Inspirasi Darah, Luka, dan Perih

Malam ini saya ingin berbagi sedikit hikmah yang baru saja saya alami malam ini. Semoga jari ini tak tergesa-gesa mengingat masih banyak deadline lain yang harus dikerjakan untuk esok hari hehe (ceritanya curhat)

Tulisan ini saya persembahkan untuk ikhwahfillah yang sama-sama mempunyai misi untuk selalu mengingatkan di jalan kebenaran, jalan cahaya. Tulisan ini juga saya buat untuk ikhwahfillah yang mungkin sudah hampir muak atau lelah dengan jalan ini, jalan untuk selalu mengingatkan dan menyeru kepada Allah.

***

Darah, perih, luka. Hal itulah yang mengingatkan saya pada kondisi saya malam ini, kondisi dimana saya hampir berputus asa dan mengeluhkan keadaan akan kebathilan, mengeluhkan keadaan mengapa berdakwah atau sekedar mengingatkan itu sulit.

Darah, beberapa waktu ini sudah dua kali jari-jari saya terkena sayatan mata pisau dan cutter, maklum, anak arsitektur suka berurusan dengan barang-barang tajam. Perih yang saya rasakan karena luka sudah cukup membuat diri ini mengerutkan dahi. Disini bukan poin darah atau luka ataupun perih yang saya ambil sebagai fokus pembicaraan namun dari ketiga hal tersebut, saya mendapat hikmah dan jawaban luar biasa atas keputusasaan dan keluhan akan keadaan di luar sana.

Ya, kunci jawabannya adalah pengorbanan.

Sesaat setelah darah mengucur dari jari, saya hanya bergumam dan sedikit mengeluhkan sakit sebelum saya sempat berpikir, “baru begini aja udah kesakitan, gimana kalau badan yang disayat atau dipotong?”.

Saya kembali bergumam,

“apa rasanya kalo jadi pejuang di medan perang, syahid syahidah?”

“apa rasanya ketika menjadi sahabat yang rela ditusuk banyak anak panah demi melindungi Rasul (SAW)”

“apa rasanya menjadi Rasulullah yang setiap harinya mendapat ancaman, ditimpuki batu hingga tanggal giginya, dilempari kotoran, bersimbah darah karena berjihad?”

“tak usah jauh-jauh lah melihat ke belakang, liat aja saudara-saudara kita di Palestin yang masih berusaha menjaga Masjidil Aqsa. Bagaimana rasanya?”

Ya, pengorbanan. Satu kata yang menjadi tujuan, Allah…Allah…Allah…

“Qul Inna sholaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi robbil ‘alamiin”

Say, “Indeed, my prayer, my rites of sacrifice, my living and my dying are for Allah , Lord of the worlds.

Al-An’am 162

 

Rasanya seperti ditampar-tampar, seketika langsung bercermin melihat diri ini yang belum ada apa-apanya. Dalam berkorban, beribadah, berkehidupan, bergaul, bekerja, dll.

“Apakah saya siap menerima ujian seperti teman-teman di Palestin?

Apakah saya siap menerima ujian seperti saudara-saudara di Mesir?

Apakah saya siap menerima ujian seperti teman-teman di Afrika?”

Allah, betapa pengorbanan ini belumlah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan umat Muhammad SAW yang selalu ada di garda terdepan dalam membela dan menyeru nama-Mu. Bahkan rasanya belum ada perih yang benar-benar terasa dalam membela syariat-Mu, dalam memperjuangkan agama-Mu ini, Allah..

Semoga Engkau kuatkan hati ini pada jamaah yang selalu menyeru pada jalan-Mu. Semoga Engkau kuatkan hati ini yang sering menyerah karena lelah semu. Semoga Engkau kuatkan hati ini dalam mengingatkan dengan Quran-Mu dan sunnah Rasulullah SAW.

 

Sedikit syair dari Izzatul Islam, semoga selalu bangkitkan semangat tuk senantiasa menyeru di jalan-Nya..

 

Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi

Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu

Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu

Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani..

“Akulah Madrasah Anak-anakku”

Kajian Parenting

“Akulah Madrasah Anak-anakku”

Oleh Ustadzah Nunung Bintari

 Gambar

“Saya dilamar semester 5 ya”. Maka persiapan lebih dini itu jauh lebih baik. Karena ilmu itu memang harus lebih dini. Banyak anak perempuan usia 10-11 tahun sudah haid, bayangkan kalo ibu tidak membekali anaknya dengan ilmu haid. Bagaimana anak umur 10 tahun sudah harus menutup aurat, biasanya ibu2 bilang “masih kecil kok” padahal ini bahaya.

