

Inspirasi Darah, Luka, dan Perih

Malam ini saya ingin berbagi sedikit hikmah yang baru saja saya alami malam ini. Semoga jari ini tak tergesa-gesa mengingat masih banyak deadline lain yang harus dikerjakan untuk esok hari hehe (ceritanya curhat)

Tulisan ini saya persembahkan untuk ikhwahfillah yang sama-sama mempunyai misi untuk selalu mengingatkan di jalan kebenaran, jalan cahaya. Tulisan ini juga saya buat untuk ikhwahfillah yang mungkin sudah hampir muak atau lelah dengan jalan ini, jalan untuk selalu mengingatkan dan menyeru kepada Allah.

***

Darah, perih, luka. Hal itulah yang mengingatkan saya pada kondisi saya malam ini, kondisi dimana saya hampir berputus asa dan mengeluhkan keadaan akan kebathilan, mengeluhkan keadaan mengapa berdakwah atau sekedar mengingatkan itu sulit.

Darah, beberapa waktu ini sudah dua kali jari-jari saya terkena sayatan mata pisau dan cutter, maklum, anak arsitektur suka berurusan dengan barang-barang tajam. Perih yang saya rasakan karena luka sudah cukup membuat diri ini mengerutkan dahi. Disini bukan poin darah atau luka ataupun perih yang saya ambil sebagai fokus pembicaraan namun dari ketiga hal tersebut, saya mendapat hikmah dan jawaban luar biasa atas keputusasaan dan keluhan akan keadaan di luar sana.

Ya, kunci jawabannya adalah pengorbanan.

Sesaat setelah darah mengucur dari jari, saya hanya bergumam dan sedikit mengeluhkan sakit sebelum saya sempat berpikir, “baru begini aja udah kesakitan, gimana kalau badan yang disayat atau dipotong?”.

Saya kembali bergumam,

“apa rasanya kalo jadi pejuang di medan perang, syahid syahidah?”

“apa rasanya ketika menjadi sahabat yang rela ditusuk banyak anak panah demi melindungi Rasul (SAW)”

“apa rasanya menjadi Rasulullah yang setiap harinya mendapat ancaman, ditimpuki batu hingga tanggal giginya, dilempari kotoran, bersimbah darah karena berjihad?”

“tak usah jauh-jauh lah melihat ke belakang, liat aja saudara-saudara kita di Palestin yang masih berusaha menjaga Masjidil Aqsa. Bagaimana rasanya?”

Ya, pengorbanan. Satu kata yang menjadi tujuan, Allah…Allah…Allah…

“Qul Inna sholaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi robbil ‘alamiin”

Say, “Indeed, my prayer, my rites of sacrifice, my living and my dying are for Allah , Lord of the worlds.

Al-An’am 162

 

Rasanya seperti ditampar-tampar, seketika langsung bercermin melihat diri ini yang belum ada apa-apanya. Dalam berkorban, beribadah, berkehidupan, bergaul, bekerja, dll.

“Apakah saya siap menerima ujian seperti teman-teman di Palestin?

Apakah saya siap menerima ujian seperti saudara-saudara di Mesir?

Apakah saya siap menerima ujian seperti teman-teman di Afrika?”

Allah, betapa pengorbanan ini belumlah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan umat Muhammad SAW yang selalu ada di garda terdepan dalam membela dan menyeru nama-Mu. Bahkan rasanya belum ada perih yang benar-benar terasa dalam membela syariat-Mu, dalam memperjuangkan agama-Mu ini, Allah..

Semoga Engkau kuatkan hati ini pada jamaah yang selalu menyeru pada jalan-Mu. Semoga Engkau kuatkan hati ini yang sering menyerah karena lelah semu. Semoga Engkau kuatkan hati ini dalam mengingatkan dengan Quran-Mu dan sunnah Rasulullah SAW.

 

Sedikit syair dari Izzatul Islam, semoga selalu bangkitkan semangat tuk senantiasa menyeru di jalan-Nya..

 

Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi

Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu

Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu

Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani..

“Akulah Madrasah Anak-anakku”

Kajian Parenting

“Akulah Madrasah Anak-anakku”

Oleh Ustadzah Nunung Bintari

 Gambar

“Saya dilamar semester 5 ya”. Maka persiapan lebih dini itu jauh lebih baik. Karena ilmu itu memang harus lebih dini. Banyak anak perempuan usia 10-11 tahun sudah haid, bayangkan kalo ibu tidak membekali anaknya dengan ilmu haid. Bagaimana anak umur 10 tahun sudah harus menutup aurat, biasanya ibu2 bilang “masih kecil kok” padahal ini bahaya.