Ya memang kalo jadi ibu tuh harus belajar banyak banget ya, ilmu diniyahnya harus luar biasa. Kalo ilmu2 yang lain bisa belajar kita ya insya Allah ya. Tapi kalo ilmu agama ni, banyak sekali orang tua yang tidak bisa malah memasukkan ke madrasah2 sehingga yang namanya madrasah itu laris manis ya. Ini berangkat dari orang tua merasa tidak mampu, tapi mereka juga lupa anak2 mereka dilepas di sekolah, ga di follow up di rumah, sehingga anak2 hanya dibekali ilmu jasadi n aqli, tidak dibekali ilmu ruhani.

Kalo kalian kenal dengan hadits “al ummu madrosatun” yah? tapi ini tidak populer di kalangan ibu-ibu, sehingga banyak ibu-ibu jadi nggak perhatian tentang pendidikan agama anak.

Islam jauh lebih memuliakan kita sebagai seorang ibu tanpa harus teriak2 soal feminisme. Allah sudah jauh memuliakan kita lebih dulu.

Nah gaya seorang ibu mendidik ini sudah dipaketkan oleh Allah. Sehingga muncullah kalian dengan karakter beda-beda. Gaya anak seperti preman juga ada, bahkan anak kecil sudah dipasangkan tato ya walau tidak permanen, ada juga anak di cat rambutnya padahal baru 4 tahun. Beginilah, kalo setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya lah yang mengacaukan, yang membuat tulisan-tulisan itu adalah ortunya.

Nah kalo ortu yang dikangeni pertama siapa? Bunda. Makna cerewetnya bunda memang memberikan pelajaran luar biasa. Makanya nanti kalo jadi ibu cerewet aja biar diingat anaknya.

“Ibu itu bagaikan sekolah, jika engkau mempersiapkannya, berarti engkau telah mempersiapkan rakyat  yang baik akhlaknya.

Ilmu itu bagaikan kebun, jika engkau rawat sifat malu, dengan selalu disirami maka akan menumbuhkan daun segar tak layu

Ibu sangat mulia, bagaikan gurunya para guru. Pengaruhnya menembus segala penjuru”

 

Ada sebuah kisah, da’i da’i cilik yg ada di TV, saya kagum sekali sudah bisa tampil depan publik. Ada anak namanya ahmad, ketika ditanya “kenapa kamu ikut kompetisi ini?” yang lain blg “disuruh abi. Umi,” rata rata jawabnya disuruh nah Ahmad ini beda, ia menjawab, “ Al Ajr Indallah, saya hanya mengharapkan balasan dari Allah”, satu2nya peserta dai cilik yg jawab gt. Ini satu anak 12 tahun, kita belum liat lagi anak2 di Palestin ya. Usia 10 thn berani melawan tentara Israel seakan2 ia pejuang usia 20 tahun. Ia tidak takut dengan mereka, ia hanya takut dengan Allah. Bagaimana tidak? Ibunya membekali dengan Quran. Bahkan ibunya membekalinya dengan batu untuk menghadap tentara Israel.

Ketika ustz yoyoh yusroh ke Palestina dan ditanya punya anak brp? “13”. Kata mereka “subhanallah”. “sdh brp yg hafal quran?” sudah ada beberapa kalo tidak salah, namun memang belum banyak. “subhanallah banyakkan anakmu,” Klo di Palestin anaknya bisa kembar 4 karena memang banyak yang syahid dan banyak yg maju ke medan perang. Kalo 10 anak disini udh dianggap banyak sekali, padahal disana dikit, biasanya 15, 13 anak itu sudah biasa. Istri2 menteri disana pun pakaiannya sederhana sekali. Mereka itu memberikan contoh pada generasi di bawahnya.

Kalo disini sudah 2 anak mengeluh repot, ya jadi repot betul karena sudah bilang dari awal.

Apa yang diajarkan ibu saya? Banyak sekali

Ajaran ibu tuh terngiang waktu sudah punya anak. Ibu saya dulu ngingatkan klo cuci piring dahulukan gelas, padahal ga ada ya teorinya? Knp gelas dulu? Supaya tidak terkena amis. Habis itu baru sendok, dan sebelum cuci piring itu ditata dulu. Piring dengan piring, gelas dengan gelas, sendok dengan sendok baru boleh cuci, dan tidak boleh adu dan berbunyi. Cara jemur, masak, diajarin. Cara motong bayam, kacang panjang. Saya hanya tidak diajarkan cara memandikan bayi, memang perlu ada nih pelatihannya. Bagaimana cara untuk membalik bayi, itu ada tekniknya itu lho. Kalo salah itu bisa nyemplung lho itu bayi dan itu ada tekniknya, saya berlatih itu.

Kalo misalnya besok kalian dilamar dan menikah kemudian langsung punya anak, kalian siap ndak? InsyaAllah siap. Nah bagus itu jawabannya. Ketika kita menyiapkan lebih dini itu lebih baik.

Apa yang akan kita bekalkan? Yang pertama itu ilmu din (agama) karena kita akan mengajarkan banyak hal tentang kecintaan kita kepada Allah SWT. Saya juga akan mengisi kajian tentang bagaimana mengajarkan shahabiyah shahabah lewat buku kepada anak-anak.  Ini bagus sekali ya.

Ilmu din harus dibekali dari sekarang, terutama tentang Quran. Bisa lewat guru akan tetapi lebih afdhol dengan ibunya sendiri. Ada seorang anak umur 5 th sudah hafal quran beserta terjemahannya. Itu persiapannya luar biasa ya nggak main2. Karena bapaknya hafidz, ibunya hafidzoh, pokoknya sejak mereka mau menikah mereka sudah menginginkan anaknya hafal quran, begitupun suaminya sebelum nikah juga ingin punya istri hafidzoh makanya anak umur 5 tahun sudah hafal ya. Karena mereka tiap hari murajaah bergantian ya, setiap hari 30 juz.

Akhwatifillah, makanya kalian sudah harus menguasai tajwid ya agar bisa mengajarkan ke anaknya, dan anti harus sabar karena mengajarkan itu sulit. Ilmu alquran ini harus dikenalkan sejak dini. Kalo ustz yoyoh yusroh kasih hadiah ke anak2nya satu anak satu alquran, sehingga mereka punya alquran favoritnya satu2. Dan subhanallah ketika saya hadiahkan alquran pada anak2 mereka bangga ya seperti sudah besar karena sudah dikasih quran sama ummi. Kalo memang kita tidak bisa memenuhi untuk ngajar sebaiknya kita panggil guru. Bukan hanya pintar tapi kita harus pandai mentransfer ilmu karena anak2 berbeda. Dan anak saya sudah diajarkan hafal al-baqoroh karena memang al-baqoroh adalah kunci menghafal surat2 lainnya agar lebih mudah. Kalo bentak2 dan tidak sabar dalam ngajarkan anak itu gaya lama,ya, perlahan n sabar.

 

Trus bab thaharah juga harus dikuasai oleh kalian, banyak ibu2 yang anak2nya mau pipis malah langsung dibuka celananya saat itu juga., harusnya dibawa ke tempat tertutup baru dibuka, ini mengajarkan agar menutup aurat. Itu dr kecil itu diajarkannya. Bahkan ketika bayi pun ketika ia pipis atau BAB biasakan kita permisi cari tempat tertutup n tanpa terlihat banyak orang, sekalipun di depan temen2 liqo ya. Sampai kita bilang ke anak kita “ tutup dulu ya, malu nih”

Sy juga ngajarkan kalo bersihin stelah BAB ajarkan utk menyiram minimal 3x, trus kaki disiram lagi. Kalian tau? Banyak org terjerumus api neraka karena air seni? Itu ada haditsnya ya n itu krn ga diajarkan sejak kecil.

Termasuk menyusui, saya waktu itu menyusui di motor sambil dibonceng suami saya dan anak saya sudah lapar, ya sudah sambil diberi saja dibalik kerudung. Tapi tidak saya biasakan ya kecuali darurat.