Ya memang kalo jadi ibu tuh harus belajar banyak banget ya, ilmu diniyahnya harus luar biasa. Kalo ilmu2 yang lain bisa belajar kita ya insya Allah ya. Tapi kalo ilmu agama ni, banyak sekali orang tua yang tidak bisa malah memasukkan ke madrasah2 sehingga yang namanya madrasah itu laris manis ya. Ini berangkat dari orang tua merasa tidak mampu, tapi mereka juga lupa anak2 mereka dilepas di sekolah, ga di follow up di rumah, sehingga anak2 hanya dibekali ilmu jasadi n aqli, tidak dibekali ilmu ruhani.

Kalo kalian kenal dengan hadits “al ummu madrosatun” yah? tapi ini tidak populer di kalangan ibu-ibu, sehingga banyak ibu-ibu jadi nggak perhatian tentang pendidikan agama anak.

Islam jauh lebih memuliakan kita sebagai seorang ibu tanpa harus teriak2 soal feminisme. Allah sudah jauh memuliakan kita lebih dulu.

Nah gaya seorang ibu mendidik ini sudah dipaketkan oleh Allah. Sehingga muncullah kalian dengan karakter beda-beda. Gaya anak seperti preman juga ada, bahkan anak kecil sudah dipasangkan tato ya walau tidak permanen, ada juga anak di cat rambutnya padahal baru 4 tahun. Beginilah, kalo setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya lah yang mengacaukan, yang membuat tulisan-tulisan itu adalah ortunya.

Nah kalo ortu yang dikangeni pertama siapa? Bunda. Makna cerewetnya bunda memang memberikan pelajaran luar biasa. Makanya nanti kalo jadi ibu cerewet aja biar diingat anaknya.

“Ibu itu bagaikan sekolah, jika engkau mempersiapkannya, berarti engkau telah mempersiapkan rakyat  yang baik akhlaknya.

Ilmu itu bagaikan kebun, jika engkau rawat sifat malu, dengan selalu disirami maka akan menumbuhkan daun segar tak layu

Ibu sangat mulia, bagaikan gurunya para guru. Pengaruhnya menembus segala penjuru”

 

Ada sebuah kisah, da’i da’i cilik yg ada di TV, saya kagum sekali sudah bisa tampil depan publik. Ada anak namanya ahmad, ketika ditanya “kenapa kamu ikut kompetisi ini?” yang lain blg “disuruh abi. Umi,” rata rata jawabnya disuruh nah Ahmad ini beda, ia menjawab, “ Al Ajr Indallah, saya hanya mengharapkan balasan dari Allah”, satu2nya peserta dai cilik yg jawab gt. Ini satu anak 12 tahun, kita belum liat lagi anak2 di Palestin ya. Usia 10 thn berani melawan tentara Israel seakan2 ia pejuang usia 20 tahun. Ia tidak takut dengan mereka, ia hanya takut dengan Allah. Bagaimana tidak? Ibunya membekali dengan Quran. Bahkan ibunya membekalinya dengan batu untuk menghadap tentara Israel.

Ketika ustz yoyoh yusroh ke Palestina dan ditanya punya anak brp? “13”. Kata mereka “subhanallah”. “sdh brp yg hafal quran?” sudah ada beberapa kalo tidak salah, namun memang belum banyak. “subhanallah banyakkan anakmu,” Klo di Palestin anaknya bisa kembar 4 karena memang banyak yang syahid dan banyak yg maju ke medan perang. Kalo 10 anak disini udh dianggap banyak sekali, padahal disana dikit, biasanya 15, 13 anak itu sudah biasa. Istri2 menteri disana pun pakaiannya sederhana sekali. Mereka itu memberikan contoh pada generasi di bawahnya.

Kalo disini sudah 2 anak mengeluh repot, ya jadi repot betul karena sudah bilang dari awal.

Apa yang diajarkan ibu saya? Banyak sekali

Ajaran ibu tuh terngiang waktu sudah punya anak. Ibu saya dulu ngingatkan klo cuci piring dahulukan gelas, padahal ga ada ya teorinya? Knp gelas dulu? Supaya tidak terkena amis. Habis itu baru sendok, dan sebelum cuci piring itu ditata dulu. Piring dengan piring, gelas dengan gelas, sendok dengan sendok baru boleh cuci, dan tidak boleh adu dan berbunyi. Cara jemur, masak, diajarin. Cara motong bayam, kacang panjang. Saya hanya tidak diajarkan cara memandikan bayi, memang perlu ada nih pelatihannya. Bagaimana cara untuk membalik bayi, itu ada tekniknya itu lho. Kalo salah itu bisa nyemplung lho itu bayi dan itu ada tekniknya, saya berlatih itu.