Nah bab NAJIS juga harus kalian kuasai ya, ajarkan ketika pipis itu adalah najis. Kan ada anak2 yang pipis sambil lari2 dan kita ajarkan supaya ga lari kmana2. Nggak ada kurikulumnya ya ilmu ini ya? Makanya ibu tuh kalo sdh mau punya anak itu seperti guru ya

Kemudian setelah bab najis, bab sholat. Kapan kita mulai mengajarkan sholat? Itu saya baca dari buku ketika anak sudah bisa membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Tapi sebisa mungkin ketika mereka masih bayi mereka diikutsertakan ya. Ada juga yang ketika sedang sholat ibunya diganggu oleh anaknya ya, nah ini adalah ujian ya. Kita doakan saja kemudian kita ajarkan perlahan ketika anak berbuat seperti ini. Murabbi saya ya, itu punya satu anak kalo umminya lagi sujud itu disiram air. Selalu itu tiap sholat. Kan jadi nggak khusyuk, dan beliau sabar sekali. Itu mukena sampe coklat2 karena disiram teh. Trus murabbi saya hanya istighfar saja dan bersabar, insyaAllah akan berhenti sendiri. Padahal itu sudah dibilangi setiap hari itu, tapi tetap saja dan akhirnya setelah setahun baru berhenti. Ini murabbi teladan bagi saya ya, beliau ini mutarabbinya bu Yoyoh Yusroh. Contohnya luar biasa sebagai murabbi. Beliau kenceng sekali dalam mengingatkan anak2nya sholat, selalu mengingatkan sholat di awal waktu. Beliau itu tegas bukan marah, selalu tak-tak-tak, tapi tidak pernah naik.

 

Bab puasa juga harus kita ajarkan, nah ini kapan mulai ngajarkan? Pas lagi dalam kandungan. Anak saya, mereka ini saat sudah besar mudah sekali puasa. Sejak usia 4 tahun mereka sudah puasa ramadhan, ada yg lgs 1 hari full ada yg setengah hari,  keliatannya ekstrim ya, tapi menurut saya tidak. Ada juga yg senang puasa Daud dan sunnah senin kamis. Nah ini krn sy masih hamil sering puasa, semakin tua kehamilan semakin sering puasa, bayi kita juga diajak puasa sambil bilang ke bayi kita, “sekarang ummi lagi puasa senin-kamis nih”. Makanya anak2 saya pas udh besar2 mudah sekali puasa. Tapi jangan dipaksakan juga ketika lagi hamil n sakit untuk berpuasa, tetap lihat kondisi kita.

 

Bersedekah juga kita ajarkan ya kepada anak2, biasakan kalo kita mau kasih orang suruh saja anak kita untuk yang memberi langsung. Saya juga ajarkan kalo sedang kasih sambil berdoa kepada Allah, “ya Allah sy ingin jd anak sholeh, bla,.bla”. itu saya ajarkan itu dr kecil. Doa’-doa yang kita ajarkan adalah doa doa sederhana, itu harus kita ajarkan. Itu bab din ya, tolong dipersiapkan ya sebaik-baiknya, sedini-dininya. Termasuk bab menutup aurat

Bagaimana mungkin anak kita akan menutup aurat kalo mereka tidak melihat ortunya baik menutup auratnya. Banyak anak2 yang lepas jilbab begitu sampai di rumah setelah sekolah ya itu karena ortunya tidak memakai jilbab. Anak saya suka cerita, “kok anak itu suka ga pake jilbab ya mi?” karena yang mereka tahu adalah jilbab itu dipakai dari kecil. Maka kalo ada yg tanya ke saya, “kapan anak dijilbabi?” itu mulai umur 2 minggu. Terlalu dini ya? Kan jilbab itu hangat, dan kulit2 kepala itu kalo sudah biasa ditutup, suatu saat terbuka malah akan merespon dan akan risih. Saya tidak mengatakan kepada mereka kalo di surat al ahzab, bla-bla, nanti di neraka, kulit kepala dan rambut kalian akan ditarik2, mereka malah akan takut kalo dibilang seperti itu, makanya harus dibiasakan. Anak2 saya bahkan tidur itu nggak lepas jilbab. Anak2 saya kalo lepas jilbab itu di kamar, itu saya nggak nyuruh karena mereka liat saya kalo lepas jilbab tempatnya di kamar. Ada anak kecil yang kalo datang ke rumah siapa saja langsung buka kerudung, itu karena konsepnya bukan buka di ruangan tapi di rumah. Saya karena di rumah ada keponakan saya ya, akhirnya ya saya rapet, mereka juga (anak saya) pasang jilbab rapat. Saya hanya ngajarkan kalo tidak boleh terlihat laki-laki. Saya cuma ngajarkan yang boleh melihat hanya ayah dan kakak laki2.

Nah trus liat anak2 SMA skrg, mereka pake rok tapi tidak pake dalaman, nah ini hrs dibiasakan dr kecil. Kalo pake rok, hrs ada celananya. Makanya cucian saya banyak sekali. Tp mereka sudah dibiasakan sehingga tidak risih dan gerah.

Sekian. Wassalamu’alaykum semoga bermanfaat bagi para ukhtifillah calon ibu-ibu cerdas :)

 

 

Sampai Ruh Tiba di Tenggorokkan

Allah, aku ingin menjadi penjaga kalam-Mu yang bersahaja

Membawa secuil kasih sayang-Mu pada dunia

 

Allah terimakasih pengingatannya. Tulisan panjang sebelumnya yang gagal kuselesaikan malam ini adalah bukti kasih sayang-Mu dan bukti untuk menjaga kemurnian niatku dengan Quran-Mu

 

Hari ini aku berharap, selama darah masih mengalir di sekujur tubuh, selama jantung masih berdetak, selama nafas masih berembus, agar Allah perkenankan diri ini, diri yang masih hina dina dan lalai ini, untuk selalu dekat dan menjaga kalam-Nya.

Hari ini aku berharap untuk selalu dekat dengan kalam-Nya dan menjaga kalam-Nya sampai saatnya ruh tiba di tenggorokan.

Wallahua’alam bisshawab 

They are homeless, what about us?

Gambar

                Kursi yang kududuki cukup keras namun cukup membantuku agar tas yang kutopang di bahuku terasa lebih ringan. Angin malam ini cukup dingin mengingat hujan yang baru saja mengguyur kota ini, kota Bekasi, tempat aku dibesarkan. Baru sebentar aku menghela nafas, tak jauh dari sampingku kulihat sesosok tubuh meringkuk di sepanjang kursi yang kududuki. Tubuh itu ternyata milik seorang bocah yang sedang tertidur pulas meniti alam mimpinya. Aku terdiam. Bajunya lusuh, mungkin tak pernah diganti. Kemudian aku menggeser pandanganku pada tangannya, tangan mungilnya yang penuh dengan luka, sama halnya dengan telinganya, penuh luka yang tengah mengering. Belum sampai selesai mengerutkan dahi, kulihat kakinya yang kecil, tulangnya jelas terlihat, melekat pada dagingnya yang cuma sedikit. Aku kembali menghela nafas dan memalingkan muka.

                Sesak rasanya, sesak betul dada ini melihatnya. Di malam sedingin ini, seramai ini, ia masih bisa tidur di atas kursi yang keras dengan kondisi tubuh yang lemah dan kurus. Air mataku tak bisa keluar, lidahku tercekat. Selang beberapa detik kemudian, selintas perkataan Allah hadir dalam benakku, “Wa laa tahaadduna ‘ala tho’amil miskiin”.

                Bam! Semakin sesak dada ini. Sungguh aku merasa bersalah sekali jika tak menolongnya. Aku semakin sesak kala melihat manusia lain di sekitarnya hanya terdiam, tak ada wajah yang merasa harus mendekati atau setidaknya iba pada adik ini. Apa yang terjadi pada ummat ini? Ummat yang katanya menjunjung tinggi rasa hormat dan tolong menolong?

                Allah.. apakah kami terlalu sibuk menghitung harta atau terlalu silau dengan dunia sehingga mereka luput dari mata hati kami?

                “Ketidakmauan saling menganjurkan dan saling berpesan untuk memberi makan kepada orang miskin ini, dianggap sebagai keburukan yang sangat mungkar. Al-Qur’an memberikan arahan betapa perlunya melakukan kesetiakawanan terhadap jamaah, dan diajurkannya mereka untuk menunaikan kewajiban dan melakukan kebaikan umum. Demikianlah di antara sifat ajaran Islam.

                Sesungguhnya kamu tidak mengetahui makna ujian. Karena itu, kamu tidak berusaha untuk dapat lulus dalam ujian ini, dengan memuliakan anak yatim dan saling berpesan untuk memberi makan kepada orang miskin. Bahkan sebaliknya, kamu memakan harta pusaka dengan loba dan rakus, dan kamu mencintai harta benda secara berlebihan. Sehingga, tidak ada lagi di dalam hatimu rasa kasih sayang dan penghormatan terhadap orang orang yang perlu dimuliakan dan diberi makan” (Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an hal. 266 Surat Al Fajr ayat 17-20)

 

17. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim

18. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

19. dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

20. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

(Q.S  Al-Fajr : 17-20)

Kenapa Harus “Hollywood”?