Kalo misalnya besok kalian dilamar dan menikah kemudian langsung punya anak, kalian siap ndak? InsyaAllah siap. Nah bagus itu jawabannya. Ketika kita menyiapkan lebih dini itu lebih baik.

Apa yang akan kita bekalkan? Yang pertama itu ilmu din (agama) karena kita akan mengajarkan banyak hal tentang kecintaan kita kepada Allah SWT. Saya juga akan mengisi kajian tentang bagaimana mengajarkan shahabiyah shahabah lewat buku kepada anak-anak.  Ini bagus sekali ya.

Ilmu din harus dibekali dari sekarang, terutama tentang Quran. Bisa lewat guru akan tetapi lebih afdhol dengan ibunya sendiri. Ada seorang anak umur 5 th sudah hafal quran beserta terjemahannya. Itu persiapannya luar biasa ya nggak main2. Karena bapaknya hafidz, ibunya hafidzoh, pokoknya sejak mereka mau menikah mereka sudah menginginkan anaknya hafal quran, begitupun suaminya sebelum nikah juga ingin punya istri hafidzoh makanya anak umur 5 tahun sudah hafal ya. Karena mereka tiap hari murajaah bergantian ya, setiap hari 30 juz.

Akhwatifillah, makanya kalian sudah harus menguasai tajwid ya agar bisa mengajarkan ke anaknya, dan anti harus sabar karena mengajarkan itu sulit. Ilmu alquran ini harus dikenalkan sejak dini. Kalo ustz yoyoh yusroh kasih hadiah ke anak2nya satu anak satu alquran, sehingga mereka punya alquran favoritnya satu2. Dan subhanallah ketika saya hadiahkan alquran pada anak2 mereka bangga ya seperti sudah besar karena sudah dikasih quran sama ummi. Kalo memang kita tidak bisa memenuhi untuk ngajar sebaiknya kita panggil guru. Bukan hanya pintar tapi kita harus pandai mentransfer ilmu karena anak2 berbeda. Dan anak saya sudah diajarkan hafal al-baqoroh karena memang al-baqoroh adalah kunci menghafal surat2 lainnya agar lebih mudah. Kalo bentak2 dan tidak sabar dalam ngajarkan anak itu gaya lama,ya, perlahan n sabar.

 

Trus bab thaharah juga harus dikuasai oleh kalian, banyak ibu2 yang anak2nya mau pipis malah langsung dibuka celananya saat itu juga., harusnya dibawa ke tempat tertutup baru dibuka, ini mengajarkan agar menutup aurat. Itu dr kecil itu diajarkannya. Bahkan ketika bayi pun ketika ia pipis atau BAB biasakan kita permisi cari tempat tertutup n tanpa terlihat banyak orang, sekalipun di depan temen2 liqo ya. Sampai kita bilang ke anak kita “ tutup dulu ya, malu nih”

Sy juga ngajarkan kalo bersihin stelah BAB ajarkan utk menyiram minimal 3x, trus kaki disiram lagi. Kalian tau? Banyak org terjerumus api neraka karena air seni? Itu ada haditsnya ya n itu krn ga diajarkan sejak kecil.

Termasuk menyusui, saya waktu itu menyusui di motor sambil dibonceng suami saya dan anak saya sudah lapar, ya sudah sambil diberi saja dibalik kerudung. Tapi tidak saya biasakan ya kecuali darurat.

Nah bab NAJIS juga harus kalian kuasai ya, ajarkan ketika pipis itu adalah najis. Kan ada anak2 yang pipis sambil lari2 dan kita ajarkan supaya ga lari kmana2. Nggak ada kurikulumnya ya ilmu ini ya? Makanya ibu tuh kalo sdh mau punya anak itu seperti guru ya