Gambar

“Kenapa Harus Hollywood? Kenapa harus mereka?”,

“Why? Why? Why?”

Pertanyaan itu terus bergentayangan beberapa waktu belakangan. Ya, “mengapa harus hollywood?” “Kenapa harus Barat?”

Kenapa? Kenapa?

Hollywood dan negeri “Barat” mungkin sudah jadi bagian dari hidup kita, bahkan hampir seluruh umat manusia di muka bumi ini kenal yang namanya “Hollywood”. Ohya, Hollywood yang dimaksud dalam tulisan ini adalah industri perfilman Hollywood beserta aktris, penyanyi, dan segudang industri hiburan lain di dalamnya. Bukan ingin menyalahkan Hollywood, namun sekarang saya ingin mencoba mencari tahu mengapa kiblat kita – para remaja dan kaum muda, adalah Hollywood dan segala industri hiburan di Amerika. Kita banyak melihat anak muda saat ini lebih memilih mengagungkan para aktris dan aktor keluaran Hollywood ketimbang yang lain.

Apa buktinya?

Pertama, Fashion dan Lifestyle. Fashion, sudah menjadi “icon” dan “jatidiri” dari seseorang, oleh karena itu seorang manusia akan perhatian betul dengan apa yang ia kenakan karena pakaian yang ia pakai menjadi salah satu cerminan dirinya, meskipun di beberapa kasus, banyak yang berusaha melakukan “kamuflase jati diri” melalui fashion. Yang terjadi saat ini adalah gaya berpakaian kita, khususnya anak muda, kebanyakan berkiblat pada Hollywood dan atau Barat. Dan sekali lagi, kenapa harus mereka?

Yap, dunia pasca revolusi industri memang penuh trik dan siasat. Amerika sebagai salah satu negara superpower yang dielu-elukan, dianggap sebagai negara dengan fashion paling Up To Date . Industri fashion mereka sudah lama menggunakan artis hollywood, penyanyi ternama sebagai icon brand mereka. Mereka juga berlomba-lomba menjadi sponsor para aktris dan aktor terkemuka yang seringkali rela “menjual” tubuh mereka demi mendapatkan popularitas serta kekayaan tentunya. Dan kita, sebagai manusia “biasa”—yang notabenenya adalah manusia biasa, adalah korban para dalang industri fashion. Nah, sampai disini coba kita bertanya lagi. Kenapa harus Hollywood? Kenapa harus mengikuti mereka?

Kita yang mengelu-elukan para aktris dan aktor hollywood lah sebenarnya yang sedang ‘disihir’ oleh para pelaku industri fashion. Kita dibuat menggilai mereka dengan fashion yang begitu modis dan memukau. Strategi “Celebrity Branding” yang menjadi senjata mereka, sangat ampuh untuk menyihir kita— the followers. Mereka menyihir kita melalui media, mulai dari televisi, video musik, film, papan jalan, koran, majalah, dan masih banyak lagi. Pakaian minim, ketat, tembus pandang, bahkan menjadi pakaian yang didambakan dan digandrungi semua kaum mulai dari muda hingga dewasa—mungkin juga yang  sudah lanjut usia. Semua berlomba-lomba untuk menyamai para seleb, mulai dari kalangan biasa sampai tingkat atas seperti para pelakon hiburan. Lantas, sekali lagi. Untuk apa? Kenapa harus seperti mereka?

                Kedua, setelah fashion, ada bukti lainnya yaitu Lifestyle. Gaya hidup atau Lifestyle sangat erat kaitannya dengan fashion. Bahkan saking eratnya, lifestyle dan fashion ini disandingkan bersamaan dalam satu mata ajar dalam kuliah saya yang  judulnya “Fashion dan Gaya hidup”. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, fashion memengaruhi dan mencerminkan siapa diri kita, karakter kita, bahkan hingga perbuatan dan kegiatan kita sehari-hari. Gaya hidup, yang juga tidak terlepas dari fashion, banyak yang berkiblat pada hollywood dan barat. Kebanyakan kita mengikuti gaya hidup mereka, mulai dari tontonan sehari-hari, kegiatan-kegiatan mulai dari nongkrong, merokok, berbelanja secara brutal, pergi ke kedai dan restoran-restoran, pesta pora, minum, sampai  seks. So, why? Kenapa sih? Apa kerennya untuk terlihat seperti mereka?