Kemudian setelah bab najis, bab sholat. Kapan kita mulai mengajarkan sholat? Itu saya baca dari buku ketika anak sudah bisa membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Tapi sebisa mungkin ketika mereka masih bayi mereka diikutsertakan ya. Ada juga yang ketika sedang sholat ibunya diganggu oleh anaknya ya, nah ini adalah ujian ya. Kita doakan saja kemudian kita ajarkan perlahan ketika anak berbuat seperti ini. Murabbi saya ya, itu punya satu anak kalo umminya lagi sujud itu disiram air. Selalu itu tiap sholat. Kan jadi nggak khusyuk, dan beliau sabar sekali. Itu mukena sampe coklat2 karena disiram teh. Trus murabbi saya hanya istighfar saja dan bersabar, insyaAllah akan berhenti sendiri. Padahal itu sudah dibilangi setiap hari itu, tapi tetap saja dan akhirnya setelah setahun baru berhenti. Ini murabbi teladan bagi saya ya, beliau ini mutarabbinya bu Yoyoh Yusroh. Contohnya luar biasa sebagai murabbi. Beliau kenceng sekali dalam mengingatkan anak2nya sholat, selalu mengingatkan sholat di awal waktu. Beliau itu tegas bukan marah, selalu tak-tak-tak, tapi tidak pernah naik.

 

Bab puasa juga harus kita ajarkan, nah ini kapan mulai ngajarkan? Pas lagi dalam kandungan. Anak saya, mereka ini saat sudah besar mudah sekali puasa. Sejak usia 4 tahun mereka sudah puasa ramadhan, ada yg lgs 1 hari full ada yg setengah hari,  keliatannya ekstrim ya, tapi menurut saya tidak. Ada juga yg senang puasa Daud dan sunnah senin kamis. Nah ini krn sy masih hamil sering puasa, semakin tua kehamilan semakin sering puasa, bayi kita juga diajak puasa sambil bilang ke bayi kita, “sekarang ummi lagi puasa senin-kamis nih”. Makanya anak2 saya pas udh besar2 mudah sekali puasa. Tapi jangan dipaksakan juga ketika lagi hamil n sakit untuk berpuasa, tetap lihat kondisi kita.

 

Bersedekah juga kita ajarkan ya kepada anak2, biasakan kalo kita mau kasih orang suruh saja anak kita untuk yang memberi langsung. Saya juga ajarkan kalo sedang kasih sambil berdoa kepada Allah, “ya Allah sy ingin jd anak sholeh, bla,.bla”. itu saya ajarkan itu dr kecil. Doa’-doa yang kita ajarkan adalah doa doa sederhana, itu harus kita ajarkan. Itu bab din ya, tolong dipersiapkan ya sebaik-baiknya, sedini-dininya. Termasuk bab menutup aurat

Bagaimana mungkin anak kita akan menutup aurat kalo mereka tidak melihat ortunya baik menutup auratnya. Banyak anak2 yang lepas jilbab begitu sampai di rumah setelah sekolah ya itu karena ortunya tidak memakai jilbab. Anak saya suka cerita, “kok anak itu suka ga pake jilbab ya mi?” karena yang mereka tahu adalah jilbab itu dipakai dari kecil. Maka kalo ada yg tanya ke saya, “kapan anak dijilbabi?” itu mulai umur 2 minggu. Terlalu dini ya? Kan jilbab itu hangat, dan kulit2 kepala itu kalo sudah biasa ditutup, suatu saat terbuka malah akan merespon dan akan risih. Saya tidak mengatakan kepada mereka kalo di surat al ahzab, bla-bla, nanti di neraka, kulit kepala dan rambut kalian akan ditarik2, mereka malah akan takut kalo dibilang seperti itu, makanya harus dibiasakan. Anak2 saya bahkan tidur itu nggak lepas jilbab. Anak2 saya kalo lepas jilbab itu di kamar, itu saya nggak nyuruh karena mereka liat saya kalo lepas jilbab tempatnya di kamar. Ada anak kecil yang kalo datang ke rumah siapa saja langsung buka kerudung, itu karena konsepnya bukan buka di ruangan tapi di rumah. Saya karena di rumah ada keponakan saya ya, akhirnya ya saya rapet, mereka juga (anak saya) pasang jilbab rapat. Saya hanya ngajarkan kalo tidak boleh terlihat laki-laki. Saya cuma ngajarkan yang boleh melihat hanya ayah dan kakak laki2.

Nah trus liat anak2 SMA skrg, mereka pake rok tapi tidak pake dalaman, nah ini hrs dibiasakan dr kecil. Kalo pake rok, hrs ada celananya. Makanya cucian saya banyak sekali. Tp mereka sudah dibiasakan sehingga tidak risih dan gerah.

Sekian. Wassalamu’alaykum semoga bermanfaat bagi para ukhtifillah calon ibu-ibu cerdas :)