                Sekarang, coba kita pahami, mengapa manusia di dunia ini senang berkiblat pada Barat? Mengapa kita senang sekali bahkan sampai mati-matian menggilai mereka, gaya hidup yang tinggi sampai gaya berpakaian mereka?

                Dua dari sekian hal yang sangat mungkin menjadi faktor pemicu terjadinya kasus “peniruan” atau “ikut-ikutan” disini adalah kesenangan dan popularitas dalam tiap-tiap manusia. Tentu saja manusia suka kesenangan! Coba kita lihat, siapakah manusia yang senang dalam kesulitan? Eits, nanti dulu. Definisi kesenangan bagi kamus “dunia” itu memang segala hal yang kasat mata dan dapat dirasakan semisal harta, tahta, dan pasangan. Sebaliknya, kesenangan sebenarnya bisa berarti kesukaan dalam kesempitan. Sebagai contoh, seorang teman yang sewaktu itu sempat menginap di sebuah rumah di desa bersama-sama penghuninya mengatakan, “gue seneng banget bisa makan bareng-bareng sama mereka, walaupun cuma sama ikan teri sama sayur, beda rasanya kalo makan di rumah, makanannya enak, tapi gue makan sendirian”. Nah! Kasus “kesukaan dalam kesempitan” ini sebenarnya banyak terjadi namun jarang sekali yang bisa memaknai. Yang ada dan terjadi di era ini hanyalah kita dicekoki definisi “kesenangan” oleh para dalang perindustrian yang licik. Kesenangan adalah fashionable, kesenangan adalah pesta, kesenangan adalah makanan, kesenangan adalah boros, kesenangan adalah ini dan itu, kesenangan adalah bla bla dan segala hal yang berbau material.  So why?

                Faktor kedua yang mungkin muncul adalah, popularitas. Dalam artikel berjudul “The Society of Spectacle” atau “Masyarakat Tontonan” oleh Guy Debord, kita diperingatkan betul bahwa kondisi masyarakat abad ini adalah masyarakat yang ingin dilihat, yaitu masyarakat tontonan. Semua yang kita kenakan, makan, lakukan, dilakukan untuk menjadi tontonan. Kita ingin seperti artis, ditonton oleh banyak orang dari kursi penonton. Atau ingin seperti penyanyi, model, dan semua hal yang berbau popularitas. Oleh karena ingin ditonton, kita rela mati-matian membeli baju-baju, makanan, rumah, seperti para artis, penyanyi, atau orang kelas atas yang tinggi status sosialnya. Semua ingin dilihat, semua ingin terlihat. So why?

                Adakah sedikit keuntungan dari menjadi salah satu ‘pengikut’ mereka? Adakah?

                Jika kesenangan adalah hal-hal yang berbau materialisme, maka kesenangan itu akan cepat buyar. Baju. Makanan. Popularitas. Semua itu adalah hal yang bersifat temporer. Kita hanyalah korban dibalik strategi marketing dari perindustrian dunia ini. Lihat saja banyak industri semakin lama semakin berani memakai unsur pornografi sebagai alat pemasaran produk mereka sehingga kita terus dicekoki dan terjebak pada produk-produk yang merusak moral dan karakter. Begitu pula dengan artis, aktor, penyayi, dan orang-orang dengan status sosial yang tinggi, mereka semua alat untuk memasarkan produk mereka.

                So Why? Kenapa kita masih saja tergiur dengan ‘kesenangan’ dan ‘popularitas’ yang semu?

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al-An’am : 116)

 

“Kiamat ini tidak akan terjadi sampai umatku kelak meniru bangsa¬bangsa sebelumnya seperti sama persisnya jengkal dengan jengkal dan hasta dengan hasta. ” Maka, ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, seperti bangsa Persia dan Romawi?” Beliau bersabda: “Siapakah manusia itu selain mereka?” (HR. Bukhari (7319) Al-I’tisham bil-Kitab was-Sunnah). 

Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id: “Kami bertanya kepada Rasulullah: “Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa (jika bukan mereka) ?” (HR. Bukhari (3456) Muslim (2669.

‘Abdan Syakura

Pernah sekali melihat postingan menarik dari seorang senior mengenai “‘abdan syakura”, waktu itu saya masih belum tahu betul makna dari ‘abdan syakura sehingga hal tersebut membuat saya terpaksa surfing dan cari-cari di Al-Qur’an. Isi postingannya kurang lebih mengenai senior saya yang sedang merasa futur. Di tulisan tersebut ia memaparkan bagaimana ia — sebagai seorang muslim yang pada dasarnya sangat taat, sedang dilanda kegelisahan jauh dari rasa bersyukur pada Allah dan di akhir tulisan tersebut bahwa Allah akhirnya mengingatkannya untuk selalu menjadi ‘abdan syakura yang taat.

 

Belajar dari tulisannya, saya baru sadar. Belakangan ini saya sibuk. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, tugas, dan segala hal yang berbau duniawi dan hablum minannaas. Alhamdulillah saya sempat diingatkan oleh Allah melalui tulisan tersebut, Saya yang kemarin (insyaAllah hari ini dan seterusnya semoga tidak  lagi) sedang di bawah dan terasa betul dampaknya. Jauh dengan Allah, sedikit meresapi kalam-Nya. Ruh ini rasanya kering, tak ada asupan. Tubuh ini kelelahan, ia bekerja tanpa ruh yang “sehat”. Ia tak merasakan kenikmatan bersama ruh yang benar-benar hidup.

 

Semua ‘ulama setuju bahwa setiap insan pastilah naik turun kadar keimanannya, tinggal bagaimana kita terus tetap menyadari dan senantiasa berdoa pada Allah yang mebolak balikkan hati agar senantiasa menunjukkan kita pada jalan kebenaran.

 

Rasa syukur ini kemarin tidak diwujudkan dalam kenikmatan beribadah dan berduaan dengan-Nya. Kita semua tahu, rasa syukur bukan hanya terucap dalam kata tapi diwujudkan dalam amal ibadah pula. Seperti Rasulullah SAW yang selalu mewujudkan rasa syukurnya melalui ibadah sholat, puasa, zakat, serta ibadah-ibadah lainnya yang berhubungan dengan makhluk-Nya. Rasulullah SAW yang setiap malam memikirkan kita dan takut akan azab Allah dalam setiap sholat malamnya, itu semua perwujudan Rasul SAW dalam bersyukur kepada Allah. Rasa syukur yang tidak pernah terhenti dalam masa kerasulannya, Muhammad SAW, Sang Kekasih Allah.

 

Mari belajar untuk senantiasa menjadi ‘abdan syakura, hamba yang bersyukur..

Akhirnya!

Akhirnyaaaa! 2 Bulan tidak menulis disini, dan akhirnyaaa bisaaa :’D

Let me express lebay for a sec, kyaaaaa :3

Hehehe siap menulis lagi berbagi pengalaman dan hikmah

 

Musholla Teknik Fakultas Teknik UI,

Rabu, 12 ,Maret 2014

Pukul 17:37

Jika boleh saya…

Jika boleh saya mendeskripsikan cinta, kini izinkan saya membahasnya.

Walau bukan expert mengenai hal-hal berbau cinta, kini izinkan saya menggambarkannya.

CINTA, sebuah kata yang tak pernah habis tuk dibahas

CINTA, bukan saja soal rasa antara dua insan manusia,
CINTA juga milik Tuhan Yang Satu kepada hamba-hamba-Nya
CINTA juga milik Ibu pada buah hatinya
CINTA juga milik anak pada orang tuanya
CINTA juga milik sahabat pada sahabatnya
CINTA juga milik semua!

CINTA, bagiku cinta itu layaknya gelombang tenang di dalam air — arusnya tenang, tak terlihat, hangat
CINTA, seperti gelombang tenang di dalam air, pabila melihat gelombang itu dari atas permukaan, maka cinta kan sulit dirasakan, sulit ditebak kemana arahnya,
namun, pabila kita ingin merasakannya, maka kita hanya perlu melihat lebih dalam, cobalah celupkan tubuh kita ke dalam air, agar kita tahu, seperti apa itu CINTA

Kerapkali kita salah tentang CINTA, sulit me”rasa”kan cinta yang hadir, karena selama ini kita hanya melihatnya dari permukaan sehingga sulit dirasakan. Jika ingin merasakannya, celupkanlah mata, telinga, atau mungkin seluruh tubuh hingga hati kita, dengan ini, mungkin kita dapat merasakan cinta..

Cinta — kita hanya perlu melihat cinta lebih dalam untuk dapat merasakannya